Twitter Facebook Delicious Digg Stumbleupon Favorites More
everyone is a reader. Some just haven't found their favorite book yet

Thursday, June 28, 2012

Sejuta Rasa di Sepanjang Kapuas

-Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah-








Hidup itu sederhana, mungkin itu yang ingin disampaikan Tere Liye lewat karya-karya yang memang selalu mengangkat tema sederhana, dengan konflik tidak berbelit-belit, memuat cara berpikir sederhana bahkan gaya bertuturnya pun sederhana. Ya, sederhana tapi memiliki ‘sesuatu’. Meski sederhana, Tere Liye mampu membuat cerita jadi menarik, terutama lewat alur bolak-balik yang menyimpan kejutan dan makna mendalam, sehingga bisa membuat pembaca terkesan dan penasaran untuk terus menekuni setiap lembarnya. Kesan itulah yang juga dituai ketika membaca kisah Borno yang dituturkan dalam novel ‘Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah’.
“Perasaan adalah perasaan, meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat. Hebat sekali benda bernama perasaan itu. Dia bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejab padahal dunia sedang mendung, dan di kejab berikutnya mengubah harimu jadi buram padahal dunia sedang terang benderang.” [h.132]
Idealisme dan sempat berganti-ganti pekerjaan menggiring Borno pada keputusan melanggar wasiat sang Ayah, yaitu menjadi tukang sepit. Tak disangka, dari profesi menyeberangkan orang itulah dia menemukan sepucuk angpau merah di bawah sepit, yang kemudian mengantarnya pada gejolak sejuta rasa. Peristiwa tersebut membuat ingatan dan perasaan Borno selalu tersedot pada si pemilik angpau, sesosok perempuan Cina yang tampak sendu menawan, bernama Mei. Pemuda yang dari kecil tak pernah mengenal jatuh cinta inipun menjadi kelimpungan dengan ragam perasaan bak nano-nano yang riuh memenuhi batinnya.

Ayah Borno telah meninggal ketika dia berusia 12 tahun, akibat tersengat ubur-ubur. Kematian Sang Ayah menyisakan kenangan akan kebaikannya mendonorkan jantung pada pasien yang saat itu juga sedang dalam kondisi kritis. Kenangan inilah yang kelak akan memberikan kejutan dalam alur masa depan Borno. Kehilangan sosok Ayah, membuat Borno bingung mencari tempat untuk mencurahkan isi hatinya. Untungnya, ada Pak Tua yang setia mengiringi pergolakan batin Borno lewat nasihat-nasihatnya yang selalu mengundang renungan.  Maka sepanjang kisah, pembaca akan ‘berjumpa’ dengan banyak sekali nasihat jitu yang sangat cocok bagi siapapun yang sedang atau berada di sekitar orang yang dilanda cinta.

Kebersamaan dengan Mei, yang selalu berangkat menumpang sepit menuju sekolah tempatnya mengajar, hanya berlangsung selama 15 menit. Waktu yang ‘secuil’ di atas sepit sudah pasti terasa kurang bagi seseorang yang sedang memendam sejuta rasa. Upaya-upaya Borno untuk memperlambat waktu inilah yang kerap menerbitkan tawa lewat celetukan para penumpang sepit yang lain. Itulah salah satu slide cerita yang membuat novel ini berbeda dengan novel-novel cinta lainnya. Jika kebanyakan novel bertema menyampaikan ceritanya dengan cara melankolis, maka jangan berpikir bahwa kisah cinta Borno dan Mei akan terkisah dengan serius dan mendayu-dayu. Seperti nyatanya orang yang sedang jatuh cinta, tingkah konyol pun dialami Borno saat mendekati dan ingin lebih mengenal sosok Mei. Dari kesulitan bicara, maksud hati bercanda eh malah tersinggung, sampai rutinitas antrean sepit nomor 13 yang dilakoni Borno, semuanya memancing tawa. Kejadian-kejadian tersebut menjadi semakin lucu dengan celetukan para tukang sepit di dermaga.

“Amboi, romantis sekali kau, Borno. Makan siang di kapal, hujan-hujan begini pula. Alamak. Abang kau ini seumur-umur kau traktir di warung Cik Tulani saja tidak pernah.” [h.385]
Perjalanan cinta Borno sarat dengan kesabaran meski terkadang juga dibuat gemas karena kepasifan dan keraguannya. Namun, dari sanalah Borno belajar mengenal perasaan bernama cinta dan mengubah diri menjadi sosok yang berani mengambil tindakan. Kesabaran Borno ternyata tidak hanya dalam urusan cinta. Kesabaran yang dikombinasi dengan semangat berwirausaha diperlihatkan Tere Liye lewat kemampuan Borno dalam menangani mesin dan kejadian penipuan yang menimpa rencana kongsi bisnis bengkelnya.

Cerita tidak melulu tentang Borno. Cerita konflik Bang Togar dengan sang istri yang merupakan keturunan Dayak, dan Kisah Pak Tua tentang cinta sejati yang sangat indah, memberikan sebentuk kontemplasi tentang sebuah pernikahan. Kehadiran tokoh-tokoh yang mengelilingi keseharian Borno, Pak Tua, Bang Togar, Koh Acong, Cik Tulani dan lainnya, memperlihatkan keaneka-ragaman karakter dan suku, namun sama sekali tidak mempengaruhi kebersamaan mereka. Dari para tokoh inilah tercermin rasa kesetiakawanan yang kadang mengharukan, kepedulian yang begitu kuat, sekaligus menjadi sumber canda yang sangat mewarnai hidup Borno dan Ibunya, lewat tingkah polah mereka yang juga membuat pembaca menjadi tidak merasa bosan.

“Borno, cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan kau suka makan gulai kepala ikan, suka mesin. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. Kita beri dia porsi lebih penting, kita besarkan, terus menggumpal membesar.” [h.430]
Kemunculan dokter gigi cantik bernama Sarah menampilkan cerita baru berkenaan dengan masa silam. Sarah yang hadir di saat Mei menghilang tanpa sebab yang jelas, menimbulkan godaan-godaan dari Pak Tua yang menerbitkan tawa.  Kehadiran dan kedekatan si dokter gigi dengan sang Ibu dan warga kampung sedikit menyentuh hati Borno. Sarah yang penuh semangat, sangat atraktif, dan blak-blakan membuat saya berpikir, ‘sepertinya lebih cocok manjadi pasangan Borno yang cenderung pasif.’ Sayangnya, peran Sarah dalam buku ‘Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah’ ini terasa tanggung, hingga muncul pertanyaan, apakah ada kemungkinan akan munculnya sekuel mengingat akhir cerita pun yang masih terasa mengambang.

Walaupun sarat dengan kisah romansa, Tere Liye tidak lupa menyelipkan beragam informasi tentang kehidupan dan budaya dari kota Pontianak. Semisal, asal muasal nama Pontianak yang unik sekaligus menyeramkan, atau kritik sosial tentang kehidupan para tukang sepit yang mulai terlibas dengan adanya kapal feri. Secara lebih spesifik, Tere Liye memperkenalkan aktivitas para tukang sepit yang disiplin dan terkoordinasi dengan adanya petugas timer yang mengatur keluar-masuknya penumpang ke sepit. Alat transportasi yang digerakkan motor tempel ini menjadi sumber mata pencaharian dan komoditas penting untuk menyeberang Sungai Kapuas yang membelah kota Pontianak. Maka ketika muncul pembangunan jembatan dan kapal feri, pendapatan pun menurun dan janji-janji yang pernah disampaikan pemerintah ternyata tak tertunai. Hal inilah yang coba diselipkan berkali-kali lewat protes yang kerap disampaikan Bang Togar.

“Puluhan tahun silam, mereka bilang hanya satu-dua pelampung [sebutan untuk kapal feri], ternyata banyak. Mereka bilang hanya jam-jam tertentu saja beroperasi, ternyata setiap saat. Mereka bilang akan merekrut pengemudi sepit penduduk gang ini, ternyata tidak. Satu pelampung itu, sekali jalan, menghabisi dua puluh sepit, Borno. Kau hitung sendiri berapa sepit yang kehilangan penumpang? Ratusan. Kau pura-pura lupa hah? Kakek kau mati ditabrak pelampung haram itu. Jasmerah, Borno, Jasmerah” [h.35]
Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah  tidak mengurai kisah masa kanak-kanak tokoh utama sebanyak dua novel sebelumnya yang juga diterbitkan oleh Gramedia, yaitu Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin dan Ayahku (Bukan) Pembohong. Meski begitu, kecemerlangan Tere Liye adalah kesederhanaannya dalam menyampaikan dan merangkai cerita yang menyentuh hati, sangat mampu meninggalkan kesan mendalam bagi pembacanya.
“Ah, cinta selalu saja misterius. Jangan diburu-buru atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri.”
Judul: Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Ketiga, April 2012
Tebal: 512 halaman
ISBN: 978-979-22-7913-9
 

 :: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke FB Parcel Buku atau Dagang Buku yuk! ::
Share:

3 comments:

  1. hihi, reviewnya panjang banget. diikutkan ke lomba reviewya ya mbak? ini buku pertama tere liye yang aku baca dan suka sama gaya bahasanya dia ^^

    ReplyDelete
  2. Suka bgt sama buku ini. Bikin aku ketawa cekikikan sendiri sekaligus terharu :D

    ReplyDelete
  3. @maya: iya, diikutin lomba review GPU :P luamayan dibet bikin review panjang. Kalo gitu aku rekomendasiin baca serial anak mamak May

    @annisa: iya mbak, kayak ngemut permen nano-nano, ramai rasanya :D

    ReplyDelete

What Do You Things?

Search

About Me

My photo

Seorang blogger yang suka membuat ulasan buku di Jendelaku Menatap Dunia dan Yuk Membaca Buku Islami

IG: @sinta.705 | email: sinthionk@gmail.com | twitter: @sinta_nisfuanna

Member of BBI

Member of BBI
ID 1301050

Another Blog

  • Ibu Pendidik Generasi Islam - “… mendidik seorang wanita itu sama saja dengan mendidik sebuah generasi.” ~ Prakata Penerbit Setinggi apapun pendidikan seorang anak, pengaruh besar...
    5 weeks ago
  • [Ngoceh Buku] Salju Part #3 - #IsiBuku *#SaljuOrhanPamuk* (209/731) . . Semakin berat makna isi dari pemikiran dan dialog Ka, tapi juga semakin menghanyutkan dalam pelitnya konflik. Ma...
    1 month ago
  • Ummu Salamah - “Di antara keutamaan istri-istri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah mereka lebih memilih Allah dan Rasul-Nya.” ~ h.19 Berpredikat Ummahatul ...
    1 month ago
  • Teruslah Bertanya … - #CeritaBuku #DuniaSophie ​[511/785] ‘Tapi akan selalu menjadi watak dari akal manusia untuk menanyakan dari mana bola itu berasal. Itulah sebabnya mengapa ...
    4 months ago

Popular Posts

Done!

2017 Reading Challenge

2017 Reading Challenge
Sinta has completed her goal of reading 100 books in 2017!
hide

Blog Buku

Blog Cerita

Kumpulan Ulasan

Copyright © Jendelaku Menatap Dunia | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Blogger Templates20