Twitter Facebook Delicious Digg Stumbleupon Favorites More
everyone is a reader. Some just haven't found their favorite book yet

Thursday, January 28, 2016

The Fault in Our Stars

Judul Asli: The Fault in Our Stars
Judul Terjemahan: Salahkan Bintang-Bintang
Penulis: John Green
Penerjemah: Inggrid Dwijani N.
Penerbit: Qanita
Cetak: Desember 2012
Tebal: 424 hlm 
Bintang: 3/5
Harga: Rp. 65.000 (Diskon di www.parcelbuku.net)

"Orang-orang bicara mengenai keberanian pasien kanker, dan aku tidak mengingkari keberanian itu. Aku telah disodok dan ditusuk dan diracun selama bertahun-tahun, tapi aku masih bertahan. Tapi jangan keliru, pada saat itu aku bersedia mati dengan sangat, sangat gembira." (Hazel ~ h.144)
Bayangkan jika dirimu terkena batuk dengan dahak yang terus mengganjal di tenggorokan? Bagaimana rasanya? Penyakit "remeh" yang menimpa dan tak kunjung sembuh kerap terasa menjengkelkan. Lalu, betapa 'menjengkelkannya' jika ternyata penyakit itu tidak bisa disembuhkan. Tetap harus berkawan, meski hati tak berkenan, bukanlah sikap yang mudah.

Paru-paru yang menjadi salah satu organ pengasup oksigen dalam tubuh, tidak bekerja normal dalam diri Hazel. Udara yang begitu mudahnya kita hirup, terasa sulit diserap oleh tubuh Hazel. Kelemahan paru-paru yang diakibatkan kanker tyroid membuatnya harus berjalan beriringan dengan tabung oksigen sebagai benda primer. Tak hanya itu, setiap kali tidur, dia harus berkawankan 'seekor naga' supaya paru-parunya tak terbakar.
"Pada dasarnya BiPAP mengambil alih napasku, dan ini sangat menjengkelkan, tapi yang hebat dari mesin itu adalah semua suara yang diciptakannya; menderu setiap kali aku menghela napas. Aku terus berpikir ada seekor naga yang bernapas bersamaku, seakan aku peliharaan naga yang meringkuk di sampingku dan cukup peduli terhadapku, sehingga mengatur napasnya agar selaras dengan napasku." (Hazel ~ h.163 hlm)
Ketakutan terbesar Hazel bukanlah kanker tapi 'granat' yang dilekatkan dalam dirinya. Hazel terus membayangkan kematiannya akan menghancurkan orang-orang tercintanya. Pertemuan Hazel dengan Augustus Waters mengubah kehidupannya yang monoton. Kisah cinta mereka menjadi semacam pengalihan dari kesakitan yang menggerogoti tubuh. Tapi, kisah cinta Hazel-Augustus juga bikin nyesek terutama momen Augustus menelepon Hazel dari pom bensin dalam kondisi yang payah, demi bisa melakukan hal kecil, sendiri.

Metaforis-metaforis yang mereka ciptakan menjadi hal yang saya sukai sepanjang cerita. Diskusi tentang buku Kemalangan Luar Biasa memperlihatkan, tubuh rusak sama sekali tidak menghalangi kehebatan isi kepala mereka yang bekerja dengan sempurna. Sedihnya, pertemuan mereka dengan si penulis menjadi salah satu bagian yang menjengkelkan dalam alur cerita.
"Tampaknya dunia bukan pabrik pewujud-keinginan" (Augustus ~ h.267)

Ulasan diikutsertakan dalam
Share:

0 komentar:

Post a Comment

What Do You Things?

Search

About Me

My photo

Seorang blogger yang suka membuat ulasan buku di Jendelaku Menatap Dunia dan Yuk Membaca Buku Islami

IG: @sinta.705 | email: sinthionk@gmail.com | twitter: @sinta_nisfuanna

Member of BBI

Member of BBI
ID 1301050

Another Blog

  • Teruslah Bertanya … - #CeritaBuku #DuniaSophie ​[511/785] ‘Tapi akan selalu menjadi watak dari akal manusia untuk menanyakan dari mana bola itu berasal. Itulah sebabnya mengapa ...
    2 weeks ago
  • Think Dinar! - Judul: Think Dinar! | Penulis: Endy J. Kurniawan | Editor: Asma Nadia | Penerbit: *AsmaNadia Publishing* | Terbit: Ketujuh, Juni 2012 | Tebal: xxii + 298 h...
    7 months ago
  • Wonderful Life - Judul: *Wonderful Life* | Penulis: Amalia Prabowo | Penyunting: Hariadhi & Pax Benedanto | Penerbit: POP | Terbit: 2015 | Tebal: 169 hlm | Harga: Rp. 50.00...
    7 months ago

Popular Posts

Done!

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Sinta has completed her goal of reading 60 books in 2016!
hide

Blog Buku

Blog Cerita

Kumpulan Ulasan

Copyright © Jendelaku Menatap Dunia | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Blogger Templates20