Twitter Facebook Delicious Digg Stumbleupon Favorites More
everyone is a reader. Some just haven't found their favorite book yet

Sunday, July 25, 2010

Syarat Lomba yang Tidak Menentramkan Hati

Sebelumnya maaf, tulisan ini hanyalah luapan kepala yang sudah beberapa minggu ini muter-muter di kepala. Awalnya sih tidak ingin menuliskan ini, karena takut ada banyak pihak yang tersinggung. Tapi koq rasa-rasanya kepala makin sumpek, apalagi berkali-kali harus berdebat dengan suami soal permasalahan yang satu ini... Eits, tapi ini bukan masalah rumah tangga, lebih kepada idealisme vs marketing *halah!*

Mungkin saja jika saya share disini, minimal saya bisa mendapat pemikiran yang lain. Walaupun suami sudah berkali-kali menyampaikan hal seperti itu adalah salah satu siasat untuk usaha marketing. Tapi lagi-lagi idealisme saya ternyata tidak bisa menerima.wiiiihhh...pengantarnya terlihat udah penuh misteri dan panjang ya, padahal yang mau diomongin teh simple

Okeylah, saiayah mulai saja

***

"Jadi lomba ini hanya menilai secara kuantitas dan bukan kualitas ya mbak?"

Kurang lebih seperti itulah pertanyaan---yang agak berbau retoris---tersebut saya ajukan di kotak komentar sebuah lomba resensi. Yah, walaupun sempat dijawab, tapi pada kemudian hari komentar saya akhirnya dihapus *mungkin bisa memancing kontroversi kali ya?!*

Pertanyaan itu bukan tanpa alasan saya ajukan, karena akhir-akhir ini saya mulai melihat persyaratan lomba menulis yang tidak sreg di hati. Seperti pada lomba tersebut, syarat penilaian pemenang hanya diambil dari banyaknya komentar dan tanda "like". Syarat seperti itu mungkin bisa saya terima kalau saja tidak menjadi penilaian mutlak. Dalam arti, penyelenggara lomba masih bersedia memberi penilaian isi, gaya dan kualitas dari isi tulisan untuk para pemenang.

Saya merasa syarat lomba seperti itu sama sekali tidak mendidik, hanya ingin mengejar marketing-nya saja. Saya jadi berpikir, "kalau gitu bikin tulisan yang asal aja, ntar tinggal "seret" temen-temen buat ngasih komentar atau tanda "like" sebanyak-banyaknya. Menang deh!" Enak kan?

Saya pribadi jadi berpikir, kalau syarat seperti ini semakin banyak digunakan, apakah akan muncul penulis yang menulis karyanya dengan asal-asalan? Tinggal nanti "kuatin" aja cuap-cuap a.k.a marketingnya. Kemudian, saya jadi berpikir, apakah nantinya penerbit-penerbit ini akan lebih memilih kuantitas [nilai jual] buku daripada kualitas buku---kayaknya yang ini mah udah keliatan deh

Hmmm...apakah cara berpikir saya kejauhan yah? atau terlalu berlebihan? Tapi ya begitulah yang akhir-akhir ini memusingkan kepala saya *hedew, segitunyah *

Well, lagi-lagi saya katakan ini hanyalah pendapat pribadi. Jika kawan-kawan ada yang ingin menyanggah, sama sekali TIDAK DILARANG

kunjungi: http://parcelbuku.com
Share:

6 comments:

  1. Sama mbak...aku juga pengin komentar masalah ini dari dulu
    kalo aku ada lomba menulis atau lomba tentang apa saja yang penilaiannya dari kuantitas aku males ikutan
    kesannya seperti MLM saja. Member get Member dan sejenisnya
    Strategi marketing yang murahan dan sama sekali ga mengena untuk sebuah penerbit buku yang seharusnya mendahulukan sebuah kualitas.

    Banyak lagi cara yang mereka tempuh yang menurut saya kurang "elit" dipandang sebagai penerbit.
    Seperti membeli sebuah buku (sudah suruh beli musti memasarkan lagi) dan ngetag ke semua pemilik FB atau memasang cover buku menjadi foto profile..
    Saya selalu ngga ikut kalo yang begini
    secara, saya calon miss Universe kok disuruh ganti foto profil orang lain :D
    kidding..

    Seharusnya sebagai penerbit yang mencerminkan bahwa bukunya adalah buku berkualitas. Orang membeli buku kan bukan hanya dari bagus engganya sebuah cover tapi juga isi bukunya.

    ReplyDelete
  2. Menurut aku Sin, soal penerbit ngadain sebuah lomba dan marketing, itu adalah 2 sisi dari sebuah mata uang. Tapi kalau mereka menilai lebih ke kuantitas, ya udah salah tuh

    ReplyDelete
  3. Wah...saya ndak tahu akar masalahnya dimana jadi saya nggak berani komentar. Tapi saya yakin sekali, bagi mba yang penikmat buku dan seorang editor lepas tahu banyak mana yang berkualitas dan mana yang tidak....

    Salam hangat & sehat selalu....

    ReplyDelete
  4. like this
    jempol

    hehehe.... kalo pake cara ini
    ahlakul yaqiin orang yang tenar seperti artis ikutan pasti jadi pemanangnya

    ReplyDelete
  5. hm...makanya malas ikutan lomba yg diadakan penerbit.

    ReplyDelete
  6. Wow, websitenya keren. Infonya juga Mantap, saya mau ikut share tentang informasi Desain Grafis, Cara Membuat Cover Buku, Kartu Nama, Brosur dan artikel lainnya.happy blooging.

    ReplyDelete

What Do You Things?

Search

About Me

My photo

Seorang blogger yang suka membuat ulasan buku di Jendelaku Menatap Dunia dan Yuk Membaca Buku Islami

IG: @sinta.705 | email: sinthionk@gmail.com | twitter: @sinta_nisfuanna

Member of BBI

Member of BBI
ID 1301050

Another Blog

  • Think Dinar! - Judul: Think Dinar! | Penulis: Endy J. Kurniawan | Editor: Asma Nadia | Penerbit: *AsmaNadia Publishing* | Terbit: Ketujuh, Juni 2012 | Tebal: xxii + 298 h...
    5 months ago
  • Wonderful Life - Judul: *Wonderful Life* | Penulis: Amalia Prabowo | Penyunting: Hariadhi & Pax Benedanto | Penerbit: POP | Terbit: 2015 | Tebal: 169 hlm | Harga: Rp. 50.00...
    5 months ago
  • [Coretan Iseng] Pena Atau Mesin ?? - Ada petikan menarik dari buku 1Q84 Jilid 1, Kalimat yang persis sama, saat dibaca pada layar mesin ketik elektronik dan dibaca pada kertas, memberi kesan y...
    6 months ago

Popular Posts

Done!

2016 Reading Challenge

2016 Reading Challenge
Sinta has completed her goal of reading 60 books in 2016!
hide

Blog Buku

Blog Cerita

Kumpulan Ulasan

Copyright © Jendelaku Menatap Dunia | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Blogger Templates20