Twitter Facebook Delicious Digg Stumbleupon Favorites More
everyone is a reader. Some just haven't found their favorite book yet

Tuesday, November 23, 2010

Negeri van Oranje


Buku bertemakan persahabatan dan cinta sudah sering saya jumpai, tapi memadukannya dengan unsur komedi, pendidikan, dan travelling terbilang jarang, apalagi buku ini ditulis dengan kolaborasi empat kepala. WoW! Pastinya bukan sesuatu yang gampang. Kisah dalam buku ini mengingatkan saya dengan novel Traveler’s Tale: Belok Kanan Barcelona! yang juga ditulis dengan keroyokan, tapi bedanya dalam buku garapan Aditya Mulya dkk ini tidak terdapat tema pendidikan.

Dikisahkan lima mahasiswa asal Indonesia yang terdampar di Negeri Belanda dan dipersatukan oleh kekuatan rokok kretek. Stasiun Amersfoort adalah tempat yang mengawali perkenalan dan persahabatan mereka, hingga nongollah sebuah genk dengan nama Aagaban [Aliansi Amersfoort Gara-gara Badai di Netherlands]. Lintang adalah perempuan satu-satunya dalam genk tersebut yang selalu dikerubuti empat pria, Daus, Wicak, Banjar, dan Geri. Uniknya latar belakang mereka studi ke Belanda tidak hanya karena ada dana atau beasiswa, tapi ada beralasan dalam rangka melarikan diri dari ancaman pembunuhan, atau tertantang agar mendapatkan restu gaet adik teman.

Buku yang satu ini tidak hanya sekadar menampilkan cerita persahabatan berbumbu konflik cinta, tapi juga memberikan pengetahuan berbagai macam sejarah, deskripsi tempat, rutinitas perayaan, dan dunia pendidikan di Belanda. Bahkan dalam buku ini juga terdapat feature yang berisikan tips yang walaupun menggunakan bahasa kocak tapi memuat informasi yang berharga, diantaranya tentang tips mencari tempat kos, atau informasi tentang surat-surat yang wajib diurus dan dimiliki ketika berada di Belanda, atau tips mencari pekerjaan sambilan, dan masih banyak lagi tips yang kesemuanya penting diketahui jika pembaca tertarik untuk tinggal ataupun hanya sekadar mampir ke Negeri van Oranje. Serunya lagi, kelima tokoh ini tidak tinggal di satu kota, tetapi lima, sehingga pembaca juga akan mendapatkan suguhan rute transportasi dari satu kota ke kota yang lain. Sayangnya, buku ini tidak menyelipkan foto-foto yang sekiranya bisa membantu pembaca untuk berimajinasi, seperti yang terdapat di buku Traveler’s Tale.

Ceritanya sendiri berjalan dengan mengalir dan kocak. Bahkan gaya bicara Wicak, Daus, dan Banjar dalam mengobrol dan bertingkah mengingatkan saya ketika sering berkumpul dengan teman-teman semasa kuliah, yang memang didominasi oleh kaum adam. Terasa sekali kenaturalan, sifat blak-blakan dan kejahilan mereka. Mantep! Namun di balik segala tingkah pola mereka yang konyol, ternyata masing-masing dari kelima tokoh ini memiliki idealisme dan nasionalisme yang tidak dapat dipandang remeh. Hal ini terbaca dari pemikiran mereka tentang masa depan, apakah setelah lulus nanti akan tetap berkutat di Belanda dengan fasilitas yang wah atau kembali ke Indonesia untuk mengabdikan ilmunya untuk kemajuan bangsa? Dan masing-masing tokoh memiliki alasan yang ketika dipikir-pikir sama-sama benar dan sama-sama mencerminkan sebentuk nasionalisme.

Ada satu ganjalan dalam cerita yang membuat saya sedikit bertanya-tanya, yaitu urgensitas dua tokoh baru yang berperan sebagai kawan baru Daus saat terjadi perang dingin dengan Banjar dan Wicak. Si Duo Botak, Koko dan Kiki. Jikalau memang dirasa penting, kok rasanya plot yang satu ini sangat singkat, bahkan menurut saya pribadi kesadaran Daus untuk kembali ke jalan yang ‘lurus’ terlalu cepat. Sehingga saya merasakan bagian tersebut menjadi sebuah alur yang sebenarnya tidak terlalu penting dituliskan, apalagi setelah itu Duo Botak tidak lagi muncul hingga akhir cerita.

Kelihaian para penulis dalam menuturkan kisahnya mampu membuat saya menikmati isi cerita tanpa harus diiringi kerutan dahi. Bahkan tidak salah jika setelah membaca buku ini Anda akan menjadi sangat tertarik untuk mencoba kuliah ke luar negeri, terutama Belanda.

Judul : Negeri van Oranje
Penulis : Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana
Penerbit : Bentang Pustaka
Terbit: Cetakan Sembilan, September 2010
Tebal : 478 halaman
Harga : Rp. 49.000

kunjungi: http://parcelbuku.com
Share:

3 comments:

  1. nice review. terimakasih sudah baca ya. senang sekali.

    ReplyDelete
  2. Setuju, mbak Sinta. Menikmati sekali mbaca Negeri van Oranje. Sedikit mirip Edensor-nya Andrea Hirata, tapi sisipan tips dan trik hidup di Belanda ini yang membuatnya beda. Suka! Pengen deh nulis yang kayak gini. ;)

    ReplyDelete

What Do You Things?

Search

About Me

My photo

Seorang blogger yang suka membuat ulasan buku di Jendelaku Menatap Dunia dan Yuk Membaca Buku Islami

IG: @sinta.705 | email: sinthionk@gmail.com | twitter: @sinta_nisfuanna

Member of BBI

Member of BBI
ID 1301050

Another Blog

Popular Posts

Done!

2017 Reading Challenge

2017 Reading Challenge
Sinta has completed her goal of reading 100 books in 2017!
hide

Blog Buku

Blog Cerita

Kumpulan Ulasan

Copyright © Jendelaku Menatap Dunia | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Blogger Templates20