Friday, December 26, 2008

Jangan Jadi Perempuan Cengeng

Judul: Jangan Jadi Perempuan Cengeng
Penulis: Pipiet Senja, dkk
Editor: Ummu Rama Syahidah
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Cetakan: Januari 2008

Life is a Battle…

Hidup selalu dipenuhi dengan pernak-pernik, Bisa jadi pernaknya terlihat baik, tapi tak jarang perniknya tampak buruk. Warna-warni kehidupan memberi nuansa keindahan tersendiri bagi siapa saja yang mau memandang hidup dengan kepositifan. Kesabaran, ketegaran, memaafkan, pasrah, ikhlas adalah sebagian dari serangkaian penyejuk garangnya dunia.

Life is a Battle…

Kedukaan, kepedihan memang salah satu dari banyak ‘rasa’ yang selalu ada dalam ‘menu’ kehidupan. Air mata seringkali menjadi pelengkap dari segala kesusahan. Air mata? Ya, aliran air yang seringkali menerobos mata saat hati mulai terkoyak.
Perempuan dan air mata. Dua unsur yang berulangkali dikaitkan secara erat. Kenapa harus perempuan? Kabarnya karena perempuan adalah sosok yang didominasi oleh perasaan. Doktrin seperti itu yang acapkali membuat perempuan dipandang lemah. Rapuh.

Lewat buku berjudul ‘Jangan Jadi Perempuan Cengeng’ kita akan disuguhkan kisah nyata para perempuan dalam menghadapi segala problematika kehidupan. Lemah? No Way!
Di awal kisah, kita akan disambut dengan tiga kisah kehidupan Pipiet Senja, kisah masa kecilnya yang divonis terkena thalasemia, tertuang dalam ‘Ditemani Sepasang Mayat’, berlanjut ‘Bintang Selalu Tersenyum’ dengan kisah kehamilan keduanya yang diwarnai konflik-konflik dalam rumah tangganya, sebagai penutup kedua kisahnya, Pipiet Senja menghadirkan ‘Di Ujung Pengharapan’.

Konflik keluarga menjadi tema dengan prosentase terbesar dalam buku ini. Kebahagiaan Itu, Ada Di Ujung Cerita : Nawangsari, Masih Ada Pelangi : Laras Ati, Kisah Sri : Farida Nur’aini, Tak Pernah Setegar Karang : DH Devita, dan Walaupun Kemilau Itu Telah Pudar : Rien Hanafiah. Perselingkuhan dan KDRT tercermin dalam kisah-kisah di atas, namun masing-masing cerpen memiliki keragaman ending dan solusi.

Dilema, juga menjadi permasalahan yang melanda dalam keluarga. Meskipun Aku Bukan Fatimah: Afifah Afra, mengisahkan tentang istri yang harus bersabar dengan suaminya yang berprofesi sebagai dokter, membuat dia harus seringkali meninggalkan keluarga; selanjutnya Jangan Ambil Nyawa Anakku Lagi, Ya ALLAH! : Ummu Saskia dan Alhamdulillah, Adik Lahir Normal : Sri Wigati menceritakan tentang usaha keras para ibu untuk mengatasi ketakutan kehilangan sang buah hati.

Perjuangan bertahan hidup mengalir dalam Asa di Ujung Cerita : Fitri dan Menantang Kerasnya Ibu Kota : Ummu Abdillah, dan Sang Putera Seroja : Afifah Afra

Kisah-kisah “sederhana” serta lucu menjadi bumbu penyedap yang menarik dalam kisah Ya ALLAH, Burung-burung Puyuh kami : Riannawati, Aku Malu Telah Mengucurkan Air Mata : Narita, Pelajaran Dari Sebuah Perjalanan : Deasylawati dan Bersama si ‘Onta Merah’ : Deasylawati.

Life is Battle…
Adalah sebuah kesimpulan yang tertangkap dari keseluruhan kisah. Tak ada kata kalah dari para perempuan ini untuk menghadapi dunia.

Saturday, December 20, 2008

Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf

Judul: Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf
Penulis: FLP Jawa Tengah
Editor: Kahf Nuna-Deas Pras-Ade Nata
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Cetakan: 2008

“Aku nyengir sendiri. Tapi tunggu… ada pasukan lain yang juga mendengungkan doa mereka, mereka adalah keluarga yang kehilangan ayah, abang, ibu, paman, karena tuduhan gerakan komunis. Tetapi doa mereka seperti menelikung teman sendiri: mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati” [hal. 37]
Kutipan cerita di atas adalah satu paragraf dari cerpen berjudul Sudah Mati, judul yang bisa dikategorikan eksotis sekaligus cerpen yang sangat mengesankan.
‘Sudah Mati’ yang ditulis dengan kelincahan kata-kata Izzatul Jannah, berkisah tentang Aku, sang penjemput nyawa. Sang penjemput ‘kebebasan’ jiwa dari raga, yang sedang menyaksikan momen penjemputan nyawa. Dikisahkan satu sisi tokoh “Aku” melihat pertempuran hebat antara ikhtiar para dokter dengan doa-doa ‘pencabutan’ nyawa atas diri mantan penguasa orde lama, sedangkan di sisi lain, pada waktu bersamaan nampak ketenangan alam menyambut pencabutan nyawa pria sederhana bernama Parmin. Dua kematian dengan nuansa yang sangat berbeda.

Cerpen kedua yang mampu memberi kesan padaku adalah Ziarah Batu: M.N. Furqon. Penceritaan tentang pemilihan lokasi kubur sang ayah dan ending kisah yang memberikan kejutan keserakahan, sangat menarik untuk dinikmati.

Di samping ‘Sudah Mati’ dan ‘Ziarah Batu’ masih ada 13 cerpen yang melengkapi kumpulan cerpen berjudul ‘Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf’. Judul yang cukup kontroversi, tapi mampu menarik lirikan penikmat buku. ‘Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf’ oleh A. Adenata bercerita tentang histeria orang-orang yang selalu mengatakan si tokoh mirip nabi Yusuf,
“Dari mana kau tau aku mirip Nabi Yusuf?”
“Pokoknya kamu mirip Nabi Yusuf,” Kalimat yang selalu menjadi jawaban para penduduk pelosok negeri dan semakin membuat tokoh penasaran dengan dirinya.

Tema keikhlasan dihadirkan pada cerpen berjudul ’Perjamuan Malaikat’ dan ’Agustus Tahun Depan’. Afifah Afra lewat ’Perjamuan Malaikat’ menggambarkan keikhlasan Eyang Shobron melihat dan menghadapi kerakusan, bahkan menghilangnya kemanusiaan akibat kelaparan. Di hadapannya terpampang kebrutalan para jama’ah haji mengambil shodaqoh nasi di Bukit Arafah
”Mungkin sekotak nasi lebih berharga dibanding kesempurnaan beribadah haji” [hal 27]
Dan ’Agustus Tahun Depan’, menceritakan Pak Wira, seorang veteran Republik Indonesia yang menolak menerima uang pensiunan dari pemerintah. Cerpen yang dikisahkan Nassirun Purwokartun dengan penambahan kalimat jowo membuat nuansa Jawanya terasa.

Sindiran atas nasib petani dituangkan Prana Perdana dalam ’Bendera Bawang’. Cara Prana memadukan antara Bendera Merah Putih dan Bawang Merah Putih menjadi keunikan tersendiri. Dan sindiran kembali tertuang pada cerpen Maling karya Aveus Har, mengisahkan tentang dua Maling, dengan akhir nasib yang berbeda.

Kali ini Sakti Wibowo menuangkan “Battumi Anging Mamiri”, tapi kisah ini terlalu banyak kata-kata kiasan yang membuat kepala harus ekstra keras mencernanya. Dan aku baru “nyambung” dengan ceritanya ketika mulai memasuki babak-babak akhir kisah.

Buku ini menawarkan beraneka rasa ’buah’ perenungan, seperti yang dikatakan Joni Ariadinata dalam pengantarnya yang berjudul ’Berkebun di Taman Cerita’. Ada kelucuan dalam ’Jenmani Untuk Ibu’: Deasylawati, Kesederhanaan disajikan dalam ’Kerbau Pak Bejo’: Rianna Wati dan ’Surat Buat Tuhan’: Nashita Zayn, Kesetiaan terwarna dari Barongan: Jazhimah Al-Muhyi,. Kepercayaan akan Mitos dalam Matahari Tergadai: Sunarno dan Kyai Sanca Wangsit: Kresna Pati, serta Kehilangan Elang Hilang Sayap: Titaq Muttaqwiati.

Sehari Satu Buku

Obsesiku Baca 1 hari 1 buku”, Wow…satu kalimat reply dari tulisan catcil ‘Jamanku Anak-Anak’ sangat menarik perhatianku. Kepalaku langsung bertanya, “Mungkin gak ya?”. Aku gak yakin dengan obsesi "One Day One Book" karena sejak jadi orang kantoran jam bacaku terasa minim. Gak tau karena males atau karena udah kecapekan mikir, setiap udah niat banget pengen baca dan buku udah di tangan, serta merta mata dengan segera mulai menggaungkan kata "NGANTUK" besar-besar di kepalaku. Jadilah...baca buku harus berakhir dengan penambahan 10 halaman tiap harinya.

One Day One Book? Hmmm…Dicoba aja lah. Kalau bisa, bagus, kalau gak bisa, yo wis

Malam itu juga aku praktekin “One Day One Book”. Aku ambil buku dengan tebal 300-500-an. Mulai aku baca lembar demi lembar, seperti biasa ngantuk mulai menyerang mata. Aku mencoba melawan dengan semakin menenggelam diri ke cerita, mulai mengimajinasikan barisan kata. Dan hasilnya….GAK SUKSES! Horey!!

Eits...koq seneng?! Emang sih obsesi "One Day One Book" gak kesampaian, tapiiiii....aku berhasil menuntaskan separuh buku!! Hampir 200-an halaman dalam semalam. Huwaaaaaahhh...Serasa menyenangkan! Aku jadi memiliki motivasi untuk segera menyelesaikan buku yang tertumpuk dengan label ”Belum Dibaca”.

Tau gak? *Gaaaaaaaaaaaaaaakkk!!* Keberhasilanku menular ke jiwa reviewer-ku *cieeeee!* Terasa sekali semangatku untuk menulis review buku semakin menyala. Dan yang lebih membahagiakan di sela-sela aku membuat review, selalu ada ide untuk membuat tulisan. Gimana gak hepi??!! Yey! I like that! Senangnyaaaaaa....semakin terasa keceriaan suasana tulis menulis dan baca membacaku sejak hari terinspirasinya aku dengan "One Day One Book". Moga keceriaan ini bisa bertahan lama.

NB: Thank Nok buat obsesinya ;)

Tuesday, December 16, 2008

Seri Little Ghost : Menu Anak Tiga Pulau

Judul: Seri Little Ghost : Menu Anak Tiga Pulau
Penulis: Eiko Kadono
Ilustrator: Youko Sasaki
Penerjemah: Elly Setiawan
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Cetakan: 2002

Hari Minggu restoran “Burung Layang-Layang” selalu dipenuhi oleh pelanggan. Acchi dan kawan-kawan harus bekerja ekstra keras untuk melayani setiap tamu. Tiba-tiba telpon berdering, di sela-sela kesibukannya Acchi mengangkat telpon. Dari ujung lain, terdengar suara anak laki-laki bernama Ta yang sedang ketakutan. Ta mengatakan kalau dia baru saja mengeluarkan kata-kata mejik. Dan itu berakibat sendok dan garpunya berperang sendiri. Ta meminta Acchi untuk datang ke rumahnya karena dia sendirian dan ketakutan.

Acchi merasa kasian dengan Ta, dan memutuskan untuk mampir sebentar ke rumahnya. Sesampai di rumah Ta, Acchi bertemu dengan Ta yang bersembunyi di balik selimut. Ta, anak laki-laki berbadan kurus yang tidak suka makan. Acchi menatap sedih kepada Ta, dan ia ingin membuatkan makan siang untuk Ta.

Ta menyambut gembira tawaran dari Acchi dan Ta mengajukan menu makan siang yang diinginkannya pada Acchi

"Menu makan siangku, terbagi tiga pulau. Yang pertama pulau yang ada gunung dan lembahnya, berikutnya, adalah pulau yang ada beberapa kolam, yang terakhir, pulau keberhasilan...,pokoknya jangan sampai salah, ya..."

Wow...menu makan siang yang cukup aneh, bagaimana Acchi menyiapkannya? Hmmm...

Seri Little Ghost : Socchi Ingin Kucing

Judul: Seri Little Ghost : Socchi Ingin Kucing
Penulis: Eiko Kadono
Ilustrator: Youko Sasaki
Penerjemah: Elly Setiawan
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Cetakan: 2002

Socchi adalah hantu perempuan mungil yang sangat disukai kawan-kawannya. Dia selalu tersenyum dan ramah kepada siapapun. Hari ini Socchi ditunggu dua orang sahabatnya, Ken dan Mie di taman. Mereka ingin menunjukkan sesuatu pada Socchi. Sesampai di taman, Mie membawa sesuatu yang dibungkus selimut. Socchi dan Ken berusaha menebak-nebak apa isi selimut itu. Ternyata, selimut itu berisi anak anjing yang lucu. Waah...Socchi terpesona. Ken tak mau kalah, dia juga membawa kejutan hari ini. Dia mengeluarkan sesuatu yang dibungkus sapu tangan. Socchi melihat dengan penuh penasaran. Begitu sapu tangan terbuka, tampak seekor burung mungil yang manis.

Ken dan Mei terlihat menyayangi binatang peliharaan mereka. Socchi merasa iri dengan mereka. Tiba-tiba Mei bertanya, "Socchi memelihara apa?" Socchi tak bisa menjawab. Ken dan Mei mulai mengejek Socchi. Akhirnya Socchi berbohong, mengatakan dia memelihara kucing. Akibat tindakannya Ken dan Mei menantang Socchi untuk membawa kucingnya ke taman besok. Socchi bingung. Apa yang akan Socchi lakukan keesokan harinya?

Seri Little Ghost : Hamburger Terbang

Judul: Seri Little Ghost : Hamburger Terbang
Penulis: Eiko Kadono
Ilustrator: Youko Sasaki
Penerjemah: Elly Setiawan
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Cetakan: 2002

Hari ini Et membawa seorang bocah laki-laki ke restoran “Burung Layang-Layang”.

Acchi, anak ini kasihan sekali lho. Sepertinya dia terlepas dari orang tuanya. Kita tolong yuk!” kata Et. Di belakang Et bersembunyi seorang bocah laki-laki kurus yang menampakkan wajah sedih.

“Pu…Purari! Pu…Purari! Pu…Purari!” ucap bocah laki-laki teru menerus sambil menangis. Acchi dan kawan-kawan sama sekali tidak mengerti apa yang diinginkan bocah ini. Kemudian, Acchi mengusulkan supaya si bocah menggambarkan apa yang dimaksudnya. Segera di bocah menggambar di selembar kertas. Hasilnya, gambar hamburger tampak di kertas itu. Segera dengan kehebatan Acchi dalam memasak, dia membuatkan bocah itu hamburger paling enak. Tapi begitu hamburger selesai dibuat, ternyata bocah kecil itu masih juga menangis. Acchi pun semakin bingung. Apa sebenarnya yang diingin bocah laki-laki ini sebenarnya? Apa maksud gambar hamburgernya?

Seri Little Ghost : Hidangan Misterius Acchi

Judul: Seri Little Ghost : Hidangan Misterius Acchi
Penulis: Eiko Kadono
Ilustrator: Youko Sasaki
Penerjemah: Elly Setiawan
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Cetakan: 2002

Acchi adalah hantu kecil yang jago memasak. Dia koki restoran yang bernama “Burung Layang-Layang”. Hari ini seorang tukang pos mendatangi restoran Acchi, menyampaikan sebuah surat tantangan untuk Acchi. Isi surat:

Untuk Acchi yang ahli memasak. Ini ada pesanan masakan special. Namanya “Hidangan yang entah ada atau tidak ada” Apakah kamu bisa membuatnya? Bisa tidak? Tiga hari lagi, di malam hari, sebuah siulan akan menjemputnya”. Dari makhluk teka-teki yang tinggal di hutan.

Isi surat itu membuat Acchi kalang kabut. Acchi tidak yakin dapat menemukan “hidangan entah ada atau tidak ada”, tapi sahabat-sahabatnya, Et, Bon, Chi dan Ka terus meyakinkan Acchi, dia pasti bisa menemukan hidangan yang dimaksud. Hmmm…kira-kira hidangan seperti apa yah yang akan Acchi buat?

Jamanku Anak-anak

"Lagi pengen jadi anak-anak," jawabanku ketika seorang teman bertanya koq tiba-tiba baca buku Seri Little Ghost [SLG].

Keinginan ini muncul saat aku sedang menjelajah buku di Read Me [persewaan buku]. Kutemukan buku-buku lawas ini pada posisi yang tak terlalu menonjol, berada di rak terbawah sebelah kanan. Letak yang sedikit tersembunyi. Tak hanya SLG yang tertumpuk di sana, ada juga Donal Bebek, Madiken, Toto Chan dan beberapa buku berlabel anak-anak.

Perasaan ingin bernostalgia tiba-tiba muncul, mengingat betapa rajinnya aku dulu untuk datang ke persewaan dan menekuni segala komik yang berderet rapat. Mengingat betapa gandrungnya aku dulu dengan komik donal bebek, mickey mouse, Scooby doo, Asterix plus komik-komik jepang: Kala itu komik yang jadi favoritku adalah Dunia Mimpi [Kyoko Hikawa emang TOP!], Harlem Beat en Kungfu Boy, dikombinasi dengan Serial Cantik dan Serial Misteri.

Kemudian, minat baca pun “meningkat” dari komik menjadi novel. Mulailah berburu serial Malory Towers, Si Kembar di St. Clare, Madiken, dan Goosebumps. Kembali hunting ke persewaan masih juga menjadi pilihan utama, yang sementara tak mengindahkan kata ”beli”.

Menginjak kelas 2 SMP tipe bacaan berubah. Saat itu serial detektif menjadi yang ter…ter…dan terfavorit untuk dicari. Petualangan dan teka-teki benar-benar membuatku tergila-gila. STOP, Lima Sekawan, Sapta Siaga, Trio Detektif dan Agatha Christie, plus ditambah komik Detektif Kindaichi dan Detektif Conan adalah bacaan yang memenuhi tangan dan tasku. Tapi kala itu ke”serius”an dengan serial detektif masih aku imbangi dengan membaca kekonyolan serial Lupus dan Olga. So…gak stress amat lah :D

Well. Selalu menyenangkan mengingat masa kecil ^_^

Monday, December 15, 2008

Bendera Merah

Judul: Bendera Merah
Penulis: Juniarso Ridwan
Editor: Yus R. Ismail
Penerbit: Pustaka Latifah
Cetakan: Pertama, Mei 2008

Ia berpendapat, bahwa keberadaan desa harus terisolir, sehingga keaslian tetap terjaga. Tidak terganggu oleh perubahan yang akan mengubah wajah desa. Kemudian secara perlahan-lahan warga desa akan meninggalkan adat kebiasaan yang telah lama dianutnya. Desa harus tetap dipertahankan sebagai desa, begitu katanya. Bahkan aliran listrik pun seharusnya tidak diperbolehkan masuk desa. ”Apabila berbagai fasilitas modern masuk ke dalam lingkungan desa, maka warga desa akan menjadi malas, tak mau lagi terjun menekuni bidang pertanian,” kata Kiran suatu saat [hal. 25]

Kiran, sosok pria idealis yang sangat menentang modernisasi masuk ke desanya. Didukung dengan sifatnya yang selalu merasa paling benar, dia terus berusaha ”melindungi” desanya dari segala racun modernisasi. Keidealisannya dibuktikan dengan penggagalan pembangunan hotel di desanya. Kiran, dengan posisinya sebagai pengurus ICMB [Ikatan Cendikiawan Masyarakat Berakhlak] berhasil meyakinkan para pejabat yang berkompeten. Dan hotel pun urung dibangun.

Usahanya untuk ”melindungi” desa memberinya dampak ”pengasingan” dari para pemuda di desa tersebut, tapi itu sama sekali tidak menghambat pendiriannya. Perjuangannya berbuah ”manis”, Kiran yang sangat aktif di ICMB masuk ke dalam susunan menteri. Namun seiring berjalannya waktu idealismenya pun perlahan-lahan mulai runtuh.

***

Kiran adalah salah satu dari tiga judul cerpen yang beraroma politik dari buku kumcer bersampul klasik ini. Dua judul lain adalah Bupati Valentino yang mengisahkan Valentino yang terobsesi kembali menjabat sebagai bupati dan Mariane [istri Valentino] yang harus bisa menekan keberatannya; dan Sepotong Bulan Pecah di Atas Serpihan Piring, usaha mengumpulkan suara pemilu yang diwarnai perselingkuhan.

Di buku tipis berhalaman 80, penulis juga menuangkan sindiran-sindirannya lewat Surat Berdarah berkisahkan tentang Konflik Aceh-GAM, dan Kantor Yang Dihuni Genderuwo, genderuwo yang berbalut manusia.

Sebagai sosok yang juga dikenal sebagai penyair Sunda yang potensial, Juniarso tak lupa menuangkan kemampuan berpuisi pada cerpen yang berjudul Bendera Merah, cerpen yang menjadi ”headline” kumcer Juniarso Ridwan. Selain judul-judul di atas, terdapat juga Buku Harian Seorang Babu, Kerinduan Suami Istri, Tentang Pohon dan Wajah Bunda di Kepalan Tangan.

Cerita-cerita yang terkandung, sebagian besar tidak memiliki konflik yang memuncak dan diceritakan dengan mengalir mendekati datar, seperti menulis esai. Namun, semua cerpen beralur yang sangat terbuka, sehingga pembaca bebas mengimajinasikan bagaimana kelanjutan dari kisah-kisahnya.

Thursday, December 11, 2008

TIKIL, Titipan Kilat: Kami Antar, Kami Nyasar

Judul: TIKIL, Titipan Kilat: Kami Antar, Kami Nyasar
Penulis: Iwok Abqary
Penerbit: Gagasmedia
Cetakan: Pertama, 2008

Jangan ditanya deh tentang betapa pentingnya jasa pengiriman di era-era sekarang. Liat aja, semakin meningkat kesibukan para penghuni bumi, dan semakin hitsnya “Time is money” membuat jasa pengiriman barang sangat-sangat dibutuhkan. Hasilnya…berhamburanlah jaskir [jasa kirim] memenuhi bumi nusantara. Persaingan pun menjadi “buah” dari banyaknya jaskir yang muncul. Nah…bersiaplah, siapa yang kuat dia yang menang, siapa yang lemah dia yang pingsan.

Di tengah-tengah kehebohan persaingan yang menjerit-jerit, satu Jaskir tampak bersiap dilempar ke kotak berlabel lemah. TIKIL [titipan kilat], nama Jaskir yang saat ini sedang dalam kondisi “sekarat”. Koq bisa?

Sebenarnya TIKIL gak jauh beda dengan Jaskir yang lain. Trus, koq sekarat? Yaaaaa….gimana gak sekarat kalo kantor berisi orang-orang gokil bin kacau kombinasi lemot. Lilis, si resepsionis yang hobi ngikik kayak kuntilanak; Mang Dirman, kurir yang harus rela punya paha segede tales, karena nganter segala titipan pake sepeda, Dasep, kurir pembalap yang kena kutukan [never day without tabrakan!!] ditambah Kusmin yang setiap saat bisa berubah menjadi power-ranger. Sudahkah? No...no..no…masih ada si bos yang gak kalah “mengerikannya”, Pak Pri, bos yang hobi “meracuni” karyawan dengan masakan-masakan ajaibnya.

So…Apa Tikil akan berakhir mengenaskan? Trus… nasib Lilis, Dasep, Mang Dirman dan Dasep gimana? Trus…trus…solusi dari Pak Pri?? Pertanyaan yang akan kejawab kalau baca nih buku [promosi abees!! ^_^v]

Sesuai dengan label nih buku yang bertuliskan “komedi cinta”—walaupun porsinya gak terlalu banyak---Penulis menyajikan kisah cinta yang unik antara Lilis dan Bowo, pria yang setiap saat selalu dipanggil Mas Adjie oleh Lilis. Why? Hmmm…

Tapi….ada sedikit bagian cerita yang menurut peresensi cukup membingungkan, saat tiba-tiba muncul tokoh istri Pak Pri datang ke kantor. Kenapa? Ada apa? Kaitan dengan rangkaian ceritanya? Tidak ada penjelasan lebih lanjut.

Well, lepas dari sedikit kebingungan peresensi, buku bersampul khas Jaskir ini juga memberi warna indah berupa semangat untuk bangkit, solidaritas dan kreatifitas gokil tapi menguntungkan. Eniwei, gak lupa sebuah kejutan yang bisa dikatakan sebagai inovasi baru di dunia jaskir [jasa kirim] dihidangkan penulis dengan cerdik.

So…dijamin nepuk jidat “ngeladeni” kekacauan yang memenuhi TIKIL.

Sunday, December 7, 2008

"Gila" Buku

“Sint, ada buku bagus,” rasa antusias seketika muncul, demi menyambut kata “buku” yang selalu berhasil membuat aku tertarik. Duh!

Aku bisa menahan untuk membeli baju, makanan, elektronik, tapi untuk buku…haduuuuuuuuuuhh…sangat susah, sangat…sangat susah. Apakah termasuk konsumtif?

Setiap kaki melangkah ke tobuk, bisa dipastikan ada satu atau dua bahkan lebih, buku yang aku tenteng pulang. Belum lagi kalau lagi ada diskon, tangan pasti dipenuhi tumpukan buku, memeluk buku-buku dengan warna manis pada senyuman bibir.

Uang tinggal dikit? itu bukan jadi alasan untuk tidak membeli buku—kecuali kalo dah bener-bener tandas—seringkali jatah uang untuk makan ikut terlibas begitu keinginan pada buku memenuhi isi kepala.

“Ah…gampang ntar bisa puasa,” “Kan masih ada cemilan,” “Hmmm…sementara beli itu ditunda dulu,” selalu ada “pembenaran” kala uang menipis, namun aku sudah terpesona dengan sebuah/dua buah/lebih buku. Mengerikan. Gak jarang aku berpikir, “Apa aku “gila” dengan buku” tapi pembenaran selalu berhasil menepis dengan “Banyak koq orang kayak aku” [emang iya yah?!]

Sulit, sekali lagi sulit untuk sembuh dari penyakit “bookholic” yang mampu menguras duitku sampai ke dasar.

Sampai aku teringat sebuah pesan dari Teh Mulyani [semoga amalan beliau diterima :)] “Nafsu sebenarnya tidak hanya muncul dari perasaan, tapi juga keinginan yang tak terkendali” Jadi…Apakah aku nafsu ma buku? [Wick! ngeri amat pemilihan kata: Nafsu]

Beberapa bulan belakangan ini, aku begitu tertolong dengan ada persewaan buku [semakin menguatkan keinginan untuk punya persewaan buku :P] sedikit banyak, mampu “mengekang” liarnya keinginan terhadap buku dan sedikit banyak mampu membuat diri lebih selektif dalam memilih buku [tapi...koq tetep aja banyakeun bukunya]

Mulai sekarang, mulai belajar untuk lebih berhati-hati dengan buku. Tapi, tidak menutup kemungkinan untuk borong buku *LHO?!* hehehe…

Wednesday, December 3, 2008

When a Man Lost a Woman

Judul: When a Man Lost a Woman
Penulis: Ita Sembiring
Penerbit: Gagasmedia
Cetakan: Kedua, 2007

When a man lost a woman.

Dari judul pasti sudah tertebak apa isi buku ini. Yup, kisah para lelaki yang jadi korban wanita. Saat semua heboh dengan pelecehan atau pengkhianatan terhadap perempuan, Ita Sembiring menyajikan kepedihan itu dengan korban para lelaki. Perus, Jan Peter dan Boris, mereka tokoh utama dari banyak tokoh-tokoh wanita yang "berkeliaran".

Jan Peter menjadi korban penipuan Rasti, wanita yang menjadi istri simpanan sekaligus orang kepercayaan mengelola usahanya di Indonesia. Boris, suami yang harus berusaha menahan diri melihat istrinya selingkuh demi putranya, Jim. Perus, pria dengan banyak wanita dihidupnya, silih berganti mencari pasangan yang dapat menerima dirinya sekaligus anak-anaknya.

Penulis berketurunan Medan ini menceritakan kisah-kisah sedih dengan mengambil sisi perempuan sebagai pengkhianat, tukang selingkuh dan matre. Kehidupan, percintaan dan pergaulan bebas dengan setting tempat di Belanda disuguhkan dengan ringan, bahkan saat konflik meruncing, cerita terasa biasa saja.

Sedikit masukan, buku ini perlu untuk diberi label dewasa.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers