Twitter Facebook Delicious Digg Stumbleupon Favorites More
everyone is a reader. Some just haven't found their favorite book yet

Wednesday, December 15, 2010

Kabul Beauty School


Jika disebutkan tentang relawan daerah konflik, bidang apa yang terpikir dalam kepala Anda? Pasti sebagian besar akan menelurkan kata medis, pendidikan, psikologi, atau teknik. Tapi pernahkah terbayang di kepala Anda, seorang penata rambut dikirim ke daerah konflik? Jarang! Bisa jadi malah tidak pernah terlintas sama sekali di kepala. Sebagian dari kita juga akan bertanya-tanya, benarkah negara yang dilanda konflik membutuhkan seorang penata rambut? Mungkin hanya tawa kecil yang tersungging di bibir kita.

Hal yang sama sempat terpikirkan oleh Deborah Rodriguez sebelum sang ketua rombongan relawan Afghanistan memperkenalkan dirinya di sebuah forum para aktivis. Hasilnya? Sama sekali tidak disangka. Hampir seluruh tamu undangan menyambut riuh dengan iringan tepuk tangan yang meriah, mengalahkan sambutan untuk para tenaga medis atau lainnya. Dari sanalah, Debbie mulai memandang bahwa profesinya memang benar-benar dibutuhkan di Afghanistan, hingga kemudian dia mendirikan sebuah sekolah khusus perempuan yang dinamai Kabul Beauty School.

Kultur Amerika vs Afghanistan

Berada di sebuah negara dengan kultur yang sangat berbeda, membuat Debbie harus berusaha menyesuaikan diri. Sebagai warga Amerika yang kerap mengusung kebebasan, Debbie harus melihat kenyataan bagaimana para perempuan di Afghanistan sangat tertutup, tidak hanya dalam hal berpakaian tetapi juga keseharian. Sangat jarang sekali di jalanan ditemukan sosok perempuan sedang berjalan, kalaupun ada pastinya mereka mengenakan burqa dan dapat dihitung dengan jari.

Jika perempuan Afghanistan memilih pasrah dan malu memberontak ketika mereka mendapatkan pelecehan saat pergi ke pasar, maka Debbie langsung menghajar dan memukul pelaku ketika pantatnya dipegang pria berperawakan besar dan berwajah bopeng. Menundukkan pandangan pun masih sangat sulit dilakukan oleh Debbie yang selalu merasa ingin tahu dan langsung menatap sesuatu/ orang yang dianggapnya menarik.

Pernikahannya dengan seorang Afghanistan pun tidak dijalaninya dengan mudah. Kendala bahasa --Amerika dan Dari- agak sulit terpecahkan, sehingga ketika mereka ingin berbincang, dibutuhkan seorang penerjemah. Tapi bagi Debbie---yang selalu mendoktrin dirinya sebagai perempuan kuat--- tidak mudah menyerah untuk memahami dan menyesuaikan berbagai budaya yang terkadang menurutnya tidak masuk akal. Obsesi terbesarnya hanyalah ingin memberikan keterampilan para kaum perempuan Afghanistan, supaya mereka memiliki harga diri, dengan mendirikan Kabul Beauty School.

Kabul Beauty School

Di balik wataknya yang keras dan pemarah, Debbie memiliki jiwa perasa yang tinggi—terlihat dari kerelaan dia menjadi sukarelawan di Afghanistan. Hal ini membuatnya ingin selalu menolong siapa pun, terutama perempuan, yang tak jarang malah menciptakan kestresan bagi dirinya sendiri.

Hampir sebagian besar dari murid yang masuk kelasnya memiliki masalah keluarga yang berat, dan hampir kesemuanya mengalami KDRT. Dan bagi Debbie yang juga pernah mengalami pernikahan yang tidak menyenangkan, dia dapat sedikit merasakan bagaimana tidak nyamannya sebuah pernikahan, dimana salah satu pihak merasa dirinya lebih berkuasa. Mendirikan Kabul Beauty School bagi Debbie tidak hanya sekadar memberikan ilmu dan keterampilan, tetapi juga memberi harapan hidup bagi kaum perempuan di Kabul.

Dengan mengikuti kelas menata rambut dan belajar merias wajah, Debbie tidak berniat membuat kaum perempuan Afghanistan menjadi seorang pemberontak dan tinggi hati dengan kemampuannya bekerja di salon yang kerap berpenghasilan jauh di atas suaminya. Namun, dia berkeinginan supaya para perempuan ini menjadi lebih dihargai dan tidak terus-terusan mengalami penindasan atau menjadi pelampiasan emosi sang suami.

Memoar perjalanan dan pontang-pantingnya kehidupan Debbie di Afghanistan ini diceritakan dengan gaya santai. Walaupun kehidupan di Afghanistan dipenuhi dengan pemukulan dan eksploitasi perempuan, buku ini tidak lantas menjadi bacaan yang berat karena banyak sekali terselip celetukan Debbie yang mengundang tawa, meski terkadang beraroma sinisme.

Judul : Kabul Beauty School
Penulis : Deborah Rodriguez
Penerjemah : Gunardi dan Aan
Penerbit : Bentang Pustaka
Terbit : 2009
Tebal : 430 halaman

kunjungi: http://parcelbuku.com
Share:

0 komentar:

Post a Comment

What Do You Things?

Search

About Me

My photo

Seorang blogger yang suka membuat ulasan buku di Jendelaku Menatap Dunia dan Yuk Membaca Buku Islami

IG: @sinta.705 | email: sinthionk@gmail.com | twitter: @sinta_nisfuanna

Member of BBI

Member of BBI
ID 1301050

Another Blog

  • Ibu Pendidik Generasi Islam - “… mendidik seorang wanita itu sama saja dengan mendidik sebuah generasi.” ~ Prakata Penerbit Setinggi apapun pendidikan seorang anak, pengaruh besar...
    5 weeks ago
  • [Ngoceh Buku] Salju Part #3 - #IsiBuku *#SaljuOrhanPamuk* (209/731) . . Semakin berat makna isi dari pemikiran dan dialog Ka, tapi juga semakin menghanyutkan dalam pelitnya konflik. Ma...
    5 weeks ago
  • Ummu Salamah - “Di antara keutamaan istri-istri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah mereka lebih memilih Allah dan Rasul-Nya.” ~ h.19 Berpredikat Ummahatul ...
    1 month ago
  • Teruslah Bertanya … - #CeritaBuku #DuniaSophie ​[511/785] ‘Tapi akan selalu menjadi watak dari akal manusia untuk menanyakan dari mana bola itu berasal. Itulah sebabnya mengapa ...
    4 months ago

Popular Posts

Done!

2017 Reading Challenge

2017 Reading Challenge
Sinta has completed her goal of reading 100 books in 2017!
hide

Blog Buku

Blog Cerita

Kumpulan Ulasan

Copyright © Jendelaku Menatap Dunia | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Blogger Templates20