Friday, June 26, 2009

Lelaki Penjual Dongeng


…dalam satu kesempatan Calvero berkata: Saat kecil aku biasa mengeluh kepada Ayah karena tidak punya mainan. Kata Ayah: (Calvero menunjuk kepalanya) Ini mainan terdahsyat yang pernah diciptakan. Disini letaknya semua rahasia kebahagiaan! [hal 225]

Imajinasi. Itulah mainan terdahsyat yang dimiliki oleh manusia. Manusia bebas melakukan apapun lewat imajinasinya. Bahkan segala kehidupan tak lepas dengan imajinasi. Dari imajinasi, kreativitas muncul, tak ayal lewat imajinasi karya-karya besar lahir dan berkat peran besar imajinasi lah sebuah buku dapat kita nikmati.

Sekilas aku teringat dengan “debat” imajinasi dengan seorang teman tentang panci, ember dan kompor yang pergi ke pasar, dimana kompor tidak seharusnya ikut ke pasar karena dia terlalu ganjen. Bahkan imajinasi kita berjalan sampai ke hal siapa saja yang naksir kompor di pasar. Konyol? Hahaha…Anda benar!. Gila memang, tapi inilah kebebasan imajinasi. Sangat bebas.

Berkah imajinasi ini juga menimpa Petter. Seorang pria yang cerdas dan kritis. Semenjak kecil kepalanya telah dibanjiri dengan gagasan dan ide. Imajinasinya terus berkembang dan membiak tanpa terkendali. Kondisi ini membuat Petter menjadi kesulitan untuk membedakan ingatan masa lalunya sebagai berkhayal atau kenyataan.

Aku tidak pernah menulis sebuah novel. Aku tidak mampu berkonsentrasi pada sebuah cerita. Bila aku mulai menganyam sebuah fabel, dengan segera fabel itu akan tersedot ke dalam empat atau delapan fabel lainnya. [hal 170]

Begitu kayanya imajinasi yang muncul dalam kepala Petter. Hanya saja kesuburan idenya tidak diimbangi dengan keinginan untuk memproduksi, yang membuat idenya menjadi sia-sia. Kenyataan ini memberinya ide menciptakan Writer’s Aid, sebuah jasa pertolongan bagi penulis-penulis yang sedang mengalami kebekuan ide atau kebuntuan alur cerita. Tapi ide yang awalnya dipandang sebagai bisnis yang sempurna, malah menuai petaka bagi Petter.

Sekali lagi, Jostein Gaarder, sang guru filsafat ini sukses memberikan sensasi pada karyanya. Setelah sukses dibuat merinding dengan Gadis Jeruk, lewat Putri Sirkus aku mendapatkan sensasi terpesona dengan berlimpahnya imajinasi dalam benak Petter. Selain itu, sosok Petter benar-benar menarik di mataku. Adanya beberapa kemiripan karakter tokoh denganku membuat aku mampu tenggelam ke dalam cerita. Seorang pria dengan sosok penyendiri yang lebih menyukai bergumul dengan imajinasinya, namun di saat bersamaan dia juga sosok pria cerdas dan memiliki kemampuan dalam mengamati, menilai dan memperlakukan orang lain. Kemampuan yang membuatnya mampu menampilkan keramahan. Keramahan yang tetap membentengi diri dari lawan bicara yang berusaha menembus kehidupan pribadinya. Dan ketidak-mauannya untuk menjadi penulis—menerbitkan buku--benar-benar membuat aku menganggukkan kepala, “gue banget!”

Buku yang dipenuhi dengan narasi-narasi panjang ini tidak berlaku untuk orang yang tidak dapat bersabar dalam membaca. Namun, saat kau bersedia bersabar mencermati setiap babnya, kau akan menemukan banyak ide, analogi, filosofi kehidupan sekaligus kisah cinta yang mengejutkan. Putri Sirkus, Konstanta Jiwa, Ras Manusia yang Tersisa, Pembunuhan Rangkap Tiga Pascakematian, dan banyak lagi bongkahan-bongkahan ide yang dapat kau petik, atau bahkan bisa kau lanjutkan atau kembangkan untuk menjadi sebuah karya.

Tapi…hingga habis lembaran buku aku masih dibuat bingung—ato aku yang emang dudul--dengan sosok lelaki bertopi hijau dan membawa tongkat bamboo yang hilir mudik dalam kehidupan Petter…sosok imajiner yang aku masih gak mengerti “fungsi dia di sana apa?


Judul Buku: Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng
Penulis: Jostein Gaarder
Penerjemah : A. Rahartati Bambang
Penerbit: Mizan
Cetakan: Pertama, Februari 2006
Tebal: 394 halaman
Harga : Rp. 45.000 [sebelum di diskon 15%]

Thursday, June 25, 2009

Pilkadal Di Negeri Dongeng


...sebuah novel yang penuh sindiran kepada kalangan yang hanya peduli pada kemuliaan tahta, namun tak peduli pada jeritan rakyat jelita...
-Afifah Afra-

Pilkadal di Negeri Dongeng (PND). Dari judulnya pasti temen-temen sudah pada tau apa isi dari novel yang satu ini. Kalo gitu gak usah baca donk? Eit...jangan pergi dulu, lanjutin bacanya hehehe...


Buku---dengan sampul hitam bergambar kadal di atas kotak Pilkadal---ini menarik untuk dibaca siapapun. Seperti kata Mbak Afra ”Buku ini wajib dibaca para politisi, calon politisi, atau sekedar rakyat biasa yang peduli dengan sesama” dan statement itu bener!

Berbagai gambaran realita dan kata-kata sindiran berhamburan. Hampir di setiap jengkal tulisan selalu ada sentilan-sentilan yang membuat pembaca meringis, senyum sinis, miris dan akhirnya menyimpulkan Negeri Dongeng ini adalah........

Negeri Dongeng, gambaran sebuah negeri yang sebenarnya kaya raya, tapi ternyata menyedihkan---tau lah gambaran negeri mana yang dimaksud---Buku PND mengisahkan negeri yang sedang mengalami kehebohan bernama Pemilihan Bupati. Tiga pasang calon yang dikandidatkan menduduki kursi panas (halah...)

Suryo Buwono, Bupati yang menghambakan hidupnya dengan ramalan dan hal-hal klenik, berpasangan dengan Siti Aminah, seorang cucu Kyai terhormat.

Jaka Lesmana, wakil Bupati tampan yang dipasangkan dengan wanita yang tak lain adalah kekasih gelapnya sendiri, Lestari.

Tugino, Pengusaha yang nyleneh yang berani memberi sambutan nasi jagung untuk sang bupati (Suryo Buwono), dipasangkan dengan Bahtiar seorang pejabat ’lurus’ yang prihatin dengan kondisi negeri.

Gegap gempita pilkadal ini ternyata tidak berpengaruh kepada Slamet, sosok rakyat cilik yang terhimpit berbagai masalah plus musibah—komplit---yang tak henti menerjang kehidupannya,

...tapi itulah buah dari kemiskinan. Kematian bukan sesuatu yang ditangisi, tapi malah bisa menjadi solusi. Karena kematian bisa menjadi pengurangan anggaran, kematian dianggap menjadi penambah rizki yang masih hidup.
---kutipan dari buku PND--

Tokoh Slamet dikisahkan di setiap sela-sela kehebohan Pilkadal, tokoh yang berjuang banting tulang demi sejumput uang di antara berhamburan uang yang di’buang’ untuk mensukseskan calon.

Akhir dari buku ini pun dibuat mengambang---malah bikin aku melongo--- membuat pembaca termerenung ”kenapa negeriku seperti ini?!”

Wah asyik donk nih buku?! Ya iyalah masa’ ya iya donk...tapi ada sedikit ketidak-nyamanan saat membaca buku PND. Panggilan tokoh Jaka Lesmana, kadang dipanggil dengan nama Amin, kadang dipanggil Jaka, sempat membuat aku pribadi bingung. Dan sayangnya lagi, profil Bahtiar tidak terlalu di explore. Profil yang mungkin bisa menjadi penyemangat, bahwa harapan itu masih ada di negeri ’Dongeng’.

Judul Buku: Pilkadal di Negeri Dongeng
Penulis: Tundjungsari
Editor: Mukhammad Nurul Furqon
Penerbit: Afra Publishing, Surakarta
Cetakan: Pertama, September 2007
Tebal: 168 halaman
Harga : Rp. 23.500

Sunday, June 21, 2009

Bersahabat Buku Memeluk Ilmu

Lagi-lagi yang bikin Thread dibikin terkagum-kagum, akan kemampuan baca teman-teman Goodreads Indonesia yang Super duper Dahsyat...mantap euy! Dan juaranya bulan Mei adalah...*jreng-jreng*...Ibu Vera dengan 35 buku...*keplok-keplok*...Selamat-selamat Anda mendapatkan Gelar Anda kembali sebagai Ibunya Kutu Buku...hehehehehe. Yang sempat berhasil dimenangkan pada Bulan Februari. Selamat yah Mbak Vera.

35 buku dalam sebulan?! Rekor ini aku dapat dari forum Goodreads, dan sukses bikin mulutku menganga. Bayangkan, 35 buku?! BAYANGKAN!! Sehari satu buku euy! Pedihnya…ternyata aku neh belum ape-ape. Kepedihanku ini menggerakkan tangan untuk mengomentari topik yang satu ini…

"speechless..kapan gw bisa baca 35 buku sebulan?"

Ternyata kepedihanku dijawab dengan bijak oleh Neng Buzenk.

"gak usah speechless mbak..minum aer putih dulu..:D

bs kok ngejar si Qui...sehari 2 buku...
ayo semangat!

tp kan bukan masalah kejar2an angka bacaan..tp pengetahuan-data-info yg kita dpt dr buku yg kita baca dan seberapa jauh kita bs memahami nilai2 buku tsb, wlo pun bs berbeda2 tiap org...hehe..

piss ah...
^__^ v
"

Hmmm...iya yah. Hoh?! HOREEEEEEEEYYYY!! Semangatku berkobar kembali *HALAH!!! Lempar bakpau ke Sinta!! HUps :P

Betul betul, setelah ditilik ulang, memang bukan masalah banyak tidaknya buku yang udah kita baca, tapi apa yang telah kita serap atau inspirasi dari buku tersebut. Sebenarnya rekor itu bisa aja aku pecahkan *SONGONG LO SIN!! TADI SPEECHLESS!* tapi rasanya koq gak enakeun kalo cuman sekedar baca. Maka dari itu *serasa mw pidato* salah satu alasan kenapa aku pengen selalu me-review buku-buku yang sudah aku baca, supaya aku bisa sekaligus memutar kepalaku. Nilai apa yang aku dapet, ceritanya gimana, menurutku--apa yang salah, adakah renungan yang menggerakkan dan banyak lagi. Dari situ aku bisa melihat lebih jelas, apa yang aku dapatkan dari buku tersebut.

Terkadang perasaan males nge-review sering dateng, tapi kalau diingat manfaat apa yang didapat dari me-review, Hayok dah review, meskipun hanya sekedar draft review —yaitu review yang tidak dipertontonkan—
YES!! SEMANGAT MEMBACA DAN MEREVIEW PERLU DIKOBARKAN!!

Buku adalah Jendela Dunia, amat sangat sayang kalo jendelanya udah dibuka dan dilihat, tapi tidak juga melompat masuk untuk menikmati “keindahan” yang terpampang di hadapan kita. Karena pasti akan banyak ilmu yang bisa kita serap.

Melihat kegilaanku dengan buku, seorang teman meng-copy-kan sebuah puisi buatku. Puisinya sederhana, tanpa ada kata-kata yang penuh dengan metafora, sehingga mudah untuk dipahami.

BUKU NAMAKU SENDIRI

Hardjono WS

Buku namaku sendiri
Tubuhku mungil berisi
Buka dan bacalah

Tampak ilmu terbentang luas
Bagai rumput hijau dipandang sana
Jelajahilah dan lihatlah

Wahai kawan dan sahabat kemarilah
Jangan kau takut mendekatiku
Apapun yang tampak
Terbentang
Terurai di sana
Hanya untukmu saja bagi yang mau

Layak ilmu yang kuberikan
Pengetahuan kunalarkan
Yang remang remang kuterangkan
Yang buta kubukakan dunianya

Teman-temanku
Kawan akrabku
Bukalah jendela ilmu lewat lembaranku
Bukalah pintu pengetahuan lewat tulisanku

Buku namaku sendiri
Bertubuh kecil berisi
Banyak kawan lancar berjalan ke sana karena buku
Banyak teman jalan merangkak karna aku

Ayolah bawa aku, akrabi dan jangan musuhi aku
Tolong ajak orang tua ataupun kakakmu tercinta
Simpan dan dekap aku sambil bercanda ketika
Ulang tahunmu
Tahunmu bertambah dunia semakin terbuka lebar
Berkawan buku mendekap ilmu

Bersahabat buku memeluk ilmu

NB: Pas dibaca ulang koq rasa-rasanya gw rada sok teu, tapi males ngedit ulangnya....jadi yah, tolong tulisan diatas dianggap kayak orang dodol lagi ngoceh aja. Eniwei, Makasih buanget buat Mbak Fanda, Mbak Reni dan Anaz yang udah mau berbagi award. I love U!! tengkyu banget *muah!*




Thursday, June 18, 2009

Main-main Dengan Teks


aaaaaaarrrrrgggg!! minggu ini bener-bener dalam kondisi crowded. Kerjaan rasanya gak selesai-selesai, dan efeknya, aku belum bersentuhan dengan buku. Hiks!!

Well, daripada blog nganggur...lagi-lagi aku posting review lamaku. Moga tetap bisa menikmati ^^v

***

Buku ini aku dapatkan, saat aku mampir ke sebuah toko buku di Jakarta. Niat utama hanya ingin membeli sebuah buku titipan dari teman kosku, ternyata, setelah berkeliling di tobuk tanpa sadar tangan ini mulai aktif mengambil buku-buku yang menurutku menarik. Apalagi saat sampai di ruang yang berisi buku-buku yang berdiscount, intensitas tangan mengambil buku menjadi semakin tinggi. Dan, sampai mata ini menangkap sebuah buku dengan judul yang menarik, ‘Main-main dengan Teks’. Seketika muncul pertanyaan, emang teks bisa dimainin ya!?? Kata ’teks’ yang selama ini terasa begitu kaku, menjadi lunak saat diawali dengan kata ’main-main’. Paradigma ’teks’ yang kaku, berubah menjadi ringan dan mudah setelah membaca judul dari buku ini.



Hanya saja saat aku melihat gambar badut yang menghiasi cover Main-main dengan Teks sempat membuat dahiku berkerut. ”Aneh,” sebuah kata yang terbersit di hati. Rasanya agak janggal, nuansa kartun yang sempat aku terekam sdi kepala saat melihat bentuk hurufnya, tiba-tiba berubah dengan terlihatnya gambar badut ’hidup’, walaupun---mungkin—maksud layoutnya badut identik dengan bermain, tapi tetap saja dimataku cover terlihat ada yang janggal. Aku hanya membayangkan jika saja badut itu dibuat kartun mungkin lebih bagus atau mungkin gambar manusia (kartun) yang sedang menyusun huruf. Maybe...ini kan hanya imajinasiku saja...

Saat aku membuka halaman pertama buku, tampaklah ciri khas dari Kaifa, yaitu halaman berisi kata-kata yang membesarkan hati para pembacanya. Dan ini adalah salah satu hal yang aku suka dari buku terbitan Kaifa. Dilanjutkan dengan melihat daftar isi, wow!! Aku melihat berbagai macam ’emosi’ dari teks di dalamnya , teks yang ”sakit, teks yang mendinamit, teks yang meneror, teks yang bergerak dan masih banyak lagi. Aku telusuri judul subbab yang menurutku menarik, kemudian aku baca sekilas ke dalam subbab tersebut. Sekelebat kata muncul di kepalaku, ”Menarik!”

Dengan harga yang relatif murah, aku memutuskan memasukkan buku ini ke dalam tumpukan buku yang sudah menumpuk ditanganku. Dan aku siap membacanya ^_^

***

Judul Buku: Main-main dengan Teks
Penulis: Hernowo
Penerbit: Kaifa, bandung
Cetakan: Kedua, Juli 2004
Tebal: xxxii+184

Membaca teks, sesungguhnya, adalah membaca pergulatan pikiran;
dan menulis teks adalah....mengekspresikan perasaan dan kesolidan pikiran.
~Hernowo~

Seperti yang sempat berkelebat di kepalaku saat first sight, buku ini menarik. Buku yang bercerita tentang ’emosi’ yang terkandung dalam teks,
Bahwa teks bisa memandu,
Bahwa teks bisa bergerak,
Bahwa teks bisa jujur,
Bahwa teks bisa membiak,
Yang intinya, bahwa teks juga memiliki ’jiwa’

Seorang wanita sedang memandang mukanya di depan kaca. Wajahnya cantik jelita; memenuhi seluruh persyaratan yang memungkinkan ia menjadi pujaan. Para wanita yang melihat wajah itu merasa dirinya tidak beruntung karena wanita itu terlampau sempurna. Namun, tiba-tiba, wanita itu menancapkan paku mencocok matanya sendiri.
~Teks yang dikutip penulis dari salah satu karya Putu Wijaya~

Apa yang kawan-kawan rasakan saat membaca teks di atas?

Contoh teks yang digunakan penulis di atas, untuk menggambarkan bahwa teks juga bisa menjadi teror. Bahwa teks bisa menjadi mengerikan. Di buku inilah penulis ingin mengatakan bahwa teks bisa memuat emosi kita, dan teks dapat menularkan emosi kita.

Selain bercerita tentang ’emosi-teks’, buku ini juga memotivasi pembaca untuk membaca dan menulis. Seperti yang tertulis pada pengantar Sindhunata, Membaca dan menulis bukanlah soal metode atau teknik, melainkan soal hidup dan keberanian. Buku ini menawarkan keberanian kepada pembaca untuk melakukan kedua kegiatan tersebut. Dan menekankan bahwa membaca dan menulis adalah satu mata koin yang tidak dapat dipisahkan. Membaca mendukung menulis dan menulis melengkapi membaca.

Mudah dicerna, menjadi salah satu keunggulan buku ini. Penggunaan bahasa yang ringan dan komunikatif, membuat si pembaca seakan-akan diajak berdialog dengan penulis. Kepala pun tak perlu berpusing ria mengartikan kata atau kalimat yang tertulis, karena gaya penulisannya yang lebih terkesan bercerita dibanding mengajari.

Benar-benar menarikkah buku ini??

Masih gak yakin? Coba deh kawan-kawan buktikan....

***

Sebenarnya buku ‘Main-main dengan Teks’ berkaitan dengan dua buku sebelumnya, ’Mengikat Makna’ dan ’Andaikan Buku itu Sepotong Pizza’. Tetapi, karena kedua buku tersebut belum mampir ke kosku, aku gak bisa membandingkan ketiga buku itu. Mungkin suatu saat aku akan mencoba menjemput sekaligus mengorek-ngorek informasi kedua buku, dan menresensikan hasilnya pada kawan-kawan. Semoga kawan-kawan gak bosen dengan resensiku ;)


Monday, June 15, 2009

Cahaya Di Atas Cahaya

Setelah obrak-abrik blog multiply, nemu review lama sebuah buku yang menurutku masih menarik. Cuman gaya reviewku jaman dulu rada aneh, hasilnya bisa diliat sendiri. Semoga Bermanfaat ^^

***
Sejarah pertemuan buku...

Mataku tajam menatap sebuah rak di samping tetehku yang sedang memberi materi. Telingaku mendengarkan materi, tetapi mata ini tetap saja terfokus dengan isi rak kayu yang berukuran + 1 x 1,5 m. Hari ini kali pertamanya, kita berkumpul di rumah teteh, dan kali pertamanya aku mengetahui bahwa teteh mempunyai rak yang dipenuhi dengan buku....hwehehehehe....


Sebenarnya selain hobi membeli buku, aku juga hobi meminjam buku. Dan sudah menjadi langkah otomatis, jika di rumah seseorang dan melihat deretan buku yang terpanjang, mata akan terpaku ke sana.


Sepertinya teteh menyadari tingkahku saat itu, karena setelah materi selesai. Teteh membuka kaca yang melindungi deretan buku itu, dan mengambil dua buku, ”Ada yang mau pinjam buku ini?” aku pun tersenyum menyambut tawaran itu. Dua buah novel islami ditawarkan teteh untuk kami baca, sekejab salah satu buku sudah ditenteng temanku, tersisa satu buku yang dengan cepat aku ambil sebelum keduluan yang lain. Sebuah buku lama bersampul kuning dengan gambar wanita berjilbab lebar sedang duduk merenung diterpa cahaya. ”Cahaya di Atas Cahaya (CAC), judul yang indah,” batinku.


”Oke deh teh, aku pinjam,” kataku sambil memasukkan buku itu ke dalam tas.


***

Masuk ke sasaran utama...

Judul Buku: Cahaya di Atas Cahaya

Penulis: Izzatul Jannah
Penerbit: Asy Syaamil, Bandung

Cetakan: Pertama, 2000

Tebal: 143 halaman


Menjadi perempuan bagi saya adalah karunia sekaligus perenungan.

Sebab warna dunianya lebih bergradasi dibanding dunia laki-laki.

Konflik-konflik dalam menjalani peran kodratinya lebih variatif dan unik. Ujian kehidupannya pun lebih berwarna dan senantiasa harus memilih.

~Izzatul Jannah~

Seperti pengantar dari Mbak Izzatul Jannah, hampir sebagian besar cerpen di buku ini mengambil sosok wanita, wanita yang dipenuhi dengan berbagai konflik hidup, kisah Bhernadetta yang mendapatkan cahaya Allah dari ayat-ayat yang dilantunkan Aisyah, teman sekamarnya yang juga adalah sosok yang sangat dia benci; kisah Maya yang berakhir tragis, karena keinginan mendapat perhatian orang tuanya tak kunjung diperolehnya; Srinah, sosok pelacur yang ingin menikah dengan seorang guru ngaji.


Buku CAC juga dipenuhi dengan kejutan seperti tersirat dalam kisah Rahasia Ibu, sebuah rahasia yang akhirnya terkuak dan membuat shock sang putri, Kisah Rompas, anak jalanan yang menarik perhatian seorang wartawan dan menjadi headline news.


Walaupun tema utama buku ini sebagaian besar adalah wanita, bukan berarti label novel cengeng langsung ditancapkan begitu saja. Terbukti dengan kisah-kisah intifadhah yang cukup mengguncang, pembelotan seorang anak kepada ayahnya sendiri; ketegaran seorang ibu melindungi perjuangan putranya dan kisah pernikahan jihad yang berakhir dengan kematian.


Wah...perasaan pembaca benar-benar dibuat mengikuti alur cerita...


Sempurnakah buku ini??

Tidak. Setiap buku pasti memiliki kelemahan. Aku menangkap sebuah kisah datar di antara kisah-kisah penuh kejutan, Fafa Kembalilah, sebuah judul yang berkisahkan tentang seorang sahabat yang sempat meninggalkan ”jalan-lurus”, menurut pandangan subyektifku kisah ini terlalu datar (walaupun aku sendiri masih belum sukses untuk menulis cerpen), ceritanya terlalu mulus, tanpa konflik dan berakhir membahagiakan.


Selain kisah datar di atas---menurut pandanganku---tidak ada kelemahan lain yang terdapat dalam buku ini, cover sederhananya pun menurutku cukup menarik dan kalem—walaupun prinsip cover haruslah cerah supaya menarik---tapi aku menganggap bentuk cover tersebut sesuai dengan judul yang tertera, Cahaya di Atas Cahaya. Kesederhanaan itu juga diperkuat dengan layout halaman yang tanpa ornamen. Biasa donk??!! Hmmm...mungkin juga, tapi coba pandangi dan selami buku ini, kau akan merasakan kesederhanaannya.

NB: maaf gak menemukan cover bukunya

Thursday, June 11, 2009

Doa Cinta

Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi
Tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia


Lirik ini pasti sudah familiar di kepala kita. Hanya memberi, tak harap kembali. Lirik yang menggambarkan totalitas seorang Ibu dalam memberikan yang terbaik untuk anaknya. Seperti cerita keikhlasan tokoh Biyung yang memberikan doa dan cintanya untuk kedua putranya, Irkham dan Fitri.

Irkham adalah seorang sarjana lulusan S2 sosiologi Humboldt, universitas tertua dan termasuk salah satu dari lima universitas riset teratas di Jerman. Gelar yang “wah” ternyata tidak lantas membuat Irkham berbahagia, karena sebuah realita terpampang dihadapannya. Pengangguran. Setelah lulus Irkham pun dihadapkan pada sebuah dilema, pulang segera ke Indonesia atau mencari bekal dulu untuk dibawa pulang?

Karena ketakutannya dengan gelar baru pengangguran nanti, akhirnya Irkham memutuskan memperpanjang masa hidup di Jerman dengan bekerja serabutan. Tapi keputusan yang diambil tanpa memberitahu keluarganya ini, ternyata berdampak cukup fatal. Pada saat bersamaan, sang kekasih, Amelia mendapat desakan dari orang tuanya tentang kepastian hubungannya dengan Irkham. Hilangnya kontak dengan Irkham dan nasehat dari Biyung, membuat Amelia melanggar janjinya untuk menunggu kepulangan Irkham.

Ketika Irkham pulang ke Indonesia, berbagai tekanan dan pernikahan kekasihnya membuat Irkham terpuruk. Bingung dengan apa yang akan dilakukan, Irkham memilih kebohongan menjadi “jalan keluar” mengatasi tekanan. Berbohong dengan mengatakan bahwa dia telah mendapatkan pekerjaan di Semarang. Namun, seperti mata rantai yang tak pernah putus, kebohongan demi kebohongan terus dilakukan Irkham, hingga akhirnya penyesalan pun datang terlambat.

Dengan mengambil setting Jerman, Purwokerto dan Semarang, buku terbitan edelweiss ini memberi banyak pelajaran, tentang kasih sayang, kesabaran, cinta dan doa yang bertubi-tubi dari seorang ibu, tentang semangat hidup dan mendapatkan impian, tentang penyesalan, tentang dinamika kehidupan desa. Tetapi cerita terlalu bertele-tele, banyak bagian yang tidak mendukung cerita. Selain itu banyak sekali kesalahan dalam pengetikan dan penggunaan tanda baca seru yang tidak pada tempatnya.

Ada beberapa bagian yang menurut saya pribadi tidak sreg. Mengingat genre buku yang condong pada novel islami, obrolan antara Irkham dan Amelia-yang notabene-nya memiliki dasar agama cukup kuat-dituliskan dengan gaya yang saling menggoda. Parahnya, obrolan ini diselipi dengan unsur-unsur agamis. Hal ini membuat buku menjadi tidak tegas dan ganjil. Ataukah si penulis memang sengaja mencampur-baurkan yang benar dan salah didalamnya?

Judul: Doa Cinta
Penulis: Sirin MK
Penerbit: Edelweiss
Cetakan: 2009
Tebal: 372 halaman
Harga: - [Pinjam]

Tuesday, June 2, 2009

Dunia Paralel


Dunia paralel, adalah dunia di mana terdapat sosok yang sama namun berada di dunia dan kondisi yang berbeda. Awalnya aku sempat berharap buku ini akan bercerita tentang satu tokoh yang hidup di dua atau beberapa dunia yang berbeda dalam waktu bersamaan. Ternyata….

Dikisahkan pertemuan awal Vian dan Medi di sebuah airport yang berdampak terciptanya “rasa” dalam diri masing-masing. Pergolakan “rasa” berlanjut dengan kerjasama tak sengaja mereka dalam pembuatan film yang bertemakan dunia paralel. Kisah ini dipenuhi dengan pertarungan batin, saat rasa cinta tumbuh tapi kondisi tak memungkinkan. Walaupun diselipi dengan persahabatan dan pekerjaan, fokus cerita tetap pada Vian dan Medi.

Sempat berpikir novel ini sangat nanggung, sepertinya semua tokoh menahan emosi. Tidak ada emosi yang berarti, malah kebanyakan menghadirkan toleran dimana-mana. Tapi saat mengetahui ending kisah, aku cukup mengerti kenapa mereka terus menerus meredam emosi.

Gaya penceritaan terasa datar-datar saja, walaupun sering dilengkapi kalimat-kalimat yang memberi penasaran kepada pembaca. Selain itu, tokoh Reno seorang executive produser seperti hanya sekedar pelengkap agar ada tambahan konflik. Dan membuat kepalaku berpikir, “Lah, cuman gini doank” saat konflik Reno dengan Vian dengan –sangat— mudah diselesaikan oleh Alleta. Satu lagi tentang cover, aku suka dengan desainnya tapi tidak menangkap filosofi ataupun hubungan yang terkandung di dalamnya.

Tapi lepas dari kedataran cerita, penulis cukup cerdik menyimpan jawaban dengan membuat pembaca dipenuhi penasaran dan bertanya-tanya terlebih dahulu.

Kembali kepada harapan di awal, ternyata apa yang kuharapkan tidak kesampaian. Karena dunia paralel yang tergambar lewat buku ini adalah sebuah sarana manusia untuk “memperbaiki” sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan mereka. Sekaligus melengkapi kesimpulan di kepalaku bahwa dunia paralel memang hanyalah angan-angan.

Judul: Dunia Paralel
Penulis: Micki Mahendra
Penerbit: Media Kita
Cetakan: 2006
Tebal: 179 halaman
Harga: Rp. 10.000,- [diskon]

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers