Twitter Facebook Delicious Digg Stumbleupon Favorites More
everyone is a reader. Some just haven't found their favorite book yet

Friday, April 20, 2018

Gadis Roma yang Hilang



Psikologis, adalah tema besar yang diangkat penulis sepanjang kisah penyelidikan berbagai pembunuhan sadis. Dimulai dari hilangnya Lara, mahasiswa Arsitektur, yang merupakan korban kesekian dari hilang dan matinya beberapa gadis seusianya. Jeremiah Smith adalah pelaku pembunuhan gadis-gadis yang hilang tersebut, tapi sayangnya, Lara tidak dapat ditemukan karena Smith terkena serangan jantung dan mengalami koma.

Marcus, seorang pendeta yang mengalami amnesia, ditunjuk untuk menemukan Lara, korban yang diperkirakan masih hidup. Penyelidikan banyak mengambil sisi psikologis, Marcus mencoba mengenali Lara lewat apartemennya dan juga menganalisa sosok Jeremiah, seorang pria penyendiri yang terasa mustahil membuat para gadis bersedia tanpa ragu untuk mengikutinya. Hal-hal ganjil, anomali, menjadi perhatian besar Marcus setiap kali menelusuri setiap kasus.
“... pembunuh berantai memang menikmati apa yang mereka lakukan. Artinya mereka ingin terus melakukannya selama mungkin. Mereka tidak tertarik dengan ketenaran, itu hanya menjadi penghalang, tetapi mereka kadang-kadang meninggalkan tanda-tanda. Bukan untuk berkomunikasi, tetapi untuk berbagi.” ~ h.84
Kasus Lara, bukanlah satu-satunya kasus yang harus dihadapi Marcus. Pembunuhan Valeria Altieri dan kekasih gelapnya dengan simbol, lalu penusukan-penusukan sadis para gadis yang dilakukan dengan gunting oleh sosok misterius yang disebut Figaro, dan kematian Alberto Cantrieri yang menuntun pada kasus penculikan seorang anak. Ketiganya mempertontonkan tugas besar Marcus sebagai seorang penitenziere, peran terwujudnya pengadilan jiwa, pengadilan yang menghakimi dosa-dosa manusia.

Di sisi lain, Sandra, photografer forensik yang sejak lima bulan lalu kehilangan suaminya, akibat jatuh dari lantai lima, gedung tak berpenghuni. Saya suka bagaimana penulis menggambarkan rasa kehilangan Sandra melalui keinginannya mempertahankan aroma sabun cukur dan rokok adas manis David di dalam rumah mereka. Kesedihan dan keputusasaannya terusik ketika sebuah telepon dari Schalber, yang mempertanyakan barang-barang peninggalan David, sekaligus menggiring Sandra untuk menyelidiki kematian suaminya.

Marcus dan Sandra menjadi dua alur cerita penyelidikan dengan gaya analisis yang hampir sama, tapi dengan urutan yang berbeda. Hanya saja, alur Marcus lebih komplek karena dia juga harus bergulat dengan kekosongan masa lalu dan mimpi-mimpi buruknya. Status penitenziere yang dibebankan kepadanya pun tak pelak semakin menjadi kemelut dalam dirinya, ketika perasaan menjadi perantara terwujudnya balas dendam dalam hampir di setiap penutup kasus.

Ketiga alur cerita ini berjalan selang-seling dengan bab yang berjalan mundur, agak bingung awalnya dengan alur mundur ini, dan ternyata titik mulanya berada di ujung cerita, yang berjudul HARI INI.
Si pemburu, tokoh ketiga yang memiliki alur cerita tersendiri meski kelak akan memiliki keterkaitan. Pemburu mencari mangsa dengan melakukan penyelidikan pada diri seorang yang didiagnosa memiliki kelainan psikologis yang disebut Sindrom Bunglon. Sindrom ini membuat si mangsa berubah menjadi seseorang yang ditirunya.
‘... "Dia tidak punya identitas sejati, itulah sebabnya dia terus menerus meminjam dari orang lain. Dia contoh yang unik, sebuah kasus kejiwaan yang sangat langka. Seorang transformis pembunuh berantai." Pemburu ~ h.185
Pengejaran pemburu mengantarnya pada sebuah penelitian terlarang dan mengubah si pemburu menjadi mangsa. Alur si pemburu inilah yang ujungnya akan menjadi penutup yang fantastis dan membuat pembaca memutar-ulang keseluruhan cerita. Saat antagonis dan protagonis kembali dipertanyakan.

Judul: Gadis Roma yang Hilang | Judul Asli: The Lost Girl of Rome | Penulis: Donato Carrisi | Penerjemah: Adi Toha | Penerbit: Alvabet | Terbit: Januari 2016 | Tebal: 558 hlm | Harga: Rp. 89.000 (harga diskon di www.parcelbuku.net) | Bintang:4/5
Share:

Tuesday, January 9, 2018

Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi



Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, merupakan cerpen unggulan dalam 13 cerpen yang mengisi karya Seno Gumira Ajidarma. Cerpen yang menurutku, mewakili keseluruhan cerpen di buku yang sebagian besar bertujuan untuk mengkritisi kondisi politik sosial dalam diri bangsa. Tentang ketidakbebasan berpendapat, hilangnya hati nurani, miskinnya kepedulian, dan carut marut kondisi bangsa.

Kumpulan cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, adalah pengalaman pertamaku bertemu dengan karya Seno Gumira Ajidarma, dan ternyata otakku sering gak nyambung saking absurbnya. hehehe ...  Meski begitu, di beberapa cerpen saya suka dengan gaya bercerita penulis, terutama saat ada timpal-timpalan seperti di cerpen dilarang menyanyi dan kriiiing!. Dialog sahut-menyahut antar ibu-ibu di DMDKM dan pegawai-pegawai di Kriiing, membuat ceritanya lebih hidup dan greget.

Ada juga dialog-dialog mengandung metafora yang banyak mengisi cerpen, seperti Elektra yang kehilangan bayangannya, mencari dan mengejar tanpa bisa diraih. Bayangan yang kemudian dimetaforakan sebagai nurani. Bayangan yang selalu menempel dipadankan dengan selayaknya nurani pun meski melekat pada hati dan pemikiran.

Cerpen lainnya juga mengandung metafora, tapi terlalu absurb bagi otakku, seperti cerpen Duduk di Depan Jendela, kisah tentang perempuan yang melihat berbagai kejadian-kejadi absurb di depan jendelanya, Lambada, pria yang tergila-gila dengan seorang wanita, atau Midnight Ekpress, perjalanan bermobil lelaki dan perempuan yang tak saling kenal tapi sepanjang perjalanan menemukan ledakan-ledakan dan perang.

Terlepas dari segala kemumetan, membaca kumpulan cerpen ini menjadi salah satu pengalaman yang menarik, karena membuat otak diperas dan dahi dikerutkan, bukan karena kekakuan atau kerumitan diksi, tapi karena daya khayal saya yang masih belum selevel dengan penulis.

Judul: Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi | Penulis: Seno Gumira Ajidarma | Penerbit: Galang Press | Terbit: Cetakan ke-4 - 2017 | Tebal: 212 halaman | Harga: Rp. 55.000 | Bintang: 3/5
Share:

Friday, December 29, 2017

The Pearl That Broke Its Shell


PEREMPUAN DI TANAH AFGHANISTAN

Budaya patriarki yang menggila. Hidup di lingkungan yang menjunjung tinggi lelaki, Rahima harus rela dipilih menjadi Basha Poch. Pilihan tersebut diambil sang ibu karena dari rahimnya tak kunjung dianugerahi anak laki-laki. Melahirkan bayi laki-laki adalah kebanggaan.

“… sekarang dia saudara laki-laki kalian, Rahim. Kalian harus melupakan saudari perempuan kalian yang bernama Rahima.” ~ Ibu h.55.

Bosha Pacha adalah tradisi dimana keluarga yang tidak memiliki keturunan laki-laki akan memilih putri mereka untuk menjalani keseharian sebagai seorang putra sampai usia tertentu. Tradisi yang tak disangka mengantarnya pada ketertarikan dan pernikahan dengan lelaki seusia ayahnya.

Di sisi lain, ada kisah nenek buyut Rahima yang dikisahkan oleh bibinya, Khala Saimah. Kehidupan nenek buyut Rahima bernama Shekiba, dengan cacat setengah wajah, juga mengantarnya menjadi sosok wanita-pria. Kehidupan yang menjadikan dirinya sebagai hadiah yang berpindah-pindah tangan setelah seluruh keluarganya meninggal.

Dua kisah Rahima dan Shekiba, bercerita dengan sudut pandang pertama, secara bergantian per bab. Penulis menyajikan dua cerita ini dengan mengesankan. Penggambaran sosok perempuan dengan kelemahan sekaligus kekuatannya dimanfaatkan penulis untuk menceritakan kondisi Afghanistan di pada masanya masing-masing. Rahima dan Shekiba, dua perempuan di zaman yang jauh berbeda, namun tetap menjadi pihak yang disisihkan dan dipandang sebelah mata.

Dua tokoh samasama melewati fase hidup yang sangat berat-yang saya sendiri kadang ngeri membayangkannya. Bersama penulis, saya mengimajinasikan kondisi Afghanistan, dari masa kerajaan, tentang sosial budaya yang lebih difokuskan pada posisi perempuan, perang saudara, sampai konflik politik.

Meski ada dua tokoh sentral dalam cerita, tapi saya lebih terkesan dengan sosok Khala Saimah, sang bibi penghubung dua kisah. Sosok yang dengan keberanian dan tekadnya menubruk adat istiadat, meski dirinya sendiri tidak merasakan apa yang dipejuangkannya. Tak ada yang sia-sia.

Hanya saja, menurutku, akhir kisahnya terasa kurang berkesan, mengingat dramatisnya kehidupan Rahima dan Shekiba. Akhir cerita Rahima dan Shekiba lebih terlihat sebagai harapan penulis bagi Afghanistan. Meski begitu, saya sendiri berharap novel lain Nadia Hashimi juga diterjemahkan.

“Tembok-tembok rumah ini mengurungmu dengan ketat. Fokuslah pada dirimu sendiri. Semua yang kau alami dalam hidup akan mengajarimu sesuatu, membuatmu haus akan sesuatu. Ingat Allah mengatakan, ‘Berusahalah, dan Aku akan menolongmu.’” ~ Khala Saimah h.558
Judul: The Pearl That Broke Its Shell | Penulis: Nadia Hashimi | Penerjemah: Endang Sulistyowati | Penerbit: Bhuana Ilmu Populer | Terbit: 2017 | Tebal: 600 hlm | Harga: Rp. 115.000 | Bintang:4/5 bintang
Share:

Saturday, December 23, 2017

A Monster Calls (Panggilan Sang Monster)

 

MONSTER POHON BERKISAH UNTUK CONOR

Bercerita tentang Conor, seorang bocah lelaki yang bertahan dan membendung amarahnya sedemikian kuat, dengan benteng-benteng penyangkalan. Ibunya mengidap penyakit yang membutuhkan pengobatan secara terus-menerus, dengan harapan akan segera sembuh. Sayangnya, kenyataan tak semudah harapan, berbagai pengobatan dicoba, tetapi hasilnya semakin menyesakkan.

Kemarahan yang terpendam begitu lama bisa menjadi sangat menakutkan, bahkan menciptakan monster yang mengerikan. Tanpa disadari Conor menciptakan monster itu, Monster Pohon. Bullying yang dialami Conor di sekolah semakin mempertebal kebenciannya dengan semua orang. “kisah adalah sesuatu yang paling liar … kisah itu mengejar, menggigit, dan memburu.” ~ h.45. Melalui ketiga kisahnya, monster pohon memancing Conor untuk mengungkap kebenaran dalam benaknya.

“Tidak melulu ada pihak yang baik. Sama halnya bahwa tidak melulu ada pihak yang jahat. Sebagian besar orang berada di tengah-tengahnya.” ~ h.73

Penceritaan kisah-kisah ini menciptakan ikatan tokoh Conor dan Monster Pohon menjadi lebih terasa. Kemarahan, kebencian, kesedihan Conor tergambar melalui obrolan dan tanggapannya tentang kisah-kisah yang selalu berakhir tak sesuai harapan. Kisahnya sedih dan suram, tapi menyisakan kehangatan, terutama antara Conor dan neneknya. Aku suka bagian nenek dan cucu ini. Selain itu, ilustrasi-ilustrasinya sangat mendukung cerita, plus KEREN.

“Kisah-kisah itu penting, bisa jadi mereka lebih penting daripada apa pun. Jika mereka mengandung kebenaran.” ~ h.151

Judul: Panggilan Sang Monster | Judul Asli: A Monster Calls  | Penulis: Patrick Ness | Penerjemah: Nadya Andwiani | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Terbit: 2016 | Tebal: 216 hlm | Harga: Rp. 88.000 | Bintang: 4/5
Share:

Search

About Me

My photo

Seorang blogger yang suka membuat ulasan buku di Jendelaku Menatap Dunia dan Yuk Membaca Buku Islami

IG: @sinta.705 | email: sinthionk@gmail.com | twitter: @sinta_nisfuanna

Member of BBI

Member of BBI
ID 1301050

Another Blog

Popular Posts

Done!

2017 Reading Challenge

2017 Reading Challenge
Sinta has completed her goal of reading 100 books in 2017!
hide

Blog Buku

Blog Cerita

Kumpulan Ulasan

Copyright © Jendelaku Menatap Dunia | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Blogger Templates20