Twitter Facebook Delicious Digg Stumbleupon Favorites More
everyone is a reader. Some just haven't found their favorite book yet

Thursday, May 17, 2012

Anak Sejuta Bintang


“…Bintang itu bintang sama saja dengan yang dilihat orang biasa. Tetapi bagi mereka yang mengerti, bintang itu bukan bintang sembarangan yang bisa diremehkan. Yang membedakan bukan pada bintangnya, melainkan pada kepala orang yang melihatnya…” h.397
Awalnya ketertarikan saya dengan buku ini dikarenakan desain sampul yang menurutku terasa ‘hangat’. Gambar ibu merangkul  anak lelakinya sembari melihat pemandangan kota dari suatu ketinggian, ditambah adanya langit berbintang, rasanya benar-benar indah. Cantiiiik banget! Saya pun memutuskan sekali waktu harus membaca buku tersebut. Hingga kemudian, buku ini berhasil sampai ke tangan saya, tidak lepas karena rayuan ‘event diskon 30% for all item’ yang diadakan Mizan sampai 31 Mei 2012.
 

Membaca novel biografi memang agak susah untuk membedakan mana yang fiksi dan mana yang nyata. Keputusan pun ada pada tangan pembaca, mau berpusing-pusing menerka mana yang fiksi dan nyata, atau mengikuti saja alur cerita yang disuguhkan dalam buku. Saya pun memilih pilihan kedua, maka selanjutnya review ini hanya mengomentari alur cerita tanpa menengok kontroversi di balik terbitnya buku ini  dan berkomentar, “Apa ini nyata atau dibuat-buat demi pencitraan sang tokoh?”
 

Sebagian besar cerita berisikan tentang masa kecil Aburizal Bakrie, yang menempuh sekolah dasar di SR Perwari. Perjalanan kisah hidup Ical, nama kecil Aburizal Bakrie, di sekolah banyak diwarnai nilai persahabatan, semangat, kesetia-kawanan, dan persaingan. Sayangnya, sepanjang membaca saya kurang menangkap adanya penjuangan dalam kehidupan Ical yang memang berkecukupan, bahkan bagaimana Ical bisa tetap ‘menggenggam’ juara satu dari kelas 1 hingga 5, rasa-rasanya lebih dikarenakan Ical memang sudah pintar dari sananya.
 

Cerita pun cenderung datar dan agak membosankan, meski saya cukup terhibur dengan keseruan dunia anak-anak yang dituturkan lewat permainan sepak bola dan kasti, juga dari celetukan Wiwik atau Adian. Saat kejadian mengumpulkan anak-anak di Ciparay yang mungkin sejatinya disusun untuk mengejutkan pun tidak terlalu ‘menghebohkan’.  Banyaknya tokoh yang disuguhkan pun menurut saya agak membingungkan, terutama teman sekelas Ical. Tidak jarang di sela-sela membaca saya bertanya, “Ini anak yang mana, ya?”
 

Saya agak tercenung ketika membaca bab tentang kemarahan dan dendam yang mengendap dalam diri Lembu dan Susanto, bocah kelas 2 dan 4 SD, hingga berani mempersiapkan pisau demi melawan preman. Apakah sama dengan dendam dan kemarahan yang kerap terekam di layar televisi, tentang beragam tawuran yang masing-masing orangnya mempersiapkan senjata tajam, dan mirisnya juga dilakukan oleh bocah-bocah berseragam merah-putih?
 

Meski kisah dalam buku ini diniatkan untuk menceritakan dunia anak, tapi saya agak kesulitan membayangkan sosok anak-anak pada figur Ical. Dialog yang sering bernada dewasa, perasaan cinta yang malah mengingatkan pada romansa remaja, agak mengaburkan kepolosan khas anak-anak di usia 4 – 8 tahun. Hanya aktivitas menyanyi di dalam kelas dan permainan sepakbola/kasti-lah yang mengembalikan ingatan saya bahwa tokoh dalam buku ini masih anak-anak.
 

Selain, berkisah tentang kehidupan sekolah Ical, ada juga selipan mengenai pendidikan yang diterapkan orangtuanya dalam rumah. Keteladanan, memberi kepercayaan pada anak dan kesediaan untuk berdialog adalah sikap-sikap yang layak diambil ibrahnya oleh pembaca. Menariknya, sepanjang membaca Anak Sejuta Bintang ini, terselip juga cerita masa silam Bapak Achmad Bakrie, yang sepertinya layak untuk dijadikan novel biografi juga. Bagaimana kisah Bapak Achmad Bakrie, ayah Ical, yang masa kecilnya pernah berjualan roti sembari mengumpulkan kemiri dan gambir sepertinya lebih memberikan inspirasi dan memperlihatkan perjuangan hidup. Ketika sang Ayah bercerita dirinya pernah bangkrut, saya pun sempat berpikir bagaimana kehidupan keluarga Ical ketika itu, atau pada saat itu Bapak Achmad Bakrie belum menikah?
 

Melihat besarnya peran Ayah daripada sang Ibu dalam membimbing pembentukan karakter Ical, pertanyaan muncul, kenapa sampul depan malah menonjolkan sosok Ibu? Begitupun ketika membaca bab terakhir, kembali saya mempertanyakan masalah sampul buku. Kenapa pada sampul memperlihatkan sosok perempuan, padahal yang kerap mengajak Ical menatap langit berbintang adalah Ayahnya?

Judul: Anak Sejuta Bintang
Penulis: Akmal Nasery Basral
Penyunting: Khrisna Pabichara
Penerbit: Expose [Mizan Group]
Cetak: Pertama, Januari 2012
Tebal: 400 hlm
Bintang: **

Video Peluncuran Buku Anak Sejuta Bintang 


:: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke FB Parcel Buku yuk! ::
Share:

0 komentar:

Post a Comment

What Do You Things?

Search

About Me

My photo

Seorang blogger yang suka membuat ulasan buku di Jendelaku Menatap Dunia dan Yuk Membaca Buku Islami

IG: @sinta.705 | email: sinthionk@gmail.com | twitter: @sinta_nisfuanna

Member of BBI

Member of BBI
ID 1301050

Another Blog

  • Think Dinar! - Judul: Think Dinar! | Penulis: Endy J. Kurniawan | Editor: Asma Nadia | Penerbit: *AsmaNadia Publishing* | Terbit: Ketujuh, Juni 2012 | Tebal: xxii + 298 h...
    3 months ago
  • Wonderful Life - Judul: *Wonderful Life* | Penulis: Amalia Prabowo | Penyunting: Hariadhi & Pax Benedanto | Penerbit: POP | Terbit: 2015 | Tebal: 169 hlm | Harga: Rp. 50.00...
    3 months ago
  • [Coretan Iseng] Pena Atau Mesin ?? - Ada petikan menarik dari buku 1Q84 Jilid 1, Kalimat yang persis sama, saat dibaca pada layar mesin ketik elektronik dan dibaca pada kertas, memberi kesan y...
    4 months ago

Popular Posts

Done!

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Sinta has completed her goal of reading 60 books in 2016!
hide

Blog Buku

Blog Cerita

Kumpulan Ulasan

Copyright © Jendelaku Menatap Dunia | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Blogger Templates20