Twitter Facebook Delicious Digg Stumbleupon Favorites More
everyone is a reader. Some just haven't found their favorite book yet

Thursday, June 25, 2009

Pilkadal Di Negeri Dongeng


...sebuah novel yang penuh sindiran kepada kalangan yang hanya peduli pada kemuliaan tahta, namun tak peduli pada jeritan rakyat jelita...
-Afifah Afra-

Pilkadal di Negeri Dongeng (PND). Dari judulnya pasti temen-temen sudah pada tau apa isi dari novel yang satu ini. Kalo gitu gak usah baca donk? Eit...jangan pergi dulu, lanjutin bacanya hehehe...


Buku---dengan sampul hitam bergambar kadal di atas kotak Pilkadal---ini menarik untuk dibaca siapapun. Seperti kata Mbak Afra ”Buku ini wajib dibaca para politisi, calon politisi, atau sekedar rakyat biasa yang peduli dengan sesama” dan statement itu bener!

Berbagai gambaran realita dan kata-kata sindiran berhamburan. Hampir di setiap jengkal tulisan selalu ada sentilan-sentilan yang membuat pembaca meringis, senyum sinis, miris dan akhirnya menyimpulkan Negeri Dongeng ini adalah........

Negeri Dongeng, gambaran sebuah negeri yang sebenarnya kaya raya, tapi ternyata menyedihkan---tau lah gambaran negeri mana yang dimaksud---Buku PND mengisahkan negeri yang sedang mengalami kehebohan bernama Pemilihan Bupati. Tiga pasang calon yang dikandidatkan menduduki kursi panas (halah...)

Suryo Buwono, Bupati yang menghambakan hidupnya dengan ramalan dan hal-hal klenik, berpasangan dengan Siti Aminah, seorang cucu Kyai terhormat.

Jaka Lesmana, wakil Bupati tampan yang dipasangkan dengan wanita yang tak lain adalah kekasih gelapnya sendiri, Lestari.

Tugino, Pengusaha yang nyleneh yang berani memberi sambutan nasi jagung untuk sang bupati (Suryo Buwono), dipasangkan dengan Bahtiar seorang pejabat ’lurus’ yang prihatin dengan kondisi negeri.

Gegap gempita pilkadal ini ternyata tidak berpengaruh kepada Slamet, sosok rakyat cilik yang terhimpit berbagai masalah plus musibah—komplit---yang tak henti menerjang kehidupannya,

...tapi itulah buah dari kemiskinan. Kematian bukan sesuatu yang ditangisi, tapi malah bisa menjadi solusi. Karena kematian bisa menjadi pengurangan anggaran, kematian dianggap menjadi penambah rizki yang masih hidup.
---kutipan dari buku PND--

Tokoh Slamet dikisahkan di setiap sela-sela kehebohan Pilkadal, tokoh yang berjuang banting tulang demi sejumput uang di antara berhamburan uang yang di’buang’ untuk mensukseskan calon.

Akhir dari buku ini pun dibuat mengambang---malah bikin aku melongo--- membuat pembaca termerenung ”kenapa negeriku seperti ini?!”

Wah asyik donk nih buku?! Ya iyalah masa’ ya iya donk...tapi ada sedikit ketidak-nyamanan saat membaca buku PND. Panggilan tokoh Jaka Lesmana, kadang dipanggil dengan nama Amin, kadang dipanggil Jaka, sempat membuat aku pribadi bingung. Dan sayangnya lagi, profil Bahtiar tidak terlalu di explore. Profil yang mungkin bisa menjadi penyemangat, bahwa harapan itu masih ada di negeri ’Dongeng’.

Judul Buku: Pilkadal di Negeri Dongeng
Penulis: Tundjungsari
Editor: Mukhammad Nurul Furqon
Penerbit: Afra Publishing, Surakarta
Cetakan: Pertama, September 2007
Tebal: 168 halaman
Harga : Rp. 23.500

Share:

28 comments:

  1. thanks atas reviewnya...tapi kadangkala lebih enak nonton aslinya di televisi.

    cangkirkayu.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. hahaha. kalo pilbuaya ada ga
    aku kembali

    ReplyDelete
  3. ,kematian dianggap menambah rizki yang masih hidup.salah satu contohnya adalah tukang gali kubur

    ReplyDelete
  4. Negeri kita yak.....terkadang kita menertawakan para politisi itu...tapi seleksi alam ternyata tak mampu mematikan mereka....dari pemilu ke pemilu..masih saja orang-orang itu yang terpilih....

    ReplyDelete
  5. aku jarang baca buku,ya ngga ngerti sma sekali,begitu kupernya diriku,
    semoga para pilitisi itu tau dan membaca habis semua isi buku tersebt , dan menjadi lebih baik,

    ReplyDelete
  6. trus tokoh slametnya gmana??? sepertinya tdk da pengaruh tkoh ini sama pemilihan bupati td...


    ???????

    ReplyDelete
  7. pasti seru banget nih...
    reviewnya aja seru, gimana bukunya yah :D

    salam kenal :D

    ReplyDelete
  8. Waaa.. kayaknya seru juga tuh bukunya..

    ReplyDelete
  9. kata2 sindiran yang nyelekit tuuh kayanya.
    heheheeehehee..
    lam knl ya

    ReplyDelete
  10. Bukunya keren... judulnya lucu... kayaknya negeri dongeng tu aku tau dech...

    ReplyDelete
  11. cari bukunya ahhhh
    masih ada ga ya?

    ReplyDelete
  12. wadoh serpertinya sseru inih,

    pinjem bukunya donk :D

    ReplyDelete
  13. Sin, mbak Afra dah ada publishing sendiri...??? duh, hebatnya! kelamaan di negeri orang, jadi gaptek ama penulis lokal. Jarang koleksi buku lokal mbak sekarang. Kebanyakan, buku dan novel melayu. Tapi, Insya Allah mulai sekarang merubah haluan membeli buku2 penulis negeri sendiri. Meskipun dengan harga yang cukup mahal :(

    ReplyDelete
  14. Eh, ko gak koment bukunya sih...??? Keren tuh Sin, mau dunk pinjem... hihihi...

    ReplyDelete
  15. mantab kyknya..
    sebuah perumpaan yg pas utk negeri kita belakangan ini.. :D

    di gramed ato toga mas ada gak..? *siap2 nyari..

    ReplyDelete
  16. kalo masalah politik... aku ga pernah tertarik deh, mba... soale ya gitu2 aja.. rebutaan mulu, apalagi kalo diselipin wanita2 cantik... haiyah... ;(

    ReplyDelete
  17. semula saya pikir itu memang sejenis pil. he he he.....bawian stroberi nih.

    ReplyDelete
  18. hihi... dari judulnya aja dah nyeleneh.. pasti isinya ya nyeleneh juga...

    ReplyDelete
  19. wah seru baget beli bukunya ah
    cari bukunya di mana ya ???????

    ReplyDelete
  20. Nice sharing ...perlu dicari dan dibaca nih buku.
    salam kenal

    ReplyDelete
  21. hahaha.. judulnya nggak jelas gitu...
    kayaknya kocak jg tuh..
    cari di gugel ada gak ya

    ReplyDelete
  22. saking banyaknya orang yg udah bosan dg semua permainan orang politik sampe terciptalah buku itu..... xixixixi penasaran pengen baca aq....

    ReplyDelete
  23. hmm... referensi yang bagus juga nih,, kebetulan saya lagi pengen beli buku baru,, ntar coba cari di gramedia deh,, thx ya! ;)

    ReplyDelete
  24. saya terkesan dengan salah satu kalimat dalam reviewnya

    "tapi itulah buah dari kemiskinan. Kematian bukan sesuatu yang ditangisi, tapi malah bisa menjadi solusi. Karena kematian bisa menjadi pengurangan anggaran, kematian dianggap menjadi penambah rizki yang masih hidup".

    Yang saya pertanyakan, apakah kemiskinan ini merupakan kesalahan tiap individu masing-masing yang emang malas. Ato apa?, kalo demikian, maka yang miskin jumlahnya hanya sedikit...

    Lah, ini yang miskin nya banyak, jadi menurut saya ini bukan lagi permasalahan tiap-tipa individu. Tapi ini permasalahan bangsa yang menerapkan aturan sekuler.......

    ReplyDelete
  25. Semoga dengan adanya buku ini akan membuat telinga para pejabat menjadi kepanasan dan menjadi sadar akan kelakuan mereka selama ini..Aku berharap akan terus bermunculan buku--buku yang seperti ini

    ReplyDelete
  26. Reviewnya okeh Sin, as usual.
    Berharap pilpres Juli ini sukses juga nih. Dan semoga presiden terpilih memenuhi janji dongengnya.

    ReplyDelete

What Do You Things?

Search

About Me

My photo

Seorang blogger yang suka membuat ulasan buku di Jendelaku Menatap Dunia dan Yuk Membaca Buku Islami

IG: @sinta.705 | email: sinthionk@gmail.com | twitter: @sinta_nisfuanna

Member of BBI

Member of BBI
ID 1301050

Another Blog

Popular Posts

Done!

2017 Reading Challenge

2017 Reading Challenge
Sinta has completed her goal of reading 100 books in 2017!
hide

Blog Buku

Blog Cerita

Kumpulan Ulasan

Copyright © Jendelaku Menatap Dunia | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Blogger Templates20