Twitter Facebook Delicious Digg Stumbleupon Favorites More
everyone is a reader. Some just haven't found their favorite book yet

Sunday, March 10, 2019

Ketika Literasi Menggaungkan Suara dari Marjin


Literasi tidak hanya sekadar angka prosentase dari minat baca dalam masyarakat. Pola berpikir inilah yang diangkat Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah. Melalui tesis keduanya, mereka berbicara bahwa makna literasi menjadi sangat luas ketika dihadapkan pada sosial ekonomi. Mereka mengambil studi kasus dengan pendekatan pada komunitas anak jalanan dan BMI (Buruh Migran Indonesia), atau biasa disebut TKW. Pendekatan etnografik mereka pergunakan untuk meneliti praktik literasi dalam keseharian dua komunitas tersebut, sebagai kelompok marjinal. 

"... penelitian etnografik identik dengan upaya peneliti untuk mengaburkan 'jarak budaya' dengan komunitas yang diteliti." ~ h.13. Metode yang mengharuskan Sofie  langsung berhadapan dengan anak jalanan dan Tiwik dengan para BMI, untuk memahami pola kebiasaan dan cara berpikir mereka. 

Dua kelompok ini akan dibahas secara bergantian dalam bab 2: Suara dari Jalanan, sampai dengan bab 5: Kapital Budaya dan Teks Kultural dalam Praktik Literasi Lokal. Pembahasan yang akan sangat menarik, mengingat mereka kerap dianggap sebagai sosok pinggiran yang tak kenal literasi. 

Suara dari Jalanan menjadi bab awal yang menggambarkan literasi melalui aktivitas PAUD Bestari dan pendampingan anak-anak di lampu merah supaya dapat mengikuti kejar paket. "Memberikan akses kepada mereka  untuk mendapatkan ijazah SD merupakan salah satu cara yang dianggap efektif untuk memberdayakan mereka dalam memperkuat posisi tawar dan benteng pertahanan mereka dalam menghadapi trafficking." ~ h.118

Aktivitas literasi bagi anak jalanan berarti untuk kelangsungan hidup mereka, bukan tentang kemampuan baca-tulis. Literasi juga menjadi sarana mengungkapkan pikiran dan peran mereka, yang ternyata di luar apa yang dipikirkan orang luar. Penulis juga menyampaikan bagaimana realita di lapangan tentang penyampaian materi di 'kelas' yang pastinya tidak sekaku kurikulum sekolah, dan sambutan anak jalanan/keluarga tentang usaha literasi yang diberikan. 


Buruh Migrain Indonesia yang lebih dikenal dengan sebutan TKW adalah komunitas kedua yang diangkat oleh Pratiwi Retnaningdyah atau Tiwik. Terlihat dari penjabaran Mbak Tiwik tentang pengaruh literasi bagi BMI sangat besar, terutama mendekonstruksi identitas mereka. "Sebenernya aku cuma mau bilang kalo babu juga bisa nulis. Jadi bukan hanya para sastrawan dengan jidat berkerut-kerut saja yang bisa" ~ Rie Rie (narasumber). Mbak Tiwik mencermati aktivitas literasi dari para BMI Hong Kong, dari perpustakaan koper, FLP Hongkong sampai aktivitas mereka nge-blog.

Melalui literasi para BMI menunjukkan bahwa stereotip bodoh, manut, kampungan yang tersemat dalam status mereka adalah SALAH. Kesangsian atas kecerdasan BMI, dilibas oleh beberapa BMI dengan praktik literasi yang dilakukan melalui blog. Tulisan tidak hanya curhatan semata, tapi juga berisikan cerpen dan opini tentang fakta di sekitar mereka.

Saya tidak dapat berkomentar banyak terkait metodologi atau teknik penelitian kedua penulis karena minimnya ilmu, tapi membaca buku Suara Dari Marjin memberikan sebuah pandangan baru tentang literasi. Minat baca tulis hanyalah sebagian kecil dari makna literasi, tapi ada makna yang lebih mendalam yaitu peran literasi terhadap kehidupan sosial budaya dalam masyarakat. 

"Kegiatan literasi yang tak hanya meliputi membaca dan menulis, tetapi juga berkreasi dengan lagu, musik, mencurahkan gagasan dalam diskusi, menjadi sarana yang efektif bagi kaum marginal untuk memahami diri dan menyatakan identitas diri mereka." ~ h.141


Judul: Suara Dari Marjin | Penulis: Sofie Dewayanti & Pratiwi Retnaningdyah | Editor : Anwar Holid | Penerbit: Rosda | Terbit: Cetakan I, Mei 2017 | Tebal: 234 hlm | Bintang:4/5
Share:

Tuesday, March 5, 2019

Budi Darma Bermain Perasaan Melalui Orang-Orang Bloomington


Orang-Orang Bloomington adalah karya #BudiDarma pertama yang saya baca. Judul buku #BudiDarma ini sudah sering saya dengar, seperti halnya dengan #Olenka. Orang-Orang Bloomington adalah kumpulan cerpen yang mengambil sudut pandang orang pertama, saya, membuat pembaca secara langsung seperti terlibat di dalam ceritanya.

Lima dari tujuh cerpen yang sudah saya baca, ternyata meninggalkan kesan. Salah satunya, cerpen Keluarga M, yang berawal dari kebiasaan 'saya' memperhatikan lapangan bermain anak dari jendela apartemennya. Dari situ muncul keingintahuan dari dua anak, kakak beradik yang seringkali bertengkar dengan anak-anak dari penghuni yang lain.

Perasaan 'saya' mengenal keluarga M berawal dari kekesalan yang berlanjut kebencian karena mobilnya tergaret paku, lalu imajinasi-imajinasi kebencian berkembang menjadi keinginan melukai dua anak keluarga M, lalu berkembang sampai menciptakan sebuah kondisi yang membuat perasaan 'saya' berubah saat menatap kembali keluarga M.

Keluarga M salah satu cerpen yang menggambarkan tentang perkembangan perasaan dalam diri 'saya' dari satu situasi ke situasi yang lain berlangsung sangat natural. Hal yang sama juga saya rasakan dengan kelima cerpen lainnya, yang semua bercerita tentang perasaan dari tokoh-tokoh 'saya'. Cara manusia memandang sosok lain selalu dapat menerbitkan berbagai perasaan.


Ny. Elberhart dan Charles Lebourne, judul dua cerpen terakhir dalam Orang-orang Bloomington. Keduanya tentang tetangga berusia lanjut yang membangkitkan rasa penasaran tokoh 'saya' dengan alasan masing-masing. Masing-masing pun masih sama, menceritakan tentang perasaan-perasaan sudut pandang pertama yang bermunculan karena situasi dan konflik yang hadir di sekitar tokoh utama atau toko yang sedang diperhatikan.

Keingintahuan yang dilanjutkan dengan keinginan untuk tahu, bisa berdampak begitu besar bagi seseorang. Konflik di ketujuh cerpen dalam #OrangOrangBloomington selalu dilatari oleh keingintahuan tentang seseorang yang ada di sekitar tokoh 'saya'. Hal yang sebenarnya naluriah, dan selalu muncul dalam diri manusia. Jadilah, saya menikmati proses mengamati dan merasakan apa yang dipikirkan para tokoh utama. Selain itu, yang saya suka adalah setiap cerpen selalu ada tokoh yang unik tapi manusiawi, hanya Orez yang saya masih belum paham sosoknya.

Sebagian orang akan menganggap buku ini membosankan, karena alurnya lambat dan hanya bertutur tentang apa yang dirasakan 'saya' saat menatap atau bersama dengan seseorang, bahkan kadang terasa seperti diulang-ulang. Tapi, bagian itulah yang saya suka, seperti meresapi pikiran-pikiran yang kemudian mempengaruhi perubahan sikap dan tindakan setiap tokoh 'saya'. Mantap.

Judul: Orang-Orang Bloomington | Penulis: Budi Darma | Penyunting: Nunung Wiyati | Penerbit: NouraBook | Terbit: Cet I, Mei 2016 | Tebal: 296 hlm | Harga: Rp. 58.000 (harga diskon di www.parcelbuku.net) | Bintang:4/5
Share:

Friday, November 2, 2018

Mark Twain Blusukan

Kegembiraan Mark Twain seperti tak terlukis, ketika diajak sang kakak ke Nevada, untuk menemaninya selama menjadi Gubernur atau di sebut Tuan Sekretaris. “Kata ‘perjalanan’ terdengar sangat merangsang bagiku.” Bayangan blusukan dan kehidupan selama tiga bulan di dunia luar, mematik imajinasinya melihat padang pasir, Indian, binatang liar, dan segala yang dapat memancing adrenalinnya. Rencana tiga bulannya hanya angan semata, karena Mark Twain bertualang selama tujuh tahun.


“Sampai hari ini pun masih tergetar hatiku memikirkan perasaan itu---rasa kehidupan, kegembiraan, keliaran kemerdekaan yang membuat darah seakan-akan menari... “ h.47

Mark Twain bercerita tentang awal perjalanan blusukan mereka di atas kereta pos, perjalanan yang memakan waktu sekitar 15 hari. Selama perjalanan, Mark Twain menggambarkan goyangan, hentakan, dan mulusnya jalur yang harus mereka lalui. Juga, bagaimana kereta pos beroperasi selama di perjalanan, pos pemberhentian, pergantian kuda, dan sosok-sosok kusir/kondektur, semua digambarkan dengan menarik dan jelas. Ditambah lagi, pengalaman berhadapan dengan ancaman  perampokan para bandit atau kebencian para Indian yang sering memanah/ menembak kereta yang lewat.

Petualangan blusukan tak berhenti hanya selama perjalanan di kereta pos, Mark Twain mulai berhadapan dengan kebosanan di kota Nevada, hingga membuatnya ingin kehidupan yang lebih ‘semarak’. Saat itu demam perak sedang melanda Nevada. Pemberitaan dipenuhi dengan kabar banyaknya Orang Kaya Baru yang berhasil menjual tanah tambangnya dengan harga berlipat ganda karena mengandung perak. Menggiurkan.

Mark Twain pun tak luput ingin mencari tambang. Kisah tentang tambang perak inilah yang mengisi sebagian besar perjalanan, dia merasakan perjuangan mendaki, berkeliling mencari tambang yang tepat, bahkan saat menemukannya, “harta kami masih berabad-abad jauhnya di depan.” Menggali, sampai meledakkan batu harus dilakukan untuk mendapatkan lapisan terdalam, demi semakin kayanya kandungan emas dan perak.

Lelah dengan usaha mati-matian Mark Twain dan kawan-kawannya, dia menyerah dan beralih menjadi buruh di perusahaan peleburan emas dan perak, yang ternyata melelahkannya tidak kalah dengan saat menambang. Sebenarnya dalam buku Blusukan ini, Mark Twain pernah mendapat peluang menjadi kaya lewat tambang, tapi gagal karena keteledoran dan pikirannya yang hanya dipenuhi angan-angan, akan digunakan apa uangnya nanti.

Selain, penambangan perak dan emas, kebiasaan membunuh menjadi tema yang banyak dibahas. “Alasan kenapa begitu banyak pembantaian adalah di daerah pertambangan baru, unsur-unsur kejahatan selalu menonjol. Orang tidak akan dihormati sebelum dia ‘membunuh orang’. Itulah kalimat yang umum didengar.” (h.377) Bahkan di beberapa bagian, Mark Twain bercerita tentang jawara-jawara yang saat itu ditakuti karena kebiasaannya membunuh orang dengan entengnya.

Mark Twain menceritakan perjalanannya dengan kocak, agak tidak menyangka, karena sebelumnya belum pernah membaca buku klasik dewasa yang bercerita dengan lucu. Menikmati saat-saat Mark Twain mendeskripsikan tentang keindahan alam di Danau Mono, tertawa membaca pertemuannya dengan ‘cerita lucu’ yang diceritakan setiap orang menaiki kereta pos, dan juga saat Mark Twain terjebak bersama dua temannya di salju, serta membuat pengakuan dosa. Selipan sinisme yang berhamburan juga sangat menghibur.

Pengalaman Mark Twain menjadi wartawan, menjadi sudut pandang  baru tentang penambangan perak dan emas. Seperti sebelum-sebelumnya, dia menceritakan cara beroperasi dunia percetakan di masa itu. Sebagai wartawan, dia mulai menjajaki kota San Fransisco, lalu berlanjut ke Hawaii. Sayangnya, saat berada di Hawaii cerita terlalu padat informasi,  tentang bagaimana Mark Twain menikmati tinggal di sana tidak terlalu dibahas, berbeda dengan kota sebelum-sebelumnya.

Gambaran-gambaran kehidupan tahun 1840 dideskripsikan dengan baik, hingga terasa nyata. Meski kadang ‘keluar jalur’ dan ada bagian yang membosankan, kisahnya tetap menarik untuk diikuti dan sering berhasil memancing rasa penasaran. Sayangnya, autobiografi Blusukan ini dipenuhi dengan typo yang agak mengganggu.

Judul: Blusukan
Judul Asli: Roughing It
Penulis: Mark Twain
Penerjemah: Djokolelono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetak: Pertama, Januari 2017
Tebal: 682 hlm
Share:

Sunday, September 2, 2018

Part 3 The House of Hades by Rick Riordan (Done)


"Kini, dia menyadari bahwa ujian terberat bagi anak Athena (Annabeth) bukanlah memimpin misi atau menghadapi maut dalam pertempuran. Ujian terberat adalah membuat keputusan strategis untuk mundur, untuk membiarkan orang lain menanggung bahaya .... Annabeth harus menerima  bahwa dia tidak bisa melindungi semua orang yang dia sayangi." ~ h.556

Akhirnya ... akhirnya ... Mereka semua berhasil menutup Pintu Ajal. Ya iyalah! Tapi proses menuju ke sananya yang membutuhkan perjuangan, pengorbanan, sekaligus memperlihatkan pahlawan pun tak selamanya menjadi jawara. Percy dan Annabeth merasakan betapa lemah tidak berdayanya mereka berada di ranah Tartarus.

Kali ini, Percy-Annabeth harus berhadapan dengan sosok humanoid dari Tartarus, bapak para monster. Dan, memutus rantai Pintu Ajal. Sedangkan, Frank dkk bertempur melawan monster yang telah lolos dari Pintu Ajal. Pada bagian ini, saya jadi lebih suka Hazel jadian sama Leo soalnya chemistry-nya lebih dapet, daripada dengan Frank. Tapi, yaaa... kayaknya gak bisa juga karena Leo lagi falling in love dengan yang terkurung di sebuah pulau. Uhuy!

Dari keempat seri #TheHeroesofOlympus, saya paling suka #TheHouseofHades karena tokohnya semakin dewasa, bukan masalah fisik, tapi pemikiran. Mereka semua dipertemukan banyak permasalahan yang mengajak mereka merenungi kembali perjalanan panjang yang kelak berujung pertempuran melawan Ibu para Monster yang digadang-gadang akan menghancurkan para demigod dan dewa/i Olympus.

Akhir kata! Ikut berbahagia untuk Pelatih Hedge ;p
Share:

Search

Member of BBI

Member of BBI
ID 1301050

Another Blog

Popular Posts

Done!

2019 Reading Challenge

2019 Reading Challenge
Sinta has read 3 books toward her goal of 100 books.
hide

Blog Buku

Blog Cerita

Kumpulan Ulasan

Copyright © Jendelaku Menatap Dunia | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Blogger Templates20