Twitter Facebook Delicious Digg Stumbleupon Favorites More
everyone is a reader. Some just haven't found their favorite book yet

Friday, November 2, 2018

Mark Twain Blusukan

Kegembiraan Mark Twain seperti tak terlukis, ketika diajak sang kakak ke Nevada, untuk menemaninya selama menjadi Gubernur atau di sebut Tuan Sekretaris. “Kata ‘perjalanan’ terdengar sangat merangsang bagiku.” Bayangan blusukan dan kehidupan selama tiga bulan di dunia luar, mematik imajinasinya melihat padang pasir, Indian, binatang liar, dan segala yang dapat memancing adrenalinnya. Rencana tiga bulannya hanya angan semata, karena Mark Twain bertualang selama tujuh tahun.


“Sampai hari ini pun masih tergetar hatiku memikirkan perasaan itu---rasa kehidupan, kegembiraan, keliaran kemerdekaan yang membuat darah seakan-akan menari... “ h.47

Mark Twain bercerita tentang awal perjalanan blusukan mereka di atas kereta pos, perjalanan yang memakan waktu sekitar 15 hari. Selama perjalanan, Mark Twain menggambarkan goyangan, hentakan, dan mulusnya jalur yang harus mereka lalui. Juga, bagaimana kereta pos beroperasi selama di perjalanan, pos pemberhentian, pergantian kuda, dan sosok-sosok kusir/kondektur, semua digambarkan dengan menarik dan jelas. Ditambah lagi, pengalaman berhadapan dengan ancaman  perampokan para bandit atau kebencian para Indian yang sering memanah/ menembak kereta yang lewat.

Petualangan blusukan tak berhenti hanya selama perjalanan di kereta pos, Mark Twain mulai berhadapan dengan kebosanan di kota Nevada, hingga membuatnya ingin kehidupan yang lebih ‘semarak’. Saat itu demam perak sedang melanda Nevada. Pemberitaan dipenuhi dengan kabar banyaknya Orang Kaya Baru yang berhasil menjual tanah tambangnya dengan harga berlipat ganda karena mengandung perak. Menggiurkan.

Mark Twain pun tak luput ingin mencari tambang. Kisah tentang tambang perak inilah yang mengisi sebagian besar perjalanan, dia merasakan perjuangan mendaki, berkeliling mencari tambang yang tepat, bahkan saat menemukannya, “harta kami masih berabad-abad jauhnya di depan.” Menggali, sampai meledakkan batu harus dilakukan untuk mendapatkan lapisan terdalam, demi semakin kayanya kandungan emas dan perak.

Lelah dengan usaha mati-matian Mark Twain dan kawan-kawannya, dia menyerah dan beralih menjadi buruh di perusahaan peleburan emas dan perak, yang ternyata melelahkannya tidak kalah dengan saat menambang. Sebenarnya dalam buku Blusukan ini, Mark Twain pernah mendapat peluang menjadi kaya lewat tambang, tapi gagal karena keteledoran dan pikirannya yang hanya dipenuhi angan-angan, akan digunakan apa uangnya nanti.

Selain, penambangan perak dan emas, kebiasaan membunuh menjadi tema yang banyak dibahas. “Alasan kenapa begitu banyak pembantaian adalah di daerah pertambangan baru, unsur-unsur kejahatan selalu menonjol. Orang tidak akan dihormati sebelum dia ‘membunuh orang’. Itulah kalimat yang umum didengar.” (h.377) Bahkan di beberapa bagian, Mark Twain bercerita tentang jawara-jawara yang saat itu ditakuti karena kebiasaannya membunuh orang dengan entengnya.

Mark Twain menceritakan perjalanannya dengan kocak, agak tidak menyangka, karena sebelumnya belum pernah membaca buku klasik dewasa yang bercerita dengan lucu. Menikmati saat-saat Mark Twain mendeskripsikan tentang keindahan alam di Danau Mono, tertawa membaca pertemuannya dengan ‘cerita lucu’ yang diceritakan setiap orang menaiki kereta pos, dan juga saat Mark Twain terjebak bersama dua temannya di salju, serta membuat pengakuan dosa. Selipan sinisme yang berhamburan juga sangat menghibur.

Pengalaman Mark Twain menjadi wartawan, menjadi sudut pandang  baru tentang penambangan perak dan emas. Seperti sebelum-sebelumnya, dia menceritakan cara beroperasi dunia percetakan di masa itu. Sebagai wartawan, dia mulai menjajaki kota San Fransisco, lalu berlanjut ke Hawaii. Sayangnya, saat berada di Hawaii cerita terlalu padat informasi,  tentang bagaimana Mark Twain menikmati tinggal di sana tidak terlalu dibahas, berbeda dengan kota sebelum-sebelumnya.

Gambaran-gambaran kehidupan tahun 1840 dideskripsikan dengan baik, hingga terasa nyata. Meski kadang ‘keluar jalur’ dan ada bagian yang membosankan, kisahnya tetap menarik untuk diikuti dan sering berhasil memancing rasa penasaran. Sayangnya, autobiografi Blusukan ini dipenuhi dengan typo yang agak mengganggu.

Judul: Blusukan
Judul Asli: Roughing It
Penulis: Mark Twain
Penerjemah: Djokolelono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetak: Pertama, Januari 2017
Tebal: 682 hlm
Share:

0 komentar:

Post a Comment

What Do You Things?

Search

About Me

My photo

Seorang blogger yang suka membuat ulasan buku di Jendelaku Menatap Dunia dan Yuk Membaca Buku Islami

IG: @sinta.705 | email: sinthionk@gmail.com | twitter: @sinta_nisfuanna

Member of BBI

Member of BBI
ID 1301050

Another Blog

Popular Posts

Done!

2017 Reading Challenge

2017 Reading Challenge
Sinta has completed her goal of reading 100 books in 2017!
hide

Blog Buku

Blog Cerita

Kumpulan Ulasan

Copyright © Jendelaku Menatap Dunia | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Blogger Templates20