Twitter Facebook Delicious Digg Stumbleupon Favorites More
everyone is a reader. Some just haven't found their favorite book yet

Saturday, November 9, 2019

Love Theft


"Kali aja kamu yang kebalik. Dia yang asli ya dia yang tersenyum lembut. Yang sekarang itu yang palsu" Coco ~ h.116
Liquor menjadi sosok yang sangat misterius bagi Frea Renata, tak hanya kepribadiannya tetapi juga masa lalunya. Meski cukup lama mengenal Liquor, Renata kerap terkejut saat Liquor mengeluarkan ekspresi tak terduga. .

Pria ini pun yang sangat 'dingin' dengan sekitarnya dan menyimpan sosok perempuan di masa lalu yang menyebabkan dirinya seperti saat ini. Untunglah masih ada Night di sekeliling Renata yang menjadi sosok penyeimbang di kala suram melihat Liquor. Tiga sosok inilah yang menjadi tokoh awal utama yang mewarnai kisah Love Thief.

Ide yang menarik adalah pengambilan tokoh yang hidup dikelilingi sindikat pencuri yang dimiliki oleh paman Renata. Meski profesi tersebut tidak diperdalam tapi cukup menjadi jembatan menuju konflik berikutnya, pencurian kalung Coco.

Pencurian yang mengandalkan teknik 'hipnotis' dari kegantengan Liquor ini, ternyata menyisakan masalah. Awalnya semua berjalan lancar, hingga Coco gencar melakukan pemberitaan terkait kehilangan kalung spesialnya. Publikasi ini sangat membahayakan sindikat paman Renata. Mau tidak mau Liquor harus mencari jalan keluar.

Keputusan aneh muncul dari Liquor yang aku sendiri menganggapnya seperti ‘bunuh-diri’. Tapi, ya sudah, karena kondisi ini memunculkan karakter Coco yang sepertinya menjadi antagonis dalam alur cerita.

Menurutku isi ceritanya sangat ringan dan manis, semanis desain sampulnya. Melihat sosok Renata, Liquor, dan Night mengingatkan pada karakter dalam cerita komik. Karakter dingin si cowok dan karakter ‘linglung’ si cewek. Sementara ini alurnya mengambang karena masih bersambung ke seri berikutnya. So next!

 Seri ini telah dicetak ulang dengan cover baru dan disatukan dengan halaman yang lebih tebal dibandingkan terbitan indie-nya. Perubahan ketebalan ini apakah ada revisi atau tambahan cerita di dalam terbitan yang baru, aku kurang paham. Jadi, ulasan ini hanya tentang Love Theft versi indie.

Alur ceritanya sendiri ada sisi yang manis, terutama antara Frea dan Liquor, tetapi ada juga yang rasanya nanggung di dalam seri kedua Love Theft ini. Potensi ceritanya untuk digali lagi masih sangat mungkin dan bakalan lebih menarik.

Tentang masa lalu Liquor, yang walaupun diungkap di akhir cerita tapi terkesan datar. Hal-hal yang membuat Liquor sampai depresi/trauma seperti hanya disampaikan, bukan digambarkan.

Beberapa adegan yang buatku agak janggal, seperti kehadiran tiba-tiba Coco di rumah sakit sambil “membawa” polisi untuk menangkap Liquor dan Night, apakah memang bisa seorang pelapor ikut melakukan penangkapan?

Lalu, perubahan karakter Liquor yang menjadi terkesan cengeng. Bukan bermaksud Liquor tidak boleh menangis, tetapi tiba-tiba jadi sering meneteskab air mata. Dan, adegan Liqour sempat mengetik dan mengirim SMS ke Frea di sela-sela intimidasi Coco cukup ganjil buatku. . 

“Kalau ada lampu, mereka (ngengat) akan berpindah ke sana. Mereka tidak selamanya menyukai tempat gelap.” Liquor ~ h.33
Metafora serangga yang menjadi ‘simbol’ para pencuri termasuk ide yang sangat menarik jika lebih dieksplorasi. Meski begitu, untuk sisi romansa dalam ceritanya, penulis pandai memainkan kata-kata dan situasi, antara Liquor dan Frea. So Sweet! menjadi kalimat yang tepat untuk novel Love Theft.

Judul: Love Theft | Penulis: Prisca Primasari | Penerjemah: Nur Aini | Penerbit: Indie Prisca Primasari | Terbit: Cet. I, Des 2015 & Feb 2016 | Bintang:2/5
Share:

Sunday, October 27, 2019

Terima Kasih Sudah Merokok

Ceritanya menarik, tentang juru bicara tembakau yang harus menepis segala macam berita negatif yang berkaitan dengan rokok. Nick Naylor kerap berargumen dengan instansi atau komunitas anti-rokok. Sudah pasti tidak mudah karena Naylor harus menepis realita yang memang sudah terbukti.
“Pekerjaanku menantang. Seperti yang biasa kami katakan di kantor, ‘Kalau kau bisa menangani tembakau, kau bisa menangani apa saja’” Nick Naylor ~ h.95.
Nick yang hampir didepak dari kantornya, tiba-tiba melejit dengan kehadirannya di acara Oprah. Gara-garanya dia harus membangun argumen ketika berhadapan dengan seorang bocah penderita kanker paru-paru. Dan, dia berhasil membalikkan keadaan, yang seharusnya dia sebagai pesakitan, berubah menjadi pahlawan.

Lalu, berlanjut saat dia harus hadir di acara Larry King dan mendapat telepon ancaman. Cerita berkembang menjadi misteri dan konspirasi dalam perusahaan saat terjadi penculikan dan penempelan plester nikotin di sekujur tubuhnya yang menyebabkan Nick masuk UGD. Di sisi lain, Nick sebenarnya tahu dengan kesalahan dari pekerjaannya, tetapi kebutuhan yang membuatnya harus bertahan. .

Sarkasme muncul di sepanjang cerita, terutama dengan pertemuan Nick dengan 2 sobatnya (Mob Squad) yang bekerja sebagai juru bicara perusahaan minuman beralkohol dan senjata. Diskusi yang cukup kocak, saling bertukar ide/tips untuk menghadapi atau memperlihatkan produk mereka “baik” di sela-sela berita/penelitian yang menjatuhkan.


Kesatiran novel ini terlihat sejak dari sampul bukunya. Thank You for Smoking memberi sindiran keras pada perusahaan-perusahaan kapitalis yang menghalalkan segala cara untuk memasarkan produknya. Sarkasme paling “lantang” biasanya terjadi saat Mob Squad berkumpul. .

Obrolan mereka berisikan curhatan suntuk berhadapan dengan pihak kontra; atau cara menepis kenyataan efek-efek buruk dari produk mereka. Meski begitu terkadang pertemuan mereka seperti ingin meredam rasa bersalah. .

“Entahlah. Anak-anak yang cacat sangat berat. Aku beruntung. Produkku hanya menyebabkan mereka gundul sebelum membunuh mereka.” Nick ~ h.115.
Selain sindiran keras, buku ini juga mempertontonkan permainan dalam kata-kata yang dapat mempengaruhi/mengubah persepsi. Kebayang gak, kalau kita disuruh berargumen “membela” rokok yang mudharatnya lebih banyak, terutama pada kesehatan? Pasti membutuh kemampuan bersilat lidah yang mumpuni.

Membolak-balik penelitian kesehatan menjadi sesuatu yang terus dipertanyakan. Kalau mulai kewalahan, senjata pamungkasnya adalah mulai menyerang komunitas/pribadi dari pihak kontra. Konflik dalam Thank You for Smoking tidak hanya pada misteri penculikan, tetapi juga dalam diri Nick, seperti momen-momen dia bertemu dengan Kapten. Sekuat apapun manusia menutupi/membenarkan yang salah, selalu akan dibuntuti rasa bersalah.
 


Judul: Terima Kasih Sudah Merokok | Judul Asli: Thank You for Smoking| Penulis: Christian Buckley | Penerjemah: B Sendra Tanujaya | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Terbit: Cet I, April 2008 | Tebal: 415 hlm | Bintang:3/5
Share:

Saturday, October 19, 2019

Cut Nyak Dien; Kisah Ratu Perang Aceh



Salah satu nama pejuang wanita yang kerap disebut dalam tulisan/perbincangan sejarah kemerdekaan Indonesia, adalah Cut Nyak Dien. Pejuang wanita dengan kebencian yang meluap-luap terhadap kolonial Belanda, hingga kondisinya yang sudah tidak berdaya pun, sama sekali tidak menyurutkan semangatnya melawan penjajah.

Cut Nyak Dien yang ditulis Madam Lulofs, seorang penulis dan jurnalis asal Belanda, berusaha menceritakan akar sejarah dan kehidupan sang ratu perang Aceh ini. Pengalamannya pernah tinggal di wilayah Aceh, memberikan gambaran kondisi alam dan masyarakat yang cukup detail, baik dari pihak kolonial belanda dan rakyat Aceh.

Kondisi Aceh diceritakan dengan runut, dari kisah nenek moyang Cut Nyak Dien, Machudun Sati yang berseteru dengan Sultan Jeumaloy, hingga berlanjut anak keturunan Machudun yang berjuang untuk tanah Aceh. Di dalam buku ini, perseteruan tidak hanya antara kolonial dan rakyat Aceh, tetapi antar pemimpin mukim/sagi.

“Orang Aceh memang keras hati. Mereka tidak akan tentram sebelum musuhnya atau dia sendiri yang gugur dalam peperangan. Mereka tidak mau tunduk dengan sebenar-benarnya!” h.182
Perjuangan rakyat Aceh dengan gerilya, yang disebut Perang Sabil, bersama koalisi para pemimpinnya yang tetap tidak mau tunduk, juga mengalami pasang-surut. Namun, kekuatan filosofi dari Perang Sabil yang menjadikan perjuangan tersebut sebagai jihad, menjadikan sebagian rakyat dan pemimpin, termasuk Cut Nyak Dien pantang tunduk.

Meski buku ini tergolong novel sejarah, tetapi penulis tidak membuat kisahnya menjadi drama, tetapi lebih fokus pada segala lika liku dari perjuangan melawan penjajahan di tanah Aceh.

Dien, panggilan dari Cut Nyak Dien, tergambar sebagai wanita pemberani dengan pemikirannya yang keras; latar belakang adat dan agama yang kuat; serta kesantunannya kepada suami, baik Teuku Ibrahim maupun Teuku Umar. Sebagai putri dari pemimpin 6 Mukim, Ulubalang Nanta Setia , dari kecil Dien banyak mendengar permasalahan rakyat Aceh dari dialog ayahnya dengan pemimpin/ulama yang kerap singgah di rumahnya.
“Dari situlah ia (Dien) menyadari kejahatan kaum kaphe (belanda) yang datang ke tanah Aceh dengan berpura-pura sebagai sahabat. Dien juga menyadari tekad orang Aceh yang besar untuk mempertahankan tanahnya dari orang kaphe itu.” ~ h.44.
Meski berjudul Cut Nyak Dien, sebagian besar isi buku ini adalah sejarah perjuangan rakyat Aceh. Porsi kisah dari pejuang wanita ini tidak lah banyak, bahkan menjelang akhir cerita sosok Teuku Umar cukup menyita isi buku ini. Selain itu, kehidupan Cut Nyak Dien setelah diasingkan juga tidak banyak diceritakan.

Minimnya referensi membuat penulis mengandalkan syair Dokarim yang termuat dalam Hikayat Perang Kumpeni dan wawancara dengan orang-orang yang pernah bersinggungan langsung dengan tokoh-tokoh Aceh. Meski begitu, buku ini cukup bisa memberikan gambaran besar kondisi Perang Sabilullah.

Judul: Cut Nyak Dien; Kisah Ratu Perang Aceh | Penulis: Madelon H. Székely Lulofs | Penerjemah: Tim Penerjemah Kobam | Penerbit: Komunitas Bambu | Terbit: Cetakan III, April 2017  | Tebal: 301 hlm | Bintang:3/5
Share:

Sunday, March 10, 2019

Ketika Literasi Menggaungkan Suara dari Marjin


Literasi tidak hanya sekadar angka prosentase dari minat baca dalam masyarakat. Pola berpikir inilah yang diangkat Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah. Melalui tesis keduanya, mereka berbicara bahwa makna literasi menjadi sangat luas ketika dihadapkan pada sosial ekonomi. Mereka mengambil studi kasus dengan pendekatan pada komunitas anak jalanan dan BMI (Buruh Migran Indonesia), atau biasa disebut TKW. Pendekatan etnografik mereka pergunakan untuk meneliti praktik literasi dalam keseharian dua komunitas tersebut, sebagai kelompok marjinal. 

"... penelitian etnografik identik dengan upaya peneliti untuk mengaburkan 'jarak budaya' dengan komunitas yang diteliti." ~ h.13. Metode yang mengharuskan Sofie  langsung berhadapan dengan anak jalanan dan Tiwik dengan para BMI, untuk memahami pola kebiasaan dan cara berpikir mereka. 

Dua kelompok ini akan dibahas secara bergantian dalam bab 2: Suara dari Jalanan, sampai dengan bab 5: Kapital Budaya dan Teks Kultural dalam Praktik Literasi Lokal. Pembahasan yang akan sangat menarik, mengingat mereka kerap dianggap sebagai sosok pinggiran yang tak kenal literasi. 

Suara dari Jalanan menjadi bab awal yang menggambarkan literasi melalui aktivitas PAUD Bestari dan pendampingan anak-anak di lampu merah supaya dapat mengikuti kejar paket. "Memberikan akses kepada mereka  untuk mendapatkan ijazah SD merupakan salah satu cara yang dianggap efektif untuk memberdayakan mereka dalam memperkuat posisi tawar dan benteng pertahanan mereka dalam menghadapi trafficking." ~ h.118

Aktivitas literasi bagi anak jalanan berarti untuk kelangsungan hidup mereka, bukan tentang kemampuan baca-tulis. Literasi juga menjadi sarana mengungkapkan pikiran dan peran mereka, yang ternyata di luar apa yang dipikirkan orang luar. Penulis juga menyampaikan bagaimana realita di lapangan tentang penyampaian materi di 'kelas' yang pastinya tidak sekaku kurikulum sekolah, dan sambutan anak jalanan/keluarga tentang usaha literasi yang diberikan. 


Buruh Migrain Indonesia yang lebih dikenal dengan sebutan TKW adalah komunitas kedua yang diangkat oleh Pratiwi Retnaningdyah atau Tiwik. Terlihat dari penjabaran Mbak Tiwik tentang pengaruh literasi bagi BMI sangat besar, terutama mendekonstruksi identitas mereka. "Sebenernya aku cuma mau bilang kalo babu juga bisa nulis. Jadi bukan hanya para sastrawan dengan jidat berkerut-kerut saja yang bisa" ~ Rie Rie (narasumber). Mbak Tiwik mencermati aktivitas literasi dari para BMI Hong Kong, dari perpustakaan koper, FLP Hongkong sampai aktivitas mereka nge-blog.

Melalui literasi para BMI menunjukkan bahwa stereotip bodoh, manut, kampungan yang tersemat dalam status mereka adalah SALAH. Kesangsian atas kecerdasan BMI, dilibas oleh beberapa BMI dengan praktik literasi yang dilakukan melalui blog. Tulisan tidak hanya curhatan semata, tapi juga berisikan cerpen dan opini tentang fakta di sekitar mereka.

Saya tidak dapat berkomentar banyak terkait metodologi atau teknik penelitian kedua penulis karena minimnya ilmu, tapi membaca buku Suara Dari Marjin memberikan sebuah pandangan baru tentang literasi. Minat baca tulis hanyalah sebagian kecil dari makna literasi, tapi ada makna yang lebih mendalam yaitu peran literasi terhadap kehidupan sosial budaya dalam masyarakat. 

"Kegiatan literasi yang tak hanya meliputi membaca dan menulis, tetapi juga berkreasi dengan lagu, musik, mencurahkan gagasan dalam diskusi, menjadi sarana yang efektif bagi kaum marginal untuk memahami diri dan menyatakan identitas diri mereka." ~ h.141


Judul: Suara Dari Marjin | Penulis: Sofie Dewayanti & Pratiwi Retnaningdyah | Editor : Anwar Holid | Penerbit: Rosda | Terbit: Cetakan I, Mei 2017 | Tebal: 234 hlm | Bintang:4/5
Share:

Search

Member of BBI

Member of BBI
ID 1301050

Another Blog

Popular Posts

Done!

2019 Reading Challenge

2019 Reading Challenge
Sinta has read 3 books toward her goal of 100 books.
hide

Blog Buku

Blog Cerita

Kumpulan Ulasan

Copyright © Jendelaku Menatap Dunia | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Blogger Templates20