Friday, May 31, 2013

Cinta Kamu, Aku


Sekali waktu, pernah ada masa, di mana saya begitu tergila-gila dengan radio, dari melek, sampai tidur lagi, telinga tak pernah lepas dari ocehan penyiar yang diselingi dengan lagu-lagu nge-hits pilihan penyiar atau hasil request pendengar. Sayangnya, sekarang sudah jarang sekali suara-suara radio tertangkap telinga, bahkan saya sendiri sudah lupa, kapan terakhir mendengarkan radio. Membaca kalimat “Ini Bukan Drama Radio!” yang terpampang di novel bersampul kuning karya Irfan Ihsan, tak ayal menjadi salah satu alasan kenapa saya memutuskan membaca Cinta Kamu, Aku.

Empat Detik…
 

“A Few Minute Can Change Your Life”
 
Sebuah kalimat yang kebenarannya terbukti dalam hidup Aan dan Risha. Hanya karena kejadian empat detik, Aan, si penyiar jomblo yang harus sering mengendap-endap demi menghindari Ibu kos, akibat tunggakan kosnya, terpaut hati dengan Risha, penyanyi yang sedang nge-top. Waktu singkat yang tidak layak diremehkan dan dianggap kebetulan.
 

Kejadian empat detik yang sangat menggemparkan infotainment itu, mengantarkan Raisa untuk bertemu dengan kehidupan yang sangat diidamkannya, kehidupan yang dilimpahi kehangatan kasih sayang. Empat detik, yang menjadi titik awal pencerahan pikiran dan hati Raisa yang selama ini dipenuhi kegalauan atas nama cinta, akibat menjadi pihak ketiga dalam rumah tangga seseorang.
 

Tak hanya Raisa, empat detik yang mengejutkan juga mengubah kehidupan dan kesejahteraan, Aan, yang sebelumnya rajin berutang di warung depan kantor Flash FM. Empat detik, waktu yang membuatnya mengubah status facebook-nya menjadi in a relationship dan memperkenalkannya dengan manis-asam rasa cinta.
 

Dunia Radio dan Soundtrack Kehidupan...
 

“Sha, kamu punya soundtrack nggak dalam kehidupan kamu?” [Aan – h. 170]
 

Melihat latar pekerjaan penulis adalah penyiar radio, sudah pasti hafal betul dengan lagu. Jadi, tak diragukan lagi pilihan penggalan lirik yang menjadi soundtrack kehidupan Aan dan Risha. Pilihan lirik yang digunakan Irfan [penulis_read] terasa tepat dan membantu pembaca untuk ikut merasakan suasana hati para tokoh, seperti lirik Tompi yang mengiringi hati Aan yang berbunga-bunga atau lagu Vina Panduwinata yang mewakili kerinduan dan kesedihan masa kecil Risha.
 

Meski ‘membawa-bawa’ profesi penyiar, sayangnya dunia radio tidak terlalu banyak diangkat dalam cerita. Di awal-awal cerita Aan atau penulis memang kerap menjelaskan tentang aktivitas dan peralatan yang digunakan saat siaran, tapi rasanya tidak terlalu mendalam, seperti bagaimana menghadapi pendengar yang ‘bermasalah’; atau menciptakan suasana menyenangkan saat siaran atau ketika mewawancarai bintang tamu. Irfan lebih banyak ‘menyingkat’ bagian-bagian ketika Aan melakukan siaran. Bisa jadi karena penulis tidak ingin ceritanya menjadi keluar alur, hanya saja menurutku jika diramu dengan baik, pengetahuan tentang dunia radio akan menjadi tambahan wawasan yang menarik untuk pembaca.
 

Cinta Kamu, Aku .... dan Dia.
 

“… cinta itu sebenarnya bisa didapat dengan sederhana, di mana saja, jika kita bisa lebih peka, tanpa harus mengorbankan sesuatu yang dimiliki orang lain.” [Risha - h. 208]

Terus belajar dan memahami kehidupan adalah kewajiban setiap manusia, termasuk dalam hal cinta. Begitupun yang terjadi dalam kehidupan tokoh Cinta Kamu, Aku, terutama Risha. Pertemuannya dengan Aan, yang kelihatannya tak sengaja, membuat Risha belajar mengenali perasaannya dan memberinya “penglihatan” yang lebih terang saat menatap masa depan. Menariknya, novel ini menjadi lebih natural saat penulis menggambarkan bahwa tidak semua orang mampu mengambil pelajaran dari makna kesedihan yang menimpa dirinya. Hal ini tergambar sebagai penutup cerita.
 

Meski ada bagian-bagian alur yang terasa menyedihkan, penulis juga menyelipkan komedi yang bisa membuat pembaca tersenyum, bahkan tertawa. Selain itu, cerita cinta yang disuguhkan Irfan sebenarnya agak klise, tapi menjadi menarik karena penulis berhasil meramu sebuah cerita komedi cinta bergaya metropop tanpa melepaskan nilai religi dan ‘peran’ Tuhan. Karena sebenarnya cinta tidak hanya antara kamu dan aku, tapi juga Dia.

Judul: Cinta Kamu, Aku
Penulis: Irfan Ihsan
Penyunting: Rina Wulandari
Penerbit: NouraBooks
Cetak: Pertama, Februari 2011
Tebal: 320 hlm
Bintang: 3/5

:: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke FB Parcel Buku yuk! ::

Monday, May 27, 2013

Dusta yang Indah


"Sejak dulu saya pikir keberanian berarti punya nyali untuk berkata jujur. Saya pengecut, tapi tidak apa-apa. Saya tidak keberatan dianggap pengecut asalkan Bapuji bisa meninggal dalam damai." [Bilal - h. 270]
Dusta yang Indah. Seringkali kita mendengar istilah bohong putih atau white lies, bohong yang dilakukan demi kebaikan orang lain. Tapi, benarkah ada kebohongan yang dapat memberikan kebaikan? Hmmm... setiap orang berhak memberikan jawaban. Seperti halnya, Bilal yang memutuskan untuk terus berdusta kepada Bapuji-nya [read: ayahnya] yang sedang sekarat. Bilal rela melakukan apapun supaya dustanya tetap terjaga, HARUS, demi 'kedamaian' Bapuji.

Konflik di ranah India yang menyebabkan Bilal harus terus menguatkan diri bahwa apa yang dilakukannya adalah benar. Berlatar sejarah tahun 1947, di mana India sedang menuju perpecahan wilayah, permusuhan antar agama, dan kerusuhan yang mengakibatkan kematian hampir sejuta orang akibat konflik tersebut. Bilal tidak ingin, bayangan Bapuji tentang India yang damai menjadi hancur. Kakak Bilal pun tidak dapat diharapkan sejak terlibat dalam kerusuhan yang kerap menimpa antar agama. Beruntung Bilal memiliki Saleem, Chota, dan Manjeet, sahabat-sahabat yang membantu memuluskan dustanya.
".... apapun keadaannya, mereka masih tetap di sini, mendampingiku. Hatiku berbunga-bunga karena tahu bahwa mereka adalah sahabat-sahabatku." [ h. 85]
Mereka menyusun rencana supaya tidak ada orang yang datang ke rumah, terutama yang berpotensi untuk menceritakan kondisi buruk India. Tak berhenti di sana, Bilal pun harus menciptakan koran, saat Bapuji begitu merindukan membaca berita di sekitarnya. Sungguh, luar biasa melihat usaha Bilal dan sahabat-sahabatnya menjaga Bapuji, tindakan yang berani tapi dilandasi kasih sayang yang begitu besar.

Ketidakrelaannya melihat Bapuji terluka memberikan beban yang sangat menyedihkan di pundak Bilal. Seandainya cerita hanya berputar dengan usaha Bilal 'menjaga' Bapuji sudah pasti akan membuat saya sedih sekali membacanya. Beruntung, masih ada kisah persahabatan empat bocah lelaki ini yang dapat memberi senyum dan secuil 'keriangan' anak-anak, meski masing-masing ternyata menyimpan dukanya sendiri.

Saya dibuat hanyut dalam cerita yang menyimpan kesedihan, rasa miris, dan aura permusuhan, tapi membalut semangat, persahabatan, dan kasih sayang. Saya merasakan haru saat melihat bagaimana orang-orang dewasa di sekitar Bilal berusaha memahami, bahkan membantu, seorang anak yang sangat ingin melindungi Bapujinya. Penutup cerita pun mengantarkan pada sebuah renungan tentang, apakah dusta itu benar-benar indah?

Judul Asli: A Beautiful Lie
Penulis: Irfan Master
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetak: Pertama, September 2012
Tebal: 302 hlm
Bintang: 5/5

:: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke FB Parcel Buku yuk! ::

Monday, May 6, 2013

Rapid Fire Question!

Blogger Buku sekarang sedang heboh saling timpuk Pe-eR.Dan sekalinya kena timpuk, langsung datang dari tiga orang, Fauziyyah, Dyta, dan Alvina. Yak! benjollah blog ane 

Yuk, mulai menjawab...

Daftar Pertanyaan
  1. Tambah atau ngurangin timbunan? Tambah pastinya, status timbunan itu untuk buku yang belum dibaca kan?
  2. Pinjam atau beli buku? Beli, meski suka banget pinjam buku, tapi biasanya kalau udah terlalu lama minjem dan gak kebaca juga, ujung-ujungnya beli bukunya :D
  3. Baca buku atau nonton film? Baca buku masih lebih menyenangkan dibandingkan nonton film
  4. Beli buku online atau offline? beli buku offline, bisa sekalian cuci mata dan jalan-jalan 
  5. (penting) buku bajakan atau ori? Ori laaaah! Gimana pun bagusnya kualitas bajakan, tetap gak rela beli buku bajakan
  6. Gratisan atau diskonan? Gratisan! Sapa sih yang gak suka gratisan?
  7. Beli pre-order atau menanti dgn sabar? Menanti dengan sabar. Masih inget kalau timbunan masih menumpuk, jadi sabar dulu beli buku yang diinginkan, kali aja ntar ketemu yang harga obral :P
  8. Buku asing (terjemahan) atau lokal? Pilihan yang syusyah! kalau menimbangnya dari buku thriller/detektif, sepertinya suka yang terjemahan.
  9. Pembatas buku penting atau biasa aja? Pembatas buku penting! Aku sangat menghargai penerbit yang menyelipkan pembatas buku di buku terbitannya
  10. bookmark atau bungkus chiki? Bookmark donk! lah chikinya cuman bungkusnya doank
Sekarang giliran menjawab pertanyaan dari para penimpuk 

Fauziyyah
  1. Baca buku sambil tiduran atau duduk manis? Sambil tiduran :D makanya minus kacamata nambah terus
  2. Baca buku ditemenin cappucinno atau green tea latte? Cappucinno! tapi karena sekarang lagi hamil, jadi diganti dulu dengan susu coklat/nutrisari *gak nanya*
  3. Langsung buka sampul plastik buku baru atau nanti pas buku barunya mau dibaca? Langsung buka plastik. Aku selalu penasaran dengan lembar isbn dan layout sebuah buku, juga mastiin ada pembatas bukunya gak? :P
  4. Review semua buku yang dibaca atau review buku yang pengen direview aja? Inginnya review semua buku yang dibaca, tapi apa daya, kadang gak sempat
  5. Harry Potter atau Ron Weasley?  Rooooon!!! Sejak HP pertama aku udah suka banget dengan karakter Ron
Dyta
  1. Hardcover atau paperback ? Paperback, suka keberatan baca buku hardcover
  2. Battle Royale atau Hunger Games ? Hmmm... kayaknya lebih suka Battle Royal, karena lebih sadis *ya gak sih?*
  3. Hero atau heroine ? Heroine, karena aku cewek -_-
  4. TV seri atau film/movie ? Film/Movie, sekali lihat langsung abis :D
  5. Tidur atau travelling ? Travelling!!!!! tapi jujur, aku jarang travelling T_T
Alvina
  1. Koleksi serial, yes or no? No! Sebenarnya aku paling males mengumpulkan atau membaca buku serial
  2. Baca buku di kasur atau di kursi? Kasur, sambil tiduran ditemani cemilan *nyam!
  3. Lebih suka baca buku dulu atau nonton filmnya dulu? baca buku dulu laaaah!
  4. Komik atau novel grafis? Komik, karena kebanyakan gak terlalu banyak mikir dibandingkan novel grafis *sotoy
  5. Meminjamkan atau dipinjamkan? Dipinjamkan, daripada buku hanya diam di lemari, lebih suka dipinjamkan
Selesai jugag! Sekarang giliran aku yang mengajukan pertanyaan
  1. Baca di tempat ramai atau sepi?
  2. Thriller atau Horor?
  3. Jacqueline Wilson atau Astrid Lindgren?
  4. Isi cerita buku keren, tapi cover jelek harga murah atau isi cerita buku keren, tapi cover bagus harga mahal?
  5. Sherlock Holmes atau Hercule Poirot?
Pertanyaan ini selanjutnya diserahkan kepada
  1. Filly
  2. Ayana
  3. Mbak Reni
  4. Ai
  5. Om nDut a.k.a Yayan
Untuk 5 orang terpilih, silakan menjawab 10 pertanyaan original, 5 pertanyaan tambahan dariku kemudian posting jawabannya dengan menambahkan 5 pertanyaan lain dan memilih 5 orang berikutnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Wednesday, May 1, 2013

Gideon The Cutpurse


Tiba-tiba terdampar ke abad 18, mengejutkan Peter dan Kate yang baru beberapa waktu lalu mengejar anjing Kate, Molly, di laboratorium milik Dr. Dyer. Ternyata sebuah alat bernama mesin anti-gravitasi tidak sengaja membawa mereka melintasi masa 3 abad yang lalu. Masalah mereka tidak berhenti di situ karena mesin mereka disandera oleh Tar Man, seorang penjahat besar di era tersebut. Untung ada Gideon yang bersedia membantu Peter dan Kate untuk mendapatkan kembali mesin anti-gravitasi. 

Di abad 21, orangtua Peter dan Kate kebingungan dengan hilangnya anak mereka. Dr. Dyer, ayah Kate, mulai mempertanyakan hubungan mesin ciptaan Tim Morrison, temannya, dengan hilangnya Kate dan Peter. Kemunculan "hantu" Peter dan Kate berulang kali di beberapa tempat semakin menambah kegundahan orangtua mereka. Keterikatan Peter dan Kate dengan masa lalu menyebabkan upaya melintasi waktu dengan memudarkan tubuh tidak bisa dilakukan dalam jangka waktu lama, sehingga pengiriman pesan-pesan singkat ke abad 21 dilakukan lewat wujud "hantu" mereka.

Pejuangan Gideon membantu Peter dan Kate tidaklah mudah. Tar Man bukanlah sosok asing bagi Gideon karena mereka dahulu memiliki majikan yang sama, Lord Luxon. Gideon memilih keluar dari pekerjaannya karena Lord Luxon memilih jalur hitam. Maka, ketika Gideon membantu Peter dan Kate, dia harus kembali berhadapan dengan sang majikan dan Tar Man, demi merebut mesin anti-gravitasi.

Saya selalu suka cerita-cerita yang berhubungan dengan sejarah karena mengingatkan lagi apa yang pernah terjadi pada masa sebelumnya. Di sini, penulis cukup detail menggambarkan kondisi pada abad 18 di Inggris dan beberapa mengingatkan saya dengan buku Kebiasaan-Kebiasaan Paling Mengerikan dalam Sejarah, seperti kutu yang masih nyelip di makanan, gigi palsu yang terbuat dari kayu, dan kostum jaman dahulu yang tergambar lewat ilustrasi dalam buku.

Bagian yang membuat saya masih agak bingung adalah kedatangan tiba-tiba Dr. Dyer ke abad 18 dan penjelasan sains tentang konsep duplikat yang berhubungan dengan mesin anti-gravitasi. Meski begitu, ceritanya cukup seru meski di beberapa bagian terasa agak datar.

Lagi-lagi, saya naksir dengan tokoh antagonis dalam cerita. Sejak awal saya sudah tertarik dengan sosok Tar Mar, tokoh yang tersisihkan bukan karena keinginannya tapi lingkungan yang memaksanya untuk menjadi penjahat. Kekerashatian dan karakter kuatnya terlihat saat dia rela berlari delapan kilometer terakhir pada perlombaannya dengan Gideon, karena kudanya sakit. Berharap seri keduanya yang berjudul Tar Man lebih banyak menceritakan tentang sosok antagonis nan menawan ini.

Buku ini layak dibaca untuk anak usia 10-11 tahun.

Judul: Para Penjelajah Waktu [The Trilogi Gideon #1]
Judul Asli: Gideon The Cutpurse 
Penulis: Linda Buckley-Archer 
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetak: Pertama, Februari 2009
Tebal: 511 hlm
Bintang: 3/5

Seri The Trilogy Gideon Lainnya:
Tar Man; Time Quake


Resensi diikutkan dalam  Fun Year With Children's Literature dan A Fantasy Reading Challenges edisi Bulan Mei.


:: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke FB Parcel Buku yuk! ::

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers