Twitter Facebook Delicious Digg Stumbleupon Favorites More
everyone is a reader. Some just haven't found their favorite book yet

Sunday, March 14, 2010

Alice (not) in Wonderland


Alice [not] in Wonderland bukan plesetan dari karya Lewis Carol yang berjudul sama, tanpa “not”. Buku ini berbentuk diary yang ditulis oleh Alice, bocah berusia 13 tahun, yang memiliki daya pikir yang kritis dan meluap-luap. Sejak kecil Alice “dididik” dengan sedikit unik oleh orang tuanya. Mereka mengenalkan buku The Hobbit sekaligus membuat Alice selalu berpikiran bahwa dirinya adalah Hobbit, serta mengajarkan menari dan menyanyi di atas meja.

Ketika hari pertamanya menginjak kaki di TK, Alice dikenakan kostum Hobbit oleh ibunya. Alice melangkah dengan percaya diri dan selalu mengatakan dirinya Hobbit setiap temannya bertanya namanya. Akibatnya Alice menjadi sasaran ejekan teman sekolahnya. Celaan teman-temannya terus berlanjut hingga terjadi tragedy besar yang berujung dengan kemarahan Mama yang menyebabkan Alice keluar dari sekolah dan kembali untuk belajat di rumah. Semakin lengkaplah “kekelaman” masa kecil Alice.

Setelah 10 tahun menjadi pelajar didikan rumah, Alice didaftarkan menjadi anggota Klub Remaja Masa Transisi dan bertemu dengan Bob, si Raja Kematian, sebutan dari Alice saat melihat kostum Bob yang tidak pernah meninggalkan warna hitam. Bob, seorang konseling yang sering ketakutan jika tidak dapat memberikan yang terbaik untuk Alice. Hampir setiap pertemuan Bob selalu berusaha memberikan solusi atau nasihat yang didengarkan Alice dengan tenang demi membuat Bob dapat merasa dirinya berguna.

Cara berpikir Alice yang cenderung menyalahkan dan negatif membuatnya bercita-cita untuk menjadi seorang kritikus radikal yang sangat dihormati. Profesi tersebut dianggapnya dapat mengeluarkan aura negatif yang dimilikinya. Walaupun terlihat aneh, Alice adalah anak yang dapat melihat ke depan dan memampu merencanakan dengan baik apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan cita-citanya. Memiliki ibu seorang hippies seringkali membuat Alice mengalami stress dan selalu berusaha menghindar setiap kali ibunya mulai mengajaknya ke toko-toko hippies atau memperkenalkannya dengan komunitas hippiesnya.

Selain ingin menjadi kritikus radikal. Alice memiliki daftar cita-cita yang ingin dicapainya tahun ini
1. Memutuskan jalur karir unik dan inovatif,
2. Perbanyak kontak dengan orang-orang yang bukan anggota keluarga,
3. Belajar nyetir!
4. Mulai cari co?
5. Bikin artikel remaja ala teori-teori Einstein yang membandingkan remaja dengan kelompok ayam yang sebaya,
6. Ngelahap abis seri LORD OF THE RINGS, demi membuktikan membaca The Hobbit di usia 4 tahun bukan sesuatu yang aneh,
7. Ganti gaya!
8. Kembali menginjakkan kaki ke sekolah,
9. Menjadi feminis pemula.

Ibu seorang hippies, ayah yang membuat bendel jadwal kegiatan ketika Aubrey menginap di rumah Alice dan adik, McGreroy yang begitu mencintai ikan-ikannya, menjadikan keluarga ini menjadi begitu eksentrik.

Di usianya yang ke-13, Alice mulai menyukai eksistensi dan perlakukan yang special untuknya walaupun itu hanya didapatnya ketika wajahnya babak belur dihajar Linda sembari menunjukkan pada orang-orang betapa merananya. Bahkan ketika memarnya mulai lenyap keinginannya untuk mempertahankan “keeksistensian” dengan menggunakan melakukan special efek menggelapkan kembali memar lewat kosmetik milik ibunya.

Diari yang dipenuhi dengan kesinisan tetapi meledak-ledak. Cerita agak membingungkan karena cerita sering meloncat-loncat keluar dari alur. Tidak konsisten dalam penggunaan kata, di awal menggunakan kritikus budaya, tetapi di belakang kritikus cultural.

Judul : Alice (not) in Wonderland
Penulis : Susan Juby
Penerbit : Teraju
Tahun : Juli 2005
Genre : Teenlit
Tebal : 406 halaman
ISBN : 979-3825-04-9

kunjungi: http://wisata-buku.blogspot.com

Share:

7 comments:

  1. Alice [not] in Wonderland
    kayaknya asik juga tuh buat di baca

    ReplyDelete
  2. hihi, lucu nih keknya. anak masuk SD dikasih baju hobit?

    ReplyDelete
  3. kayanya buku gaya baru nih.. alias efek samping heheh

    ReplyDelete
  4. Maksih reviewnya mbak... aku suka dg covernya yg lucu hehehe

    ReplyDelete
  5. Sepertinya mbak Sinta seneng buku-2 yg sejenis ini ya..?

    ReplyDelete
  6. wow.. pasti si keren ..kayaknya daftar no 4 akan kulakukan juga hahahahah, ngga dink peace :P

    ReplyDelete
  7. jadi bukunya recomended gak..? *riwil* :D

    ReplyDelete

What Do You Things?

Search

About Me

My photo

Seorang blogger yang suka membuat ulasan buku di Jendelaku Menatap Dunia dan Yuk Membaca Buku Islami

IG: @sinta.705 | email: sinthionk@gmail.com | twitter: @sinta_nisfuanna

Member of BBI

Member of BBI
ID 1301050

Another Blog

  • Ibu Pendidik Generasi Islam - “… mendidik seorang wanita itu sama saja dengan mendidik sebuah generasi.” ~ Prakata Penerbit Setinggi apapun pendidikan seorang anak, pengaruh besar...
    5 days ago
  • [Ngoceh Buku] Salju Part #3 - #IsiBuku *#SaljuOrhanPamuk* (209/731) . . Semakin berat makna isi dari pemikiran dan dialog Ka, tapi juga semakin menghanyutkan dalam pelitnya konflik. Ma...
    1 week ago
  • Ummu Salamah - “Di antara keutamaan istri-istri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah mereka lebih memilih Allah dan Rasul-Nya.” ~ h.19 Berpredikat Ummahatul ...
    3 weeks ago
  • Teruslah Bertanya … - #CeritaBuku #DuniaSophie ​[511/785] ‘Tapi akan selalu menjadi watak dari akal manusia untuk menanyakan dari mana bola itu berasal. Itulah sebabnya mengapa ...
    3 months ago

Popular Posts

Done!

2017 Reading Challenge

2017 Reading Challenge
Sinta has completed her goal of reading 100 books in 2017!
hide

Blog Buku

Blog Cerita

Kumpulan Ulasan

Copyright © Jendelaku Menatap Dunia | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Blogger Templates20