Twitter Facebook Delicious Digg Stumbleupon Favorites More
everyone is a reader. Some just haven't found their favorite book yet

Thursday, September 7, 2017

Pegunungan Tinggi Portugal


“Oleh orang yang ditinggalkan, setiap kematian akan dirasakan sebagai pembunuhan, sebagai perenggutan nyawa seseorang yang disayanginya secara tidak adil. Dan kita yang paling beruntung sekalipun akan bersinggungan dengan setidaknya satu pembunuhan dalam kehidupan kita; kematian kita sendiri. Itu takdir kita.” (Maria ~ h. 207) 

Saat kematian tiba menyela cinta yang teramat besar, maka kehilangan yang mendalam akan hadir. Konflik penerimaan diri atas rasa kehilangan menjadi tema utama ketiga kisah yang disampaikan Yann Martel. Kisah-kisah yang dituturkan dengan gaya bercerita yang berbeda. Meski begitu, ketiganya ‘kelak’ akan memiliki benang merah, sekaligus pesan yang membutuhkan pemikiran/perenungan yang tidak instan.

Tomas adalah tokoh sentral pada kisah pertama ‘Tanpa Rumah’. Kesedihan akibat kehilangan ayah, pasangan, dan anak, menciptakan ‘ide’ yang direalisasi dengan aksi berjalan mundur. “… berjalan mundur, memunggungi dunia, memunggungi Tuhan, bukanlah cara Tomas untuk mengungkapkan duka. Ini adalah caranya mengajukan keberatan. Karena jika semua yang kaucintai dalam kehidupanmu telah diambil, apakah yang bisa kauperbuat selain mengajukan keberatan?” ~ h. 21

Hingga, penemuan buku harian Bapak Ulisses ‘mencerahkan’ kesedihan Tomas, meski tidak menghapus jalan-mundurnya. Disebutkan sebuah benda telah dibuat oleh Bapak Ulisses, yang menginspirasi Tomas untuk melakukan misi perjalanan menemukan benda kuno tersebut. Sebuah perjalanan yang dianggapnya sebagai perlawanan kepada Tuhan. Sebuah pesan ceritanya yang mungkin terkesan ‘berat’, tapi diceritakan dengan gaya lucu nan satir.

Berlanjut ke ‘Menuju Rumah’, kisah kedua ini lebih terasa absurd. Dibuka dengan obrolan dokter patologi dan sang istri, Eusebio dan Maria, yang lebih tepatnya monolog Maria tentang kisah Yesus dalam Injil. Pemikiran nyleneh Maria ini coba menguraikan dan menganalogikannya melalui karya Agatha Christie. Mungkin agak membosankan, tapi tidak, bagi penggemar Agatha Christie karena analisa Maria tidak sekadar dibahas sambil-lalu.

“Kalau kita menempatkan misteri pembunuhan Agatha Christie di Injil dan menyorotinya, akan terlihat kesamaan dan kesesuaian, kesepahaman dan kesetaraan. Kita akan menemukan keserasian pola dan kemiripan narasi. Itu adalah peta ke kota yang sama, perumpamaan dari hal yang sama. Semuanya berpendar dengan transparansi moral yang sama.” ~ h.207. 

Alur kisah kedua ini menjadi lebih ‘naik’, saat kedatangan Maria, yang lain, membawa mayat suaminya untuk dibedah. Pembedahan yang diiringi cerita kehilangan dan kejutan di setiap pembedahan bagian tubuh sang suami. Kedua kisah awal ini berujung pada akhir cerita yang sama, yaitu kesedihan yang masih mengurung Tomas Eusebio.

Kisah ketiga berkisah tentang perjalanan Peter bersama simpansenya, Odo. Sepanjang perjalanan Peter mengamati perilaku simpanse sembari merenungi kehidupan dan keluarganya. “Nah, kalau begitu, kalau masa lalu dan masa depan sudah tidak menarik, apa yang bisa mencegahnya dari duduk di lantai sambil merawat seekor simpanse dan mendapatkan perawatan balasan? Pikirannya tertuju pada momen ini, pada tugas di tangannya, pada teka-teki di ujung jemarinya.” ~ h. 358. Dan, kisah Peter dan Odo bisa dianggap sebagai kesimpulan dari kegelisahan-kegelisahan yang dituturkan pada dua kisah sebelumnya.

Buku ini berisikan metafora-metafora, dari pemahaman saya, yang menganalogikan tentang Tuhan, cinta dan kematian. Makna yang terkandung dalam ketiga cerita yang sebenarnya berkaitan ini tidak agak sulit diraih dalam sekali baca. Tapi, kunci dari keseluruhan cerita menurut saya, adalah kalimat terucap dari pesan Maria, istri sang patologi, “Iman adalah jawaban atas kematian.” ~ h.213.

Pegunungan Tinggi Portugal (The High Mountains of Portugal) |  Yann Martel |  Gramedia Pustaka Utama | 2017; 414 hlm | 4/5 bintang

Share:

Friday, August 25, 2017

My Brief History (Sejarah Singkat Saya)


“Saya bahagia bila bisa menambahkan sesuatu terhadap pemahaman kita atas alam semesta.” ~ Stephen Hawking

Beberapa kali saya melihat sosok Stephen Hawking di Youtube. Saya sendiri tidak terlalu berminat dengan buku-buku esainya, bahkan tidak juga paham pro-kontra yang ditimbulkan segala pemikiran dari Stephen Hawking. Tapi, rasanya luar biasa melihat kondisinya yang hampir tidak dapat melakukan apa-apa, tapi memilih untuk  tetap berkarya. Menyampaikan pemikiran-pemikirannya melalui tulisan atau seminar dengan segala bantuan teknologi yang sangat membantu dan memudahkan aktivitasnya.

Terlahir pada 8 Januari 1942, Hawking tumbuh dalam keluarga berpendidikan. Perjalanan studi Hawking dari kecil sampai remaja, tidak ada yang istimewa tapi orangtuanya selalu mengusahakan yang terbaik. “Pekerjaan saya di kelas sangat tidak rapi, dan tulisan tangan saya memusingkan guru. Tapi teman-teman sekelas menjuluki saya Einstein, jadi mungkin mereka melihat pertanda sesuatu yang lebih baik.” ~ h.29

“Fisika selalu menjadi mata pelajaran paling membosankan di sekolah karena sangat mudah dan gamblang. Kimia lebih asyik karena ada hal-hal tak terduga seperti ledakan. Tapi fisika dan astronomi menawarkan harapan memahami dari mana kita datang dan mengapa kita ada di sini. Saya ingin merenungi luasnya alam semesta.” ~ h. 36

Tak luput, dalam autobiografinya Hawking menjabarkan dengan singkat perkembangan dunia fisika saat sedang menempuh pendidikan di Oxford, dan saat tahun terakhir di sana, dia mulai mengalami gejala dari penyakitnya. “Mimpi lain yang saya dapat berkali-kali adalah saya mengorbankan jiwa untuk menyelamatkan orang lain. Bagaimanapun, jika saya akan mati, mendingan berbuat baik dulu.” ~h.61

Penyakit Hawking berkaitan dengan melemahnya sistem otot sehingga perlahan membuatnya lumpuh. Meski di awal muncul rasa putus asa, tapi kemauan untuk menyumbangkan pemikirannya memperkuat semangat hidupnya. Tumbuh yang lumpuh tidak menghambat otaknya untuk berproduksi dengan teknologi, hingga buku-buku pun tetap lahir. Meski begitu, Hawking tidak banyak bertutur tentang penyakitnya, hampir sebagian besar pertengahan buku membahas tentang pemikiran-pemikiran alam semesta. Pembahasan yang cukup membuat pusing pembaca yang minim pengetahuan tentang hal tersebut. Meski begitu, selipan-selipan canda sedikit melonggarkan kerutan kening.

Bagian kehidupan Hawking yang juga disinggung adalah keluarga dan pernikahan. Dua kali menikah dan dua orang putra/i memberi kebahagiaan tersendiri dalam diri Hawking di sela-sela gejolak pemikirannya yang seperti tidak ingin berhenti. Tapi, melihat betapa tipisnya autobiografi seorang fenomenal bernama Stephen Hawking, bisa diprediksi tidak terlalu mampu menggambarkan kehidupannya dengan mendetail. Kehidupan Hawking hanya dibahas sepintas-pintas. Mungkin akan lebih mendalam dan tebal jika ditulis oleh orang lain dengan riset kehidupan sosok yang sensasional ini. Bagi penyuka film, perjalanan hidup Hawking juga telah divisualisasikan dalam A Theory of Everything.

My Brief History (Sejarah Singkat Saya) |  Stephen Hawking |  Gramedia Pustaka Utama | 2014; 152 hlm | 3/5 bintang

Share:

Sunday, August 20, 2017

[Cerita Buku] Kekuatan Otak




Sebenarnya tidak banyak berharap dengan buku biografi #StephenHawking yang tipis ini bisa menggambarkan sosoknya yang fenomenal ... dan memang terlalu singkat.

Tapi, buku ini menunjukkan bagaimana otak dapat tetap bekerja maksimal meski raga hanya dapat bergerak dengan mesin dan kursi roda.

Semoga ceritanya nanti bisa disambung di saat review ☺☺
Share:

Wednesday, December 21, 2016

A Chef of Nobunaga Vol. 6

Judul: A Chef of Nobunaga Vol. 6 | Penulis: Mitsuru Nishimura & Takurou Kajikawa | Penerjemah: Febrian Anatasyah | Penerbit: m&c! | Terbit: 2014 | Tebal: 192 hlm | Harga: Rp. 22.500 | Bintang: 4/5


Kondisi terdesak Nobunaga ternyata tidak membuat kepalanya buntu dengan rencana. Nobunaga memutuskan menantang memasak kuil Hongaji, pihak yang dapat mempengaruhi kekuatan lawan. Isi perjanjian mereka, apabila pihak Oda menang, “Kuil Honganji harus menyerahkan setengah dari wilayahnya kepada pihak Oda” sedangkan, apabila pihak Kuil Honganji menang, “Pihak Oda tidak boleh berbuat macam-macam terhadap kuil Honganji dan tidak boleh mencampuri urusan keshogunan selama 10 tahun.”
“Dengar baik-baik Ken, ini bukan negosiasi. Dengan membuat kuil Honganji menyerah, kita dapat memperlemah kekuatan Sekte Monto yang berhubungan dengan ketua dari setiap negeri. Berjuanglah dengan mempertaruhkan nyawamu.” (Oda Nobunaga)
Juru masak Kuil Honganji semakin misterius karena pertemuannya dengan Ken sempat membuatnya syok, sepertinya juga memiliki hubungan dengan Ken di masa lalu (?). Berita dukanya di seri kali ini adalah kematian seseorang yang sangat penting bagi Ken dan Oda Nobunaga, termasuk saya…hiks

Share:

Search

About Me

My photo

Seorang blogger yang suka membuat ulasan buku di Jendelaku Menatap Dunia dan Yuk Membaca Buku Islami

IG: @sinta.705 | email: sinthionk@gmail.com | twitter: @sinta_nisfuanna

Member of BBI

Member of BBI
ID 1301050

Another Blog

Popular Posts

Done!

2017 Reading Challenge

2017 Reading Challenge
Sinta has completed her goal of reading 100 books in 2017!
hide

Blog Buku

Blog Cerita

Kumpulan Ulasan

Copyright © Jendelaku Menatap Dunia | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Blogger Templates20