Twitter Facebook Delicious Digg Stumbleupon Favorites More
everyone is a reader. Some just haven't found their favorite book yet

Friday, October 28, 2016

Pembunuhan di Mesopotamia

Judul: Pembunuhan di Mesopotamia
Judul Asli: Murder in Mesopotamia
Penulis: Agatha Christie
Penerjemah: Lanny Rajoe
Terbit: Cetakan ketujuh, Maret 2014
Tebal: 336 hlm
Bintang: 3/4


Kepergian Suster Amy Leatheran mengantar keluarga Kelsey ke Bagdad, ternyata berbuah tawaran dari Dokter Reilly untuk merawat Mrs. Leidner, di kota Syria kuno. “Namanya Mrs. Leidner. Suaminya orang Amerika, tepatnya Amerika keturunan Swedia. Dia pemimpin suatu ekspedisi penggalian Amerika yang besar. … Tapi tak pelak lagi, dia telah membawa istrinya ke keadaan yang ganjil dan merisaukan.” (h. 16)

Sesampai di pondok ekspedisi yang cukup terpencil, Suster Amy bertemu langsung Mrs. Leidner beserta rombongan ekspedisi dalam ruang makan. Pertemuannya dengan mereka menyimpan penilaian yang beragam, meski saat bertemu Mrs. Leidner, kesan yang didapat adalah keterpesonaan melihat kecantikan dan keramahannya. Tanda tanya sempat hadir, bagaimana orang yang terlihat sesehat ini, diduga memiliki ‘gangguan jiwa’?

Namun, sejak awal Suster Amy telah mendapat celetukan-celetukan tentang keanehan dari penghuni ekspedisi, tentang kesuraman dan kecanggungan, meski mereka sudah cukup lama bersama. Perkataan dari Pastor Lavigny, salah satu anggota ekspedisi menambah penilaian Suster Amy, “Menurut Anda, aneh kan suasana di sini? Atau cukup wajar? …. Bagi saya keadaan memang tidak nyaman. Saya mendapat firasat sesuatu akan terjadi. Bahkan Doktor Leidner sendiri pun bersikap tidak wajar. Ada sesuatu yang merisaukan hatinya. Ada kegelisahan yang mencekam.”

Pengalaman pertama Suster Amy menemukan kegelisahan Mrs. Leidney saat dia menjerit dan berkata ada yang menggaruk-garuk dinding di ruang antik yang tepat berada di samping kamarnya. Meski kemudian tidak ditemukan keanehan di dalamnya. Selang beberapa lama, Mrs. Leidney melakukan pengakuan kepada Suster Amy tentang ketakutannya, “Saya takut dibunuh!” Histeria yang kemudian terwujud dengan penemuan mayat Mrs. Leidner di dalam kamarnya.

Hercule Poirot pun dibutuhkan bantuannya ketika kebetulan dia sedang dalam perjalanan di Suriah dan melewati wilayah Hassanieh dalam perjalanan menuju Baghdad. “Itulah tujuan pertemuan kecil tadi. … saya sedang menilai siapa-siapa saja yang berpeluang paling besar.” Pernyataan Poirot inilah yang mengawali proses penyelidikannya, bertemu dengan seluruh penghuni pondok dan mendengarkan penilaian-penilaian Suster Amy memiliki peranan penting untuk mengungkap kasus pembunuhan. Ketegangan semakin terasa saat mengetahui ruangan dan pondok, yang menurut kesaksian pelayan, tidak mungkin dimasuki orang asing, mematenkan bukti bahwa pembunuh adalah orang dalam.

“Tapi ada beberapa hal yang tidak bisa disebut lelucon. Ada hal-hal yang telah diajarkan kepada saya melalui profesi ini. Dan salah satunya yang paling buruk adalah: pembunuhan merupakan kebiasaan… “ (Poirot – h. 174) karena pembunuhan kembali terjadi saat korban akan mengungkapkan penemuannya, “Saya telah melihat bagaimana orang bisa masuk dari luar tanpa ketahuan,” pernyataan korban pada Suster Amy sehari sebelum pembunuhan kedua terjadi. Sebuah pernyataan yang sangat mungkin mengungkap pelaku pembunuhan.

“Sejak awal saya sudah merasa, untuk dapat membongkar kasus ini, orang tidak boleh mencari petunjuk atau tanda hanya tampak dari luar. Petunjuk yang benar justru ditemukan dalam pribadi yang bertentangan dan rahasia batin.” (Poirot – h. 290) Kalimat yang mengawali pengungkapan panjang dan terperinci dari Poirot, mulai dari ‘kegilaan’ Mrs. Leidney, psikologis yang menyelimuti pondok, penyamaran salah satu penghuni, sampai pelaku dan teknik pembunuhan yang di luar dugaan.

Keseluruhan alur diceritakan dari sudut pandang Suster Amy, membuat cerita dipenuhi dengan penilaian-penilaian darinya.  Bisa jadi inilah jurus Agatha Christie supaya pembaca semakin sulit untuk menentukan siapa pembunuh sebenarnya. Meski begitu, sudut pandang Suster Amy terkadang menambah sisi lucu salah satunya, pemikirannya pada perjumpaan pertama dengan Poirot, “Tampangnya seperti pemangkas rambut dalam pertunjukkan lawak saja!” (Amy - h.120)
Share:

0 komentar:

Post a Comment

What Do You Things?

Search

About Me

My photo

Seorang blogger yang suka membuat ulasan buku di Jendelaku Menatap Dunia dan Yuk Membaca Buku Islami

IG: @sinta.705 | email: sinthionk@gmail.com | twitter: @sinta_nisfuanna

Member of BBI

Member of BBI
ID 1301050

Another Blog

Popular Posts

Done!

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Sinta has completed her goal of reading 60 books in 2016!
hide

Blog Buku

Blog Cerita

Kumpulan Ulasan

Copyright © Jendelaku Menatap Dunia | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Blogger Templates20