Skip to main content

Love Theft


"Kali aja kamu yang kebalik. Dia yang asli ya dia yang tersenyum lembut. Yang sekarang itu yang palsu" Coco ~ h.116
Liquor menjadi sosok yang sangat misterius bagi Frea Renata, tak hanya kepribadiannya tetapi juga masa lalunya. Meski cukup lama mengenal Liquor, Renata kerap terkejut saat Liquor mengeluarkan ekspresi tak terduga. .

Pria ini pun yang sangat 'dingin' dengan sekitarnya dan menyimpan sosok perempuan di masa lalu yang menyebabkan dirinya seperti saat ini. Untunglah masih ada Night di sekeliling Renata yang menjadi sosok penyeimbang di kala suram melihat Liquor. Tiga sosok inilah yang menjadi tokoh awal utama yang mewarnai kisah Love Thief.

Ide yang menarik adalah pengambilan tokoh yang hidup dikelilingi sindikat pencuri yang dimiliki oleh paman Renata. Meski profesi tersebut tidak diperdalam tapi cukup menjadi jembatan menuju konflik berikutnya, pencurian kalung Coco.

Pencurian yang mengandalkan teknik 'hipnotis' dari kegantengan Liquor ini, ternyata menyisakan masalah. Awalnya semua berjalan lancar, hingga Coco gencar melakukan pemberitaan terkait kehilangan kalung spesialnya. Publikasi ini sangat membahayakan sindikat paman Renata. Mau tidak mau Liquor harus mencari jalan keluar.

Keputusan aneh muncul dari Liquor yang aku sendiri menganggapnya seperti ‘bunuh-diri’. Tapi, ya sudah, karena kondisi ini memunculkan karakter Coco yang sepertinya menjadi antagonis dalam alur cerita.

Menurutku isi ceritanya sangat ringan dan manis, semanis desain sampulnya. Melihat sosok Renata, Liquor, dan Night mengingatkan pada karakter dalam cerita komik. Karakter dingin si cowok dan karakter ‘linglung’ si cewek. Sementara ini alurnya mengambang karena masih bersambung ke seri berikutnya. So next!

 Seri ini telah dicetak ulang dengan cover baru dan disatukan dengan halaman yang lebih tebal dibandingkan terbitan indie-nya. Perubahan ketebalan ini apakah ada revisi atau tambahan cerita di dalam terbitan yang baru, aku kurang paham. Jadi, ulasan ini hanya tentang Love Theft versi indie.

Alur ceritanya sendiri ada sisi yang manis, terutama antara Frea dan Liquor, tetapi ada juga yang rasanya nanggung di dalam seri kedua Love Theft ini. Potensi ceritanya untuk digali lagi masih sangat mungkin dan bakalan lebih menarik.

Tentang masa lalu Liquor, yang walaupun diungkap di akhir cerita tapi terkesan datar. Hal-hal yang membuat Liquor sampai depresi/trauma seperti hanya disampaikan, bukan digambarkan.

Beberapa adegan yang buatku agak janggal, seperti kehadiran tiba-tiba Coco di rumah sakit sambil “membawa” polisi untuk menangkap Liquor dan Night, apakah memang bisa seorang pelapor ikut melakukan penangkapan?

Lalu, perubahan karakter Liquor yang menjadi terkesan cengeng. Bukan bermaksud Liquor tidak boleh menangis, tetapi tiba-tiba jadi sering meneteskab air mata. Dan, adegan Liqour sempat mengetik dan mengirim SMS ke Frea di sela-sela intimidasi Coco cukup ganjil buatku. . 

“Kalau ada lampu, mereka (ngengat) akan berpindah ke sana. Mereka tidak selamanya menyukai tempat gelap.” Liquor ~ h.33
Metafora serangga yang menjadi ‘simbol’ para pencuri termasuk ide yang sangat menarik jika lebih dieksplorasi. Meski begitu, untuk sisi romansa dalam ceritanya, penulis pandai memainkan kata-kata dan situasi, antara Liquor dan Frea. So Sweet! menjadi kalimat yang tepat untuk novel Love Theft.

Judul: Love Theft | Penulis: Prisca Primasari | Penerjemah: Nur Aini | Penerbit: Indie Prisca Primasari | Terbit: Cet. I, Des 2015 & Feb 2016 | Bintang:2/5

Comments

Popular posts from this blog

Dari Iseng Sampai Keranjingan Meresensi Buku

Hari ini hari apa sih? Merasa sedikit aneh ketika beberapa orang secara beruntun menanyakan tentang bagaimana supaya mahir menulis? Tips menulis? Masukan tentang menulis yang benar dan pernak-pernik tentang tulis menulis. Jujur, saya tidak terlalu mengerti tentang dunia tulis menulis karena selama ini yang saya lakukan hanya menulis uneg-uneg lewat blog secara bebas tanpa diburu teori. Tetapi mungkin saya bisa berbagi pengalaman menulis yang sebenarnya masih secuil. Bukan menulis tentang model tulisan yang saat ini begitu digandrungi seperti novel, cerpen, esai atau puisi, tetapi saat ini bisa dibilang saya sedang menggandrungi menulis resensi buku. Apa yang menarik? Hmmm … mungkin dari sana saya bisa mengeluarkan apa yang mengganjal di kepalaku ketika membaca sebuah buku, atau mungkin juga dari resensi saya bisa sedikit membantu kawan-kawan untuk mengetahui apa isi sebuah buku sebelum mereka melakukan perburuan buku. Apapun itu, saya menikmati menulis resensi. Beberapa kali saya per

Ocehan Si Mbot, Gilanya Orang Kantoran

Dunia kerja ternyata tidak kalah heboh dengan dunia remaja, karena ternyata dunia itu lebih mirip tempat bermain, tempat para penghuninya bergosip, cari muka, saling berkirim email iseng, cela-celaan, curi-curi pandang dengan anak baru, pokoknya apapun, kecuali kerja . Pernyataan ini bukanlah akal-akalan atau sambil lalu, tetapi penilaian yang didapat dari pengalaman si Mbot --nama yang terinspirasi dari teman SMAnya--bergelut di beberapa Taman Kubikel. Taman kubikel adalah istilah yang dipakai paksa untuk menggantikan sebutan tempat berkumpulnya makhluk kubikel, yaitu kantor. Kubikel sendiri diambil dari kata cubicle , yang di perkantoran diartikan sebagai sekat-sekat yang membagi ruangan. Keadaan Taman Kubikel yang dihuni oleh makhluk dengan tindak tanduk aneh bin ajaib, tak pernah luput dituangkan ke dalam blog yang beralamat http://mbot.multiply.com , milik penggila blog bernama lengkap Agung Nugroho. Salah satu tempat yang menjadi latar penggambaran dari kegokilan si penulis ad

Zalzalah, Biarkan Cinta Sampai Pada Akhirnya

Sebagaimana bagian tubuh yang lain, hati juga dapat merasakan sakit. Bukan hanya penyakit secara fisik, tetapi juga penyakit “hati” yang bersifat ruh. Milati, gadis yatim piatu yang menjadi pengasuh di Yayasan Panti Asuhan dan Pesantren Anak Manba’ul Ulum, juga terjangkit penyakit “hati” ketika perjumpaannya dengan Misas, putra dari sang Kyai pemilik pesantren, menimbulkan desir-desir dalam kalbunya. Muncullah penyakit “hati” yang menggerogoti sosok insan dengan mengatasnamakan cinta. Tidak dipungkiri bahwasanya cinta adalah setitik rahmat dan kasih sayangNya, tetapi ketika setan mulai menyelisip di dalamnya tak ayal cinta pun menjelma sebentuk ujian untuk kembali mempertanyakan seberapa besar cinta kepadaNya mengalahkan cinta pada makhlukNya. Dan Milati merasakan ujian cinta mulai menyesakkan jiwanya. Sulit mengobati penyakit “hati” berbentuk cinta yang seringkali membutakan korbannya, yang ternyata justru memiliki pengaruh yang lebih destruktif dibandingkan penyakit fisik. Misas, le